Could It Be Love ? | Part 1

Could It Be Love ? | Part 1

Lee Donghae | Choi Hyunri

Romance, Hurt/Comfort

Posted by Sparyeulhye

~oOo~

Aku mencintaimu—Sangat mencintaimu. Aku mencintaimu bukan dengan separuh hatiku. Aku mencintaimu dengan sepenuh hati dan perasaan yang Tuhan berikan untukku. Cintaku padamu seperti bola pejal yang tak berongga—selalu menggelinding kearahmu tanpa bisa kukendalikan. Kau selalu memberikan perhatianmu padaku.

Seperti pagi ini—kau menyambutku dengan senyuman manismu. Aku tak pernah tau apa alasanmu melakukan semua hal yang membuatku terus memupuk cintaku padamu. Segala bentuk perhatianmu padaku. Aku tak pernah mendengar ucapan ‘aku mencintaimu’ keluar dari mulutmu.

“Hyun~a, karena mobilmu sedang di bengkel. Oppa akan mengantarmu kuliah pagi ini, oppa tak yakin membiarkanmu naik bus sendirian, pulang nanti oppa akan menyuruh seseorang menjemputmu, hari ini oppa terlalu sibuk, ne?!” tanyamu.

Aku hanya mengangguk dan tersenyum kearahmu. Kau tetap memelihara janjimu pada Umma—menjagaku.  Aku terpaku menyaksikanmu dihadapanku. Menyuap sarapan pagi yang kubuatkan untukmu.

Aku suka cara makanmu yang tenang, aku suka caramu memasukkan makanan kedalam mulutmu. Aku suka semua yang ada padamu. Aku suka saat kau memberikan perhatianmu padaku. Aku suka caramu tersenyum padaku. Aku menyukaimu, anni tepatnya mencintaimu.

~oOo~

Sibuknya kuliah cukup mengalihkanku dari masalahku—masalah hati yang belum terselesaikan. Namun tak cukup mampu menghapuskan pikiranku tentangmu.

“Kau tak boleh seperti ini, Hyun~a,” suara Chanyeol—sahabatku—mengalihkan lamunanku sejenak.

“Aku harus apa? Donghae oppa sepertinya tak mencintaiku, kurasa ia masih mencintai yeojanya dulu. Dan itu sangat mengganggu pikiranku, Chanyeol~a.” rutinitasku selama aku menjalani hidupku bersama pria itu—Lee Donghae adalah berkeluh kesah pada Chanyeol tentang masalahku.

Dia adalah pendengar yg baik setidaknya rahasiaku aman ditangannya. Rahasia terbesarku yg hanya dengannya aku bisa membaginya. Mencintai pria itu-Lee Donghae- yg telah menjadi suamiku semenjak 8 bulan yang lalu. Dan sialnya aku terjebak dengan perasaanku sendiri.

“Mana boleh kau berspekulasi sendiri. Kalau tak mencintaimu, kenapa Hyung mempertahankan rumah tangga kalian selama ini.” ungkap Chanyeol.

Ku rasa ucapannya ada benarnya juga. Kenapa ia tetap bertahan denganku kalau tak mencintaiku? Harusnya ia sudah menceraikanku sejak dulu—mengingat kepergian Umma beberapa bulan lalu. Dan harusnya tak ada penghalang ia melakukan itu padaku, kan? —Menceraikanku.

“Ia hanya melaksanakan janjinya pada Umma. Lagipula ia tak pernah mengatakan mencintaiku, kau tahu sendirikan betapa penting kata itu ?” ucapku sedih.

“Kadang cinta tak perlu di ucapkan dengan kata-kata, Hyun~a. Mungkin saja suamimu itu menganut paham itu. Kau tahu kan—di dunia ini ada beberapa hal yang sulit di ucapkan dengan kata-kata, termasuk cinta…”

Aku mengerti apa yang di ucapkan Chanyeol ada benarnya, sangat mengerti. Tapi salahkah jika aku membutuhkan kata itu? Aku hanya ingin memastikannya saja, memastikan bahwa cintaku tak bertepuk sebelah tangan. -Love by one side- itu sangat menyakitkan.

“…lagipula apakah ia pernah bersikap buruk padamu? Kurasa tidak. Menurutku perhatian yang diberikan Donghae Hyung padamu bukan suatu yang dipaksakan, malahan terlihat seperti sesuatu yang tulus yang di berikannya padamu.” lanjutnya lagi.

