Love Like This

Title: Love Like This

Author: Sparyeulhye

Genre: Romance/Hurt/Comfort

Cast: Cho Kyuhyun, Park Jinhye

LLT

***

Jinhye mencintainya—dan rasanya tak ada yang salah dengan hal itu. Tapi kenapa pria itu terlihat sangat membencinya, mengacuhkannya—tak menganggap keberadaannya seperti halnya debu yang biasa bertebaran disekitar. Bahkan untuk melirik sedikitpun tak pria itu tunjukkan. Bukan Jinhye jika Ia menganggap itu sebagai halangan untuknya. Baginya bisa menatap pria itu, menyaksikan pria itu berlalu dihadapannya adalah suatu yang cukup untuk menutupi rasa sukanya pada pria itu.

***

Jinhye menapaki satu persatu anak tangga rumahnya hingga terdengar bunyi pantulan antara lantai dengan sepatu flat yang dikenakannya. Sesekali melirik jam tangan yang melekat dipergelangan tangan kirinya. Masih cukup waktu untuk mengisi perutnya dengan sarapan pagi. Salahkan dirinya sendiri yang terlalu lelap tidur hingga lupa jika Ia ada perkuliahan paginya.

Jinhye meletakkan tubuhnya pada salah satu kursi dimeja makan. Matanya menangkap sepiring roti yang disediakan untuknya. Sebuah suara lembut menyapanya dipagi hari, “Kuliah pagi lagi ?” Jinhye menyingkir sedikit mempersilahkan seorang wanita yang sudah berumur itu meletakkan segelas coklat panas dihadapannya.

Jinhye tersenyum ramah pada wanita itu, “Ne, gomawo sarapannya, ahjuma.” wanita itu tersenyum balik.

Jinhye meraih gelas susu yang disediakan untuknya, meneguknya hingga tersisa separuh dari isinya. Kemudian Ia kembali menjejalkan potongan-potongan roti kedalam mulutnya—lalu meneguk sisa minumannya untuk memudahkannya menelan sarapannya. Wanita yang berada disampingnya terlihat menatapnya khawatir, “Pelan-pelan nona, kau bisa tersedak.” nasehatnya. Wanita itu sudah seperti ibuya sendiri, selalu memperhatikannya dan memberi kasih sayang layaknya seorang ibu pada anaknya. Bukan suatu hal yang baru jika Ia terlihat menghawatirkan Jinhye.

Jinhye meletakkan kembali gelas yang telah kosong kemudian menyambar tas selempangnya yang diletakkannya diatas kursi disamping tempat duduknya. “Sudah tidak ada waktu lagi, aku berangkat dulu ahjuma.” pamitnya. Wanita itu mengeleng-gelengkan kepalanya melihat kelakuan nonanya itu. Begitu lama mengabdikan hidupnya pada keluarga ini membuatnya memiliki keterikatan tersendiri pada gadis yang sejak kecil diasuhnya itu. Tidak salah jika Jinhye lebih nyaman berada didekatnya ketimbang ibunya sendiri—yang terlalu sibuk dengan urusannya yang dianggapnya untuk kepentingan Jinhye kelak.

***

Bukk..

“Ah, mianhae aku tidak sengaja.” ucap Jinhye penuh penyesalan.

Jinhye mendongakkan wajahnya melihat orang yang telah ditabrak olehnya. Matanya membulat begitu mengetahui siapa itu, kemudian mengigit bibir bawahnya gusar. Kenapa harus bertemu orang itu dengan cara seperti ini, sesal Jinhye dalam hati. Pria itu menatapnya tajam seolah mengatakan apa yang telah kau lakukan padaku. Tatapan yang mampu membuat Jinhye seakan mati ditempat. Siapa yang tidak akan gugup bertemu dengan orang yang disukai, akan lebih menyenangkan jika orang itu menunjukkan rasa simpati atau sekedar mengucapkan ‘apa kau baik-baik saja’ —bukan seperti yang pria itu lakukan, mendelik tajam.

“Harusnya kau lebih menggunakan matamu dengan baik,” sindir pria itu tanpa peduli perasaan Jinhye.

Disaat Ia harusnya merasa senang bertemu pria itu—Ia justru merasa sebaliknya. Pria itu mengucapkan kata-kata yang membuat Jinhye meringis, haruskah Ia mengucapkannya. Pria itu benar-benar tak peka dengan perasaan wanita. Pada gadis seperti Jinhye saja Ia bisa melakukan hal menyakitkan seperti yang dilakukannya. Entah apa yang ada dipikirannya ketika mengucapkan kata-kata tajam, mungkin baginya itu hal biasa namun tidak bagi gadis itu. Baginya yang dilakukan pria itu bisa saja menorehkan luka dihatinya. Namun Jinhye tak bisa menampik rasa sukanya pada pria itu kadang bisa membuatnya lupa akan hal yang dilakukan pria itu padanya.

Jinhye kembali membungkuk untuk meminta maaf, “Aku minta maaf Kyuhyun~ssi, aku sungguh-sungguh tidak sengaja,” ini sudah kesekian kali ucapan maaf yang terlontar dari mulutnya.

