Complete

Title: Complete

Author: Sparyeulhye

Genre: Gaje

Cast: Cho Kyuhyun, Park Jinhye, Cho Seokhyun

***

Hanya sedikit kegajean saya ditengah malam. Ini semacam serial dari Abnormal Family, nanti bakalan ada cerita-cerita lainnya dari keluarga aneh ini ==’

***

“Appa!!” Seok-hyun menarik-narik ujung kemeja yang dikenakan Kyu-hyun membuatnya mengalihkan pandangannya pada makhluk kecil disampingnya itu.

Kyu-hyun menunduk menyejajarkan tubuhnya dengan makhluk penerusnya itu. mengusap lembut pucuk kepala Seok-hyun, membuatnya mengerjap-ngerjapkan matanya lucu. Anak itu selain berperangai seperti sang ayah Ia juga terlihat sangat lucu jika sedang berwajah polos—lihatlah seperti yang dilakukannya sekarang.

“Wae, Seok-hyunnie ?” tanya Kyu-hyun lembut sembari terus mengusap kepala Seok-hyun penuh sayang.

Kyu-hyun merentangkan tangannya membawa anak kecil itu dalam gendongannya, Seok-hyun bergerak-gerak meronta digendongan Kyu-hyun. Sementara Kyu-hyun hanya tertawa geli menanggapinya. Kyu-hyun beranjak menuju sofa diruang tamu masih dengan Seok-hyun dalam gendongannya. Anak itu berteriak-teriak minta dilepaskan namun Kyu-hyun tetap mempertahankannya.

“Appa! Turunkan aku!” Seok-hyun merengek.

“Kau semakin berat saja, Seok-hyunnie. Terakhir kali appa menggendongmu kau tak seberat ini.”

Seok-hyun memajukan bibirnya menatap sang ayah yang sudah sampai pada sofa. Menghadapkan tubuhnya pada ayahnya. “Umma bilang aku harus banyak makan agar cepat besar tapi aku benci makanan yang diberikan umma padaku, appa.” adunya.

Kyu-hyun tersenyum menyaksikan buah hatinya yang kini sudah beranjak besar dulu Ia masih ingat ketika Seok-hyun masih bayi—Ia akan dengan senang hati terus menggendongnya walaupun Jin-hye melarangnya melakukan itu dengan alasan Ia takut jika Kyu-hyun menjatuhkan anaknya. Saat itu Kyu-hyun sangat kesal pada Jin-hye dengan alasan bodohnya itu.  Dan dengan sedikit paksaan juga akhirnya Jin-hye mau melonggarkan peraturannya pada Kyu-hyun—mengingat pria itu mulai menceramahinya dengan kalimat-kalimat yang menurutnya sangat vulgar. Kyu-hyun tertawa menang menyaksikan Jin-hye meneriakinya dengan kata mesum hal itu menunjukkan Ia menang dalam perdebatan itu.

“Kau memang harus makan yang banyak untuk pertumbuhanmu,” jiwa seorang ayah Kyu-hyun mulai terlihat. Jika biasanya Ia bersikap seperti iblis namun kali ini tidak—tidak dihadapan anaknya. Ia ingin meunjukkan pada anaknya bahwa Ia adalah seorang ayah yang baik—yang perhatian pada anaknya.

“Anhiya, umma memberiku makanan kambing itu lagi, appa. Aku ‘kan tidak suka kenapa umma terus memberiku makanan itu.”

Kyu-hyun terkekeh, “Jja. Bagaimana kalau sore ini kita makan es krim diluar? Eotte, kau mau?” tawar Kyu-hyun.

Mata Seok-hyun nampak berbinar senang, “Ne. Aku mau, appa!” sahutnya ceria.

Kyu-hyun menyeringai, pikiran busuk mulai muncul dalam otaknya. Huh, tetap saja jiwa iblisnya tak ‘kan pernah hilang. “Bujuk umma-mu agar mau mengijinkan kita keluar rumah. Kalau kau berhasil appa akan membelikanmu makan es krim sepuasnya. Eotte, Seok-hyunnie?” ucap Kyu-hyun. Tentu saja pria itu tak akan mudah menghadapi Jin-hye jika Ia tidak menggunakan anaknya sebagai senjata andalannya. Wanita itu tak akan membiarkan mereka keluar rumah dicuaca yang seperti ini, memasuki musim gugur cuaca yang mulai mendingin. Ia tak ingin mengambil resiko kedua laki-laki tercintanya itu jatuh sakit—yang tentu pada akhirnya akan merepotkan dirinya.

