Could It Be Love ? | Part 2

Could It Be Love ? | Part 2

Lee Donghae | Choi Hyunri

Romance, Hurt/Comfort

Posted by Sparyeulhye

~oOo~

Mianhae lama nunggunya yeobo @dhharu143. Ini nyambung nggak sama sebelumnya? diriku kurang ngeh sama yang ini ==’

~oOo~

Dulu aku selalu membayangkan sebuah pernikahan yang romantis dengan pengantin pria yang selalu menatapku penuh cinta. Mengucap janji setia dihadapan semua orang yang hadir kemudian memberikan ciuman kepemilikannya. Lalu aku akan memeluk tubuhnya karena malu—itu dulu sebelum hidupku menjadi seperti ini. Dan aku hanya bisa tersenyum miris tiap kali mengingat hayalan masa kecilku.

Aku tidak begitu mengerti dengan jalan kehidupan yang Tuhan berikan padaku. Aku merasa hidupku sangat menyedihkan ditinggalkan orang-orang yang kucintai kemudian menikah dengan seseorang yang tak mencintaiku—rasanya itu sungguh menyedihkan. Mungkin akan berbeda rasanya jika saja pria itu mau sedikit saja memberikan hatinya untukku—mungkin aku akan merasa bahagia jika itu terjadi.

Kemarin adalah hari dimana aku merasa duniaku seperti runtuh seketika—saat Ia mengajakku ke suatu tempat dan aku dengan bodohnya menganggap itu adalah kebahagiaan lain yang Ia berikan padaku—membawaku pergi dengannya. Ditempat itu Ia mengenalkanku pada seseorang yang tak kukenal.

Tanpa bertanya pun aku cukup tahu ada sesuatu yang lain dalam hatinya—ketika Ia menatap mata gadis itu lembut dan tak memalingkan wajahnya ketika Ia berbicara pada gadis tersebut. Aku hanya terpaku ditempat—diam membisu. Bahkan ketika Ia bertanya padaku pun aku sama sekali tak mendengar dengan jelas. Terlalu banyak perasaan ganjal dalam pikiranku.

Cemburu—bolehkah aku mengatakannya seperti itu. Jujur saja aku cukup terkejut ketika Ia mengatakan kalau gadis itu akan menginap di apartemen kami untuk sementara waktu. Dan aku dengan bodohnya lagi hanya mengiyakan yang Ia ucapkan—aku terus merutuki keputusanku hingga pagi ini ketika mataku menangkap sosoknya didapur—yang harusnya hanya aku yang boleh berada disana.

Gadis itu terkesiap dengan kehadiranku, “Ah, mianhae. Aku memasuki dapurmu tanpa permisi padamu dulu, Hyunri~ssi,” gadis itu tersenyum canggung hampir saja Ia menjatuhkan cangkir kopinya. Kalau aku tidak salah ingat namanya Jinhye, Park Jinhye.

“Gwenchana, Jinhye~ssi. Aku minta ma’af sudah mengejutkanmu, kukira tidak ada orang didapur sepagi ini ternyata kau adalah tipe wanita yang suka bangun pagi, Jinhye~ssi.” ucapku sembari melangkah menuju pantri.

“Tidak juga, hanya saja ketika aku terbangun tengorokanku terasa begitu kering—kupikir kau tidak akan marah jika aku memasuki dapurmu—terus terang aku haus sekali,” ucapnya membuat keningku mengkerut.

“Kau berlebihan, Jinhye~ssi. Aku sama sekali tidak mempermasalahkan—“ belum selesai dengan ucapanku gadis ini langsung menyela.

“Bukan maksudku untuk menyinggungmu—hanya aku berpikir dalam sebuah rumah tangga—dapur adalah wilayah kekuasaan seorang isteri yang tidak bisa dimasuki oleh sembarang orang. Tapi aku malah lancang memasukinya padahal aku bukanlah siapa-siapa disini,” ucapnya.

Bukan siapa-siapa? Benarkah? Tapi kenapa otakku menangkapnya lain. Mungkin aku akan berpikir begitu jika saja tak melihatnya langsung. Tatapan-tatapan lembut itu selalu menghantuiku seolah mengatakan ada yang tersembunyi dari pandangan mata itu. Aku sungguh tak habis pikir dengan diriku sendiri—setiap kali mengingatnya rasa sesak selalu menderaku.

~oOo~

“Heyy!” suara maskulin yang cukup kukenal mendengung ditelingaku membuatku menoleh pada sumbernya.

Aku tersenyum pada orang yang menyapaku, “Channie~ kukira kau tidak jadi menemaniku,” Chanyeol menuju ketempat dudukku. Lalu menempatkan tubuhnya dikursi kosong persis dihadapanku.