Kyuhyun tampak tak peduli dengan apa yang dilakukan Jinhye, Ia justru melenggang meninggalkan tempat itu. Meninggalkan Jinhye yang masih menundukkan kepalanya takut. Jinhye memandangi sosok yang mulai menjauh darinya itu, terpikir kembali olehnya kenapa pria itu begitu membencinya. Ia menunjukkan sikap baiknya dengan meminta maaf namun seperinya bagi Kyuhyun itu hanya membung waktunya dan lebih memilih menjauh dari gadis tersebut.sepertinya Jinhye menaruh cinta pada orang yang salah.

“Hei,” seseorang menepuk pelan punggungnya, “Apa yang kau lakukan? Kenapa tidak langsung masuk kelas?” tanya orang itu yang ternyata Jieun—temannya.

Jinhye terkesiap, “Ne, anhiya. Ini juga mau masuk, kok.” jawabnya. Jieun memandangnya aneh kemudian menolehkan kepalanya kesegala arah mencari tahu apa yang menjadi focus temannya itu. namun nihil Ia sama sekali tak menemukan hasil.

Jieun mengedikkan bahunya, “Jja! Kita masuk, sebentar lagi Dosen tampan kita menuju kesini.” Jieun mengedipkan matanya menggoda membuat Jinhye tertawa geli. Temannya ini menggilai dosen muda mereka yang memang cukup tampan.

***

“Kau masih menyukai pria itu?” tanya Jieun, saat ini mereka tengah menikmati makan siang dikantin kampus. Hanya Jieun yang tahu bahwa Ia menyukai Cho Kyuhyun—ah lebih tepatnya mencintai pria itu.

Jinhye menghentikan aktivitas menyuapnya lalu menatap Jieun, “Sampai saat ini aku belum merasa menyukai orang lain,”

Jieun mengangguk-anggukkan kepalanya seolah sedang menafsirkan sesuatu, “Aku salut padamu, Jinhye~a. Kau masih menyukai pria itu padahal Ia selalu mengacuhkanmu, ah kau ‘kan sangat mencitainya.” ralatnya.

“Kau tahu sendiri ‘kan bagaimana aku, walaupun Ia tak menunjukkan ketertarikannya padaku entah kenapa rasanya begitu sulit melupakannya. Aku sendiri merasa sangat bodoh dengan sikapku tapi mau bagaimana lagi aku tidak bisa berbuat apa-apa dengan perasaanku padanya.” Jinhye tersenyum miris.

“Sampai kapan?” tanya Jieun. Kening Jinhye mengkerut. “Sampai kapan kau akan bertahan?”

Jinhye menghela nafasnya berat, “Jika kau bertanya seperti itu aku sendiri tidak tahu jawabannya. Sampai saat ini aku masih merasakannya, jantungku berdegup kencang ketika berada didekatnya. Atau ketika suatu saat pikiranku selalu terfokus padanya. Itu sungguh menyiksaku, tapi aku tidak pernah menyesal mencintai pria sepertinya.”

“Susah juga jika kau sudah terpaut erat pada seseorang dan sialnya pria itu adalah seorang yang—yah kau tahu sendirilah. Jika aku jadi kau, aku sudah membuat mukanya tidak berbentuk lagi. Membenturkan kepalanya kedinding dan mengatakan padanya ‘kau pria brengsek sialan!’ —lalu aku akan menertawakannya dengan puas.”

Jinhye tersenyum mendengarnya jika Jieun bisa melakukan hal itu—tidak bagi dirinya. Ia akan dengan mudah memaafkan dan akan kembali memberikan cintanya. Seperti halnya seseorang yang sudah terbiasa mudah untuk melupakan bahkan jika terjadi berulang kali. Suatu waktu mungkin Ia akan tersakiti namun dilain waktu muncul perasaan lain yang akan menutupinya. Sebagian hatinya tersakiti namun tak lebih banyak dari bagian hatinya yang mencinta orang tersebut.

***

“Dia gadis yang cantik,” puji Changmin membuat Kyuhyun menatap kearahnya.

Kyuhyun mendengus, “Kau hampir menyebut semua wanita cantik, Shim Changmin. Seleramu sama sekali tidak menarik.” Kyuhyun mencibir.

“Aku hanya mengatakannya pada wanita yang benar-benar cantik, Cho Kyuhyun. Justru aku meragukan seleramu, kau sama sekali tidak menunjukkan ketertarikan dengan gadis-gadis.” Ucap Changmin membuat Kyuhyun menatapnya tajam.

Kyuhyun menyipitkan matanya menatap Changmin, “Kau mengataiku tidak normal,” aura membunuh menguar dari dirinya. Sementara Changmin menatapnya menantang, baginya ditatap seorang Cho Kyuhyun seperti itu tidak akan menciutkan nyalinya. “Jika aku tidak normal maka kau adalah pasanganku yang selalu berada didekatku,” Kyuhyun menyeringai.

“Aku lebih memilih orang lain ketimbang dirimu, karena aku sudah mengetahui seberapa busuk dirimu,” sahut Changmin dengan seringai kemenangannya.