Seok-hyun mengangguk setuju, “Arra. Tapi appa janji, kan?” tanyanya dengan mata yang menyipit membuat Kyu-hyun terkekeh kecil dengan kelakuan sang anak. Seok-hyun nampaknya meragukan ucapan ayahnya.

Kyu-hyun mencubit pipi tembem milik Seok-hyun, “Tentu saja. Tapi jika kau berhasil membujuk umma-mu.” ingatnya lagi yang dibalas anggukan mantap dari Seok-hyun.

***

Seok-hyun berjinjit kecil meraih gagang pintu kamar didepannya. Tangan mungilnya dengan pelan menekan dan mendorongnya kearah depan. Pintu bergeser sedikit menampilkan tatanan kamar yang tersusun rapi. Sebuah ranjang dengan seprai putih disamping kirinya terdapat sebuah lemari besar yang berdekatan dengan jendela menampilkan pemandangan luar rumah kediaman keluarga tersebut.

Mata Seok-hyun menoleh kepenjuru arah mencari orang yang menjadi tujuannya memasuki kamar tersebut. Ia tersenyum senang begitu menangkap sosok tubuh yang tengah duduk dibelakang meja kecil yang tengah membelakanginya. Perlahan Seok-hyun mulai menapaki kakinya yang dibalut sandal rumah berwarna cokelat.

Cupp—Seok-hyun mendaratkan ciuman dipipi kiri Jin-hye membuat wanita itu terkesiap kaget. Seok-hyun menyengir kepada sang ibu dan beringsut ketubuh wanita itu. Jin-hye tersenyum simpul lalu mengecup pelan permukaan bibir mungil Seok-hyun. Seok-hyun tidak menolaknya justru semakin merapatkan tubuhnya memeluk ibunya.

“Kau mengagetkan umma, sayang.” diusapnya pipi tembem buah hatinya itu. “Membutuhkan sesuatu?” tanyanya lembut.

“Umma sibuk?” Seok-hyun melihat kearah meja yang dipenuhi dengan buku-buku—yang tak Ia pahami.

“Hanya sedikit pekerjaan kecil. Wae irae?” Jin-hye menggeser sedikit kursi yang didudukinya kemudian memiringkan tubuhnya kearah Seok-hyun. Menangkup kedua sisi pipi Seok-hyun, Jin-hye tersenyum mata anak ini mengingatkannya pada seorang pria yang sangat dicintainya—ayah sang anak. Mata mereka begitu mirip bahkan ketika Ia tersenyum wajah itu persis seperi salinan sang ayah. Hanya pipi tembamnya yang membuatnya terlihat lebih menggemaskan dan hidung lurus miliknya yang membuat Jin-hye semakin yakin jika gen Cho Kyu-hyun memang mendominasi pada anaknya ini.

“Umma bukankah sudah lama kita tidak pergi makan es krim bersama, aku sangat ingin kita melakukannya lagi, sepertinya appa sedang tidak sibuk hari ini,” ucap anak itu.

“Kau ingin pergi kita bersama? Em, kedengarannya menarik makan es krim dicuaca dingin. Apa kau sudah mendiskusikannya dengan appa-mu?” tanya Jin-hye menyipitkan matanya. Jin-hye sangat mengenal dua lelaki yang dicintainya itu. Makan es krim dicuaca dingin? Demi Tuhan, Jin-hye lebih senang mengurung mereka berdua dirumah seharian daripada harus melihat kedua lelaki itu dengan hidung memerah dan merengek padanya nantinya. Ia berani bertaruh itu akan membuatnya lebih kerepotan. Mengurus dua lelaki yang sakit secara bersamaan—itu bukanlah ide yang baik.

Seok-hyun memutar otaknya—berpikir keras. Bagaimanapun Ia tidak mungkin mengatakan kesepakatan yang sudah dilakukannya dengan ayahnya. “Engh, kurasa appa akan setuju jika umma mengajaknya. Ah! Tidak. Biar Seok-hyun saja yang bicara pada appa, umma setuju ‘kan?” tanya Seok-hyun penuh harap.