Kami kini berada diperpustakaan kampus. Suasana sunyi sangat kentara diruangan ini. Hanya terdengar langkah-langkah kaki para pengunjung dan suara-suara orang berbicara yang terdengar pelan. Karena memang peraturannya seperti itu—tak ada keributan jika kau ingin tetap tinggal didalam.

“Sudah lama?” tanyanya.

“Tidak, baru saja.” jawabku.

Hening. Tak ada suara-suara yang terdengar dari pria dihadapanku ini—padahal biasanya Ia selalu berbicara banyak. Membuatku mendongakkan kepalaku, “Kenapa? Ada yang aneh padaku?”

“Kau terlihat seperti seseorang yang frustasi, Hyun~a. Ada apa? Kau terlihat tidak seperti biasanya,” ungkapnya.

Apa aku terlihat seperti yang dikatakan Chanyeol? Oh, bahkan Chanyeol saja bisa melihat ketidak beresanku.

Chanyeol menatapku lekat menelisik mimik wajahku—ditatap seperti itu membuatku menunduk dalam. Pria ini selalu tahu bagaimana cara untuk membuatku membuka mulut. Kadang tidak membutuhkan desakan-desakan untuk membuatku membicarakan masalahku padanya.

“Kau membuatku cemas beberapa hari ini—kau sering diam melamun jika kuajak bicara pun kadang kau tidak meresponku. Kau ada masalah? Ceritalah padaku!” Chanyeol menyipitkan matanya.

Haruskah—haruskah aku menceritakan kejadian kemarin padanya?

“Kenapa diam? Ceritalah, Hyun. Mungkin dengan kau bercerita padaku aku bisa membantu masalahmu.”

Mianhae Chanyeol~a—kau selalu menjadi tempat keliuh kesahku. Sebenarnya aku hanya terlalu takut dengan pikiran-pikiran yang kadang masuk dalam otakku. Kenyataan yang baru kutemukan membuatku berpikir betapa aku sangat banyak berharap.

“Jika kau ragu harus memulainya dari mana—mungkin kau bisa memulai dari sesuatu yang kau anggap sebagai titik awalnya,” ucap Chanyeol yang menyadari kediamanku sejak tadi.

Aku mendesah—menarik helaan nafas yang terasa begitu berat, “Channie~ aku lelah hidup seperti ini. Kau tahu sendirikan bagaimana kehidupanku setelah menikah dengannya. Awalnya aku memang ragu tapi seiring berjalannya waktu aku berpikir mungkin—mungkin akan ada sedikit harapan lebih untuk kehidupanku. Hingga kemarin Ia mengenalkan seseorang padaku. Dan kau tahu sejak hari itu aku merasa putus asa—dan kupikir semua pengharapanku telah berakhir.”

“Donghae Hyung memperkenalkanmu dengan siapa?” Tanya Chanyeol bingung.

“Seorang gadis dan sekarang gadis itu menginap diapartemen kami sementara waktu—aku juga tidak begitu tahu siapa gadis itu—aku hanya tahu gadis itu adalah teman kecilnya Donghae Oppa selebihnya Ia tak mengatakan apapun padaku.” ungkapku. Kembali aku merasakan sesak yang menyeruak dihatiku.

Chanyeol mengerutkan keningnya dan kembali bertanya padaku, “Jangan katakan kau mencurigai Donghae Hyung memiliki hubungan dengan gadis itu?”

“Salahkah aku mencurigai suamiku sendiri, Chanyeol~a? Aku merasa seorang isteri yang jahat karena berpikiran seperti itu—mungkin jika aku tak melihat kejadian kemarin pikiran-pikiran seperti itu tidak akan muncul.”

“Itu hanya dari pemikiranmu sajakan—rasanya tidak akan mungkin seorang suami membawa selingkuhannya sendiri kedalam rumahnya sedangkan isterinya sedang ada dirumah. Jika seperti itu yang ada dalam pikiranmu sekarang—” Chanyeol tersenyum menenangkanku.

Entah aku harus percaya dengan ucapannya atau tidak. Aku hanya merasa Donghae Oppa tidak jujur padaku. Sebagai seorang isteri wajar jika aku marah dengan suamiku dengan apa yang dilakukannya—walaupun Ia mengatakan gadis itu hanyalah teman kecilnya—seperti yang dikatakannya.