Aku terpaku mendengarnya. Ne, ia memang tak bersikap buruk padaku, malahan teramat baik menurutku. Justru semua itulah yang membuat hatiku sakit, tercabik-cabik. Pengharapan yang kudapat selama ini.

“Lalu aku harus bagaimana sekarang? Kau mau aku mengatakan cintaku padanya, begitu? Kau pikir aku wanita apa mengatakan cinta pada pria lebih dulu !!” ungkapku kesal. Bukan maksudku melampiaskan kekesalanku pada Chanyeol—pria tak bersalahini. Hanya saja aku sudah benar-benar menyerah sekarang.

“Kalau itu perlu kenapa tidak.” ucapnya sambil terkekeh.

Ais, menyebalkan. Sama sekali tidak membantu.  “Yak!! Kau pikir aku pengemis cinta!!” teriakku kesal membuat Chanyeol mengeluarkan tawa kerasnya.

Derttt.. Derttt.. Iphone-ku bergetar. Kutatap layar digitalnya, ‘Eunhyuk Oppa’. Alisku mengernyit.

“Yebeoseyo, Oppa.”

“…”

“Nde?! Bukankah dia sibuk?”

“…”

“Arraseo.. Aku segera kesana. Annyeong..”

Pippp…

“Siapa ?” tanya Chanyeol.

“Eunhyuk Oppa, dia menjemputku.”

“Bukannya kau pulang denganku ?”

“Mian, Chanyeol~a. Kali ini aku tidak bisa.” sesalku. Ku lihat Chanyeol nampak memberengut—aku hanya terkikik geli dengannya.

“Ya sudah pergi sana!” usirnya.

Aish, anak ini.

~oOo~

Dengan santai aku melangkah keluar dari area kampus. Kulihat mobil Hyukkie Oppa sudah terparkir manis dipinggir jalan dengan pemiliknya yang menyandar disisi mobil audi hitam miliknya. Dapat kulihat Ia masih sempat-sempatnya tebar pesona pada yeoja-yeoja yang lewat dihadapannya. Aku berani bertaruh yeoja-yeoja itu akan dengan senang hati menolaknya jika sudah mengetahui sifat aslinya. Dasar monyet liar!

“Hyunri~ya!!” panggilnya sambil melambai kearahku begitu matanya menangkap bayanganku. Kenapa Donghae Oppa menyuruhnya menjemputku ?

“Masuklah ?” titahnya. Aku menurutinya dan duduk disampingnya.

“Oppa, bukannya Donghae Oppa sibuk tapi kenapa memintaku untuk bertemu ?” tanyaku heran.

“Molla, Ia hanya menyuruhku untuk menjemputmu.” Jawabnya sambil mengendikkan bahu.

Tak biasanya Ia seperti ini, kalau ada apap-apa Ia pasti membicarakannya dirumah. Apa Ia ingin membicarakan perceraian denganku? Tapi kenapa tidak dirumah saja, menurutku itu lebih baik ketimbang ditempat yang juga dipenuhi oleh orang lain. Setidaknya kalau Ia mengatakan akan menceraikanku aku tidak akan malu menangis sejadi-jadinya, maksudku tidak akan ada orang yang akan menyaksikan tangisku.

Aku takut, takut hal itu benar-benar terjadi. Aku yakin hidupku akan berantakkan jika hal itu benar terjadi. Kurasa Ia sudah terlalu bersabar menjalani hidup denganku. Mungkin saja Ia bertemu kembali dengan yeojachingunya dulu dan berniat kembali padanya.

Lalu bagaimana denganku?

Apa Ia akan meninggalkanku begitu saja?

Bagaimana dengan janjinya dulu. Janji akan menjaga dan melindungiku.

“Nah, kita sudah sampai. Turunlah. Suamimu sudah menunggumu.”ucapnya sambil mengedipkan matanya kearahku, genit.

Karena terlalu fokus dengan lamunanku anpa kusadari ternyata kami sudah sampai. Aigo, aku gugup sekali. Sebenarnya apa yang ingin Oppa bicarakan ?

“Gomawo Oppa.” Ucapku sambil padanya begitu aku sudah keluar dari mobilnya.

“Ne, cheonma. Oppa pergi dulu.”