“Tidak.” jawab Ji-hye singkat.

“Hanya makan es krim kenapa tidak boleh,” Seok-hyun menggerutu.

“Tidak dalam cuaca seperti ini, Cho Seok-hyun sayang, umma tak ingin kalian sakit nantinya,” ucap Jin-hye melembut.

Bunyi pintu berderit mengalihkan keduanya pada arah yang sama. Pintu terbuka nampak Kyu-hyun dari arah depan menuju tempat Seok-hyun dan Jin-hye berada. Kyu-hyun tersenyum pada anak dan ibu itu sementara Jin-hye mendelik padanya seolah mengatakan ‘Apa yang kau katakan pada anakku’.

Kyu-hyun terkekeh kecil, “Kau bisa kehilangan matamu, Hye~ya.” candanya dengan seringaian yang terukir dibibirnya.

“Kyuhyun~a, aku tak mengijinkan kalian pergi jika itu yang ingin kau bicarakan padaku,” ucap Jin-hye saat Kyu-hyun menatap kearahnya.

Kyu-hyun hanya tersenyum menanggapinya lalu mengacak-ngacak lembut rambut Seok-hyun yang sejak tadi diam cemberut. Anak itu kesal pada ibunya.

“Ayolah, Hye. Hanya makan es krim, Seok-hyun ingin kita pergi bersama. Apa kau tega merusak rencana manisnya?” seringai Kyu-hyun.

“Kau lebih senang berdiam diri dirumah sampai berdebu daripada pergi dengan dua lelaki tampanmu ini, euh?” tanya Kyu-hyun lengkap dengan seringainya.

Jin-hye sangat ingin menjambak wajah angkuh itu jika tidak ada Seok-hyun didekatnya. Ia tak ingin merusak sisi keibuannya dihadapan anaknya itu.

Seok-hyun? Jangan tanya bagaimana wajahnya sekarang. Wajah ditekuk, bibir yang manyun kedepan belum lagi pipi tembemnya yang membuatnya terlihat sangat lucu—membuat hati jin-hye tersentuh. Jinhye menatap anak itu lembut sementara Kyu-hyun—seringai kemenangan tercetak jelas diwajahnya. Ia tahu Jin-hye tak akan tega dengan anak semata wayangnya jika Ia sudah menunjukkan sikap ngambeknya. Sisi keibuannya akan membuatnya luluh.

Jin-hye menarik nafasnya, “Baiklah, kita pergi.” putusnya.

Mendengar itu Seok-hyun memekik girang lalu memeluk ibunya, “Aku sayang umma,” ucapnya.

“Bagaimana dengan appa, Seok-hyunnie?” tanya Kyu-hyun.

Seok-hyun nyengir, “Aku juga menyayangi appa,” ucapnya.

Jin-hye mendengus, “Benar-benar seorang Cho Kyu-hyun,” ucapnya dalam hati saat melihat tingkah sang anak yang bersikap manis jika yang diinginkannya tercapai.

Jin-hye memberikan ciuman singkat pada bibir mungil Seok-hyun, Ia tak melihat jika sekarang Kyuhyun menyeringai.

“Kau tak ingin memberiku ciuman manis juga, Hye~ya?”

Jin-hye mengarahkan death-glarenya pada Kyu-hyun, “Diam atau aku akan membatalkannya, Cho Kyuhyun!” ancamnya. Kini giliran Kyu-hyun yang mendengus kecewa.

=END=

Advertisements

13 thoughts on “Complete

  1. Akhh jadi ingin punya ank kya seok hyun, tapi maslahnya AKU TIDAK SUKA DGN ANAK KECIL… Bgaimna nnti hdupku dgn donghae, donghae yg amat suka dgn anak kecil dn aku yg tidak..*curcol*

  2. Seru kali ya punya keluarga kayak gitu. Tapi aku sama kayak Husnul *sokAkrab* GAK SUKA ANAK KECIL, pake banget!
    Huaaaaaaa… JongWoon oppa, gimana ini?

  3. Aigooo, seokhyun kalo lagi ngambek aegyo-nya keluar hehe ngebayangin dia kayak gitu jadi gemes, gimana jinhye ga luluh coba. Dan kyuhyun bener pandau memanfaatkan situsai haha evilkyu xD

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s