“—kau hanya perlu percaya padanya, Hyun~a. Bukankah sebelumnya aku juga pernah mengatakannya padamu. Jangan cepat mengambil kesimpulan dari apa yang kau lihat kadang kebenaran bisa saja tersembunyi. Sampai sekarang Ia masih mempertahankanmu—apa kau tidak bisa memahami itu?”

Haruskah aku tetap mempercayainya? Sedangkan hatiku telah tersakiti karenanya—luka itu telah menoreh hatiku. Tidak akan mudah untukku menyembuhkannya sementara sekarang luka baru kembali menyayatku.

~oOo~

Tanganku terasa pegal karena bungkusan-bungkusa makanan yang kubawa sekarang. Aku lupa jika persediaan bahan makanan telah menipis. Sepulang kuliah aku menyempatkan diri untuk berbelanja diminimarket yang tak jauh dari gedung apartemenku.

Mengingat rumah—kembali mengingatkanku pada gadis itu. Entah apa yang dilakukannya selama aku dan Donghae Oppa tak ada diapartemen. Kukira Donghae Oppa akan tetap dirumah menemani gadis itu—namun aku cukup terkejut pagi tadi melihatnya lengkap dengan pakaian kerjanya.

Kukeluarkan kunci dari tasku—biasanya Donghae Oppa akan pulang sore hari. Kudorong pelan pintu itu, lalu berjalan pelan menuju dapur.

“Eonnie, kau sudah pulang?” tanya sebuah suara yang ternyata adalah suara Jinhye.

Gadis itu melangkahkan kakinya menuju tempatku berdiri. Apa telingaku salah dengar? Dia memanggilku dengan surfiks eonni?

Melihatku diam membuat gadis itu tersenyum canggung, “Kau tidak suka aku memanggilmu eonnie? Donghae Oppa bilang umurmu terpaut satu tahun denganku—kurasa akan lebih sopan jika aku memanggilmu begitu,” jelasnya.

Aku tercengang mendengar ucapannya. Donghae Oppa menceritakan tentangku pada gadis ini? Jujur saja—ada perasaan hangat ketika aku mendengarnya. Bolehkah aku menganggapnya sebagai bentuk klaim Donghae Oppa atas diriku—sebagai isterinya?

“Tak perlu sungkan. Kau bisa memanggilku eonni—nyatanya aku memang lebih tua darimu, Jinhye~ssi.”

Gadis itu tersenyum senang, “Benarkah? Aku sangat senang mendengarnya, Eonni. Oh ya, kau mau memasak untuk makan malam nanti? Bolehkah aku membantumu?” Aku tak mengerti diriku sendiri kenapa bisa mencurigai gadis sepolos dirinya.

“Jika itu tidak merepotkanku kau bisa melakukannya.” putusku.

Senyuman riang terpoles dibibirnya, “Tentu saja tidak.”

Sekarang kami tengah berada didapur untuk memasak menu makan malam nanti. Satu hal yang baru kuketahui dari gadis disampingku ini—Ia tidak begitu lihai dalam urusan dapur jika boleh kutambahkan kemampuannya dalam memasak sangatlah payah.

“Orang-orang rumah melarangku memasuki dapur bahkan saat aku kecil Eomma melarangku membantunya memasak. Eonni pasti berpikir kemampuanku memasak sangat payah—kuakui itu memang benar. Aku selalu merengek minta diajari memasak tapi mereka selalu melarangku dan akhirnya aku akan mengurung diriku dikamar seharian.” gadis itu menceritakan tentang dirinya.

Aku cukup kaget mendengarnya bercerita tentangnya. Sebenarnya gadis seperti apa dirimu itu, Jinhye~ssi?

“Eonni, kau mencuci sayurnya terlalu lama. Itu bisa membuat kandungan vitaminnya terbuang sia-sia.” ucapnya.

Aku terkesiap dari lamunanku. “Jinhye~ssi, bisakah kau potongkan sayuran ini sementara aku menyiapkan dagingnya?” pintaku padanya.

Gadis itu mengangguk, “Tentu saja. Kau bisa mengandalkanku.”

Acara memasakku kali ini dipenuhi berbagai macam pertanyaan mengenai gadis ini. Dihadapanku Ia selalu bersikap riang—entah itu merupakan kepribadian aslinya atau tidak aku juga tidak mengetahuinya. Ia sama sekali tidak mempermasalahkan sikapku padanya yang kadang memberikan tatapan tak suka.

“Argh..,” pelan aku mendengar suara ringisan dari arah belakangku—yang merupakan tempat gadis itu berdiri.

Penasaran aku mendekat padanya, “Ada apa Jinhye~ssi?”

Aku terlonjak melihat darah segar mengalir dari jari telunjuknya. Ya Tuhan, kenapa Ia ceroboh sekali?