“Tidak masuk ?” tanyaku.

“Anni, Donghae hanya menyuruhku mengantarmu.” Jawabnya sambil terkekeh membuatku mengeluarkan tawaku.

Mobil Hyukkie Oppa meluncur meninggalkan aku didepan sebuah rumah makan bergaya khas Korea. Donghae Oppa memang lebih menyukai makanan khas Korea ketimbang makanan khas negara lain.

Kukuatkan hatiku menerima apapun yang terjadi nantinya. Kau harus kuat—Hyunri~a!

Sekarang aku sudahberada didalam area rumah makan ini. Kutolehkan mataku kesegala arah, mencari keberadaannya. Dia. Disana, tengah asik mengotak-atik I-phonenya. Tubuhku rasanya begitu sulit untuk digerakkan, terlalu kaku.

Rasa sakit kembali menyerang ulu hatiku. Umma, apa yang harus kulakukan sekarang? Aku benar-benar mencintainya. Haruskah aku melepaskannya? Dan mengorbankan perasaanku sendiri.

Kupaksakan untuk tetap melangkah, percuma mencoba kabur. Matanya sudah mengangkap kehadiranku. Tersenyum padaku. Ya Tuhan, senyum itu. senyum yang selalu aku dambakan. Sanggupkah aku menerima kenyataan pahit yang akan kudapat nantinya ?

“Annyeong, Oppa..” sapaku berusaha terlihat baik dihadapannya.

Ia kembali tersenyum padaku. Ia berdiri lalu menarik mundur kursi dihadapannya, mempersilahkanku untuk mendudukinya. Mencoba bersikap romantis padaku sebelum benar-benar menyakiti hatiku.

Menyakiti ? Kau tak pantas menyalahkan dirinya. Dirimulah yang salah mencintainya. Rutukku menyalahkan diri sendiri.

“Hyunri~a, duduklah !”

“…Oppa ingin mengenalkan seseorang seseorang padamu.” Ucapnya.

Seseorang? Siapa? Yeoja, namja?

Jangan-jangan yoeja, dan Ia yang akan menggantikanku nanti. Hatiku semakit saja memikirkannya.

“Ssi..siapa Oppa ?” tanyaku putus-putus. Terlalu sulit mulutku mengeluarkan kata-kata. Lidahku rasanya kram mendadak.

“Sebentar lagi dia datang. Kau mau pesan apa ?” tanyanya sambil membolak-balik buku daftar menu.

“Terserah Oppa saja.” Jawabku pelan. Ahkan untuk menentukan  menu apa rasanya tak terpikir olehku.

“Geurae..Apa kuliahmu lancar hari ini ?” tanyanya memecah kesunyian diantara kami. Sejak tadi aku diam tak bersuara.

“Eehm..lancar, Chanyeol cukup membantuku.” Ia mengangguk menganggapi jawabanku.

Drttt.. Drttt.. I-phone miliknya bergetar. Tangannya terangkat menyentuh i-phone yang tergeletak diatas meja.

“Yeoboseyo.. Kau sudah datang ?”

“…”

“Ya, aku melihatmu,” ucapnya seraya melambai kearah belakangku. Kemudian Ia mematikan sambungan telfonnya.

Dapat kudengar derap langkah kaki mendekat kearah meja kami. Semakin dekat.

“Mianhae, Oppa. Aku terlambat. Taksi yang kutumpangi mengalami kendala dijalan,” suara seorang yeoja yang terdengar dari arah belakangku

Suara yeoja? Ya Tuhan, aku semakin takut saja. Mataku membulat, kutundukkan kepalaku dalam. Jantungku rasanya berhenti berdetakdalam sekejap. Dadaku sesak membayangkan analisaku beberapa saat yang lalu.

Jika Oppa benar-benar melakukannya padaku   menceraikanku. Dan memilih wanita itu, Tuhan ijinkan aku melepas hatiku. Aku tak ingin merasakan sakit. Ijinkan aku tak mempunyai perasaan lagi, cabut semua dari diriku.

Umma, aku ingin menyusulmu. Nafasku tercekat mendengar yeoja itu memanggilnya dengan nada yang sangat akrab. Seolah sudah saling dekat. Eotteokkae, Umma~a ?

=TBC=

Advertisements

2 thoughts on “Could It Be Love ? | Part 1

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s