Dengan masih meringis gadis itu menjawab, “Tanganku teriris pisau,”

Dari suaranya aku tahu Ia kaget dengan apa yang tengah terjadi padanya—dengan sigap kutarik tangannya dan kubasuhkan keair kran yang sebelumnya telah kubuka. Gadis itu meringis perih ketika lukanya menyentuh air.

“Tunggu disini kuambilkan obat untuk mengobati lukamu,” perintahku padanya yang dibalas dengan anggukan paham darinya. Melihat wajahnya meringis sakit membuatku kasihan—gadis sepertinya tidak biasa bekerja didapur—apalagi harus sampai teriris pisau begitu.

Dengan tergesa-gesa aku membawa kotak obat yang kuambil dari kamarku hingga kudengar suara Donghae Oppa menyapaku dari arah pintu depan.

“Hye~ya! Kau terlihat buru-buru, ada apa?” dengan wajah lelah yang terpancar diwajahnya Ia bertanya padaku.

Aku berhenti melangkah untuk menunggunya selesai bicara padaku. Kemudian ia mendekat kearahku.

Keningnya mengernyit bingung, “Kau terluka?” tanyanya.

“Bukan aku. Jinhye teriris pisau, aku berniat mengobatinya sebelum—“ kata-kataku terpotong oleh suara cemas Donghae Oppa.

“Apa? Jinhye terluka? Dimana dia sekarang?” tanyanya dengan nada cemas.

Aku cukup kaget dengan perubahan yang terjadi pada Donghae Oppa sekarang. Beberapa detik lalu ia masih berbicara dengan nada biasa namun ketika mendengar gadis itu terluka—yang sebenarnya hanya luka kecil membuatnya terlihat cemas berlebihan.

Apa kau tidak sadar sikapmu membuatku terluka, Oppa? Bahkan lebih sakit dari apa yang gadis itu rasakan sekarang. Jika aku bisa aku akan meneriakkan kekecewaanku padamu—atas sikap yang kau tujukan padaku.

Dengan suara pelan aku menjawab, “Dia ada didapur.”

Donghae Oppa mengambil kotak obat yang berada ditangankanku—lalu dengan berlari menuju dapur. Sementara aku terdiam mematung menyaksikan kepergiannya—menatapnya dengan pandangan nanar. Kenapa? Kenapa kau begitu mengkhawatirkannya, Oppa? Kau begitu takut ketika aku mengatakan gadis itu terluka. Apa kau takut kehilangannya, Oppa? Bodoh. Hanya dengan luka kecil mana bisa membuatnya menghilang dari dunia ini. Ingin sekali aku menyuarakan itu padamu.

“Bukankah aku sudah bilang jangan sekalipun menyentuh benda tajam? Kenapa kau tidak menghiraukan perkataanku. Kau tahu betapa khawatirnya mendengarmu terluka, Hye~ya.” sayup-sayup aku mendengar pembicaraan mereka. Kuremas dadaku—rasanya begitu sakit disini. Kau lebih mengkhawatirkan gadis itu terluka ketimbang aku—isterimu sendiri yang telah kau lukai perasaannya tanpa kau sadar.

“Ini hanya luka kecil. Kau tak perlu khawatirkan aku, Oppa.”

Kulihat Donghae Oppa memberikan antiseptik pada jari telunjuk Jinhye—lalu menutupinya dengan plester untuk luka. Apa kau tidak peduli dengan luka dalam diriku, Oppa? Apa kau juga akan bertindak seperti sekarang jika aku yang terluka? Jika saja kami sama-sama tenggelam dilaut siapakah orang pertama yang akan kau selamatkan. Aku—atau gadis dihadapanmu itu?

=TBC=

Advertisements

9 thoughts on “Could It Be Love ? | Part 2

  1. Babi, ku mau nanya, hyunri sma donghae it tidur stu kmar? Seranjang ga? Klox stu kmr psti ad interaksikan.. Nanti komunikasi antara hyunri dn donghae d.bnyakkin….kkkkk

    • chapt dpan bkalan gw bykin haehyunnya..mengenai Jinhye siapa trs apa hubungan die sm Donghae d.jlskan dchapt brkutnya..bwuahaha..dan prtanyaan.a chapt brikut.a itu kpn saia tdk tau XDD

  2. Aku percaya klo Dong Hae oppa ma Jinhye ga ada hbungan apa-apa selain sahabat.
    *SokTau

    Yang jelasnya, pasti ada cerita dibalik perhatian Dong Hae ke JinHye. Apalagi JinHye kan couple-nya Kyu. wkwkwkw

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s