“Dan kau lebih busuk dariku,” Kyuhyun menyahut tak mau kalah.

Changmin menyeringai sinis, “Kau pria busuk yang pandai memanipulasi, benarkan?” ungkapnya.

Kening Kyuhyun terangkat sedikit, kemudian tersenyum tipis. Dalam hatinya Ia mengerti apa maksud perkataan Changmin. Ia menyadarinya namun terlalu takut untuk mengakui hal itu. Ia ragu dengan dirinya sendiri—ketakutan yang menyergap pikirannya. Selalu saja Ia berusaha menampiknya—membuangnya jauh-jauh, menganggapnya sebagai sesuatu yang mustahil bagi dirinya. Tak bisa dipungkiri Kyuhyun menginginkannya—menginginkan gadis itu. Seseorang yang mampu membuatnya masuk dalam kehidupan yang lain, yang dulu tak pernah Ia rasakan sama sekali. Seseorang yang bisa membuatnya hilang kendali hanya dengan sorot matanya yang lembut walaupun sering kali Ia membuat sang pemilik mata menunduk takut.

***

Dengan segala keberaniannya, Jinhye menatap mata tajam pria dihadapannya ini. Sebelumnya Ia sempat merasa ragu berhadapan langsung seperti sekarang. Ragu bahwa pria itu mau mendengarkannya—atau justru mengacuhkannya, lagi. Jinhye tak begitu yakin dengan apa yang dihadapinya kini. Pria itu berada dihadapannya, tidak pergi meninggalkannya seperti yang biasa Ia lakukan. Walaupun  raut wajah dingin dan datar masih kentara dipermukaan wajahnya.

“Jika kau hanya membuang waktuku lebih baik kau pergi sekarang,” ancam pria itu.

Sebelum pria itu beranjak, Jinhye menangkap pergelangan tangannya. “Aku hanya ingin bicara denganmu, Kyuhyun~ssi,” ucapnya dengan pandangan memohonnya. “Hanya sebentar,” tambahnya lagi begitu menangkap aura tak suka dari pria itu.

Kyuhyun terdiam sejenak menatap Jinhye—kali ini dengan sorot mata yang berbeda. Sorot kelembutan mungkin tidak seperti Jinhye yang memandangnya dengan tatapan penuh cinta miliknya. Dalam otaknya Kyuhyun berusaha untuk mengacuhkannya—seperti yang lalu meningalkannya begitu saja. Namun tidak kali ini, Kyuhyun sendiri tak memahami kenapa tubuhnya seolah menolak rangsangan saraf diotaknya. Ia justru kali ini tak menginginkan meninggalkannya lagi. Dan Ia tak bisa mengerti ketidaksinkronan otak dengan tubuhnya kini.

“Aku mencintaimu,” ucap Jinhye dengan menekan semua rasa malunya pada pria itu. Jinhye melepaskan udara yang terasa penuh diparu-parunya ketika mengucapkan itu. Rasa sesak yang mengekangnya sejak tadi kini mulai berkurang.

“Lalu?” sahut Kyuhyun setelah terdiam sejenak.

Bodoh! Kenapa kata itu yang keluar dari mulutnya?

Jinhye menggigit bibir bawahnya menahan air matanya. Ayolah, siapa yang akan tahan saat mengucapkan cinta justru hanya ditanggapi seperti tak terjadi apa-apa.

“A—aku..” hanya dihadapan seorang Cho kyuhyun Ia menjadi gadis yang gagap dalam berbicara. Jinhye telah mengira Kyuhyun akan menunjukkan sikap tak sukanya lagi.

“Hentikan omong kosongmu, aku tak ingin mendengarnya,” ucap Kyuhyun angkuh.

Jinhye menatapnya nanar, sementara pria itu masih bertahan dibalik wajah datarnya yang angkuh. “Aku tak pernah bermain dengan ucapanku sendiri, Kyuhyun~ssi. Apa yang kukatakan itulah yang kurasakan.”

Kyuhyun menyeringai, “Kau membuatku cukup terkesan, aku ragu kau mengenalku dengan baik pantaskah kau mengucapkan kata cinta pada orang yang tak kau kenal.”

“Aku tahu kau. Aku—“ sebelum sempat menyelesaikan ucapannya Kyuhyun justru menyelanya.

“Apa yang kau tahu tentangku? Selain namaku, kau tak benar-benar mengenalku. Kau mengetahui diriku hanya dari sisi pikiranmu selebihnya kau tak benar-benar mengetahuinya.”

Jinhye terkesiap mendengarnya, baru kali ini Kyuhyun berbicara banyak padanya. Ia memang tak mengenal pria secara mendetail—seperti yang dikatakan pria itu, Jinhye mengetahui namanya, jurusan perkuliahan yang diambilnya selebihnya—kebiasaan pria itu, makanan yang disukainya dan hal yang dibencinya Jinhye tak benar-benar mengetahui sampai mendalam selain pria itu senang makan jjajangmyeon yang biasa dipesannya dikantin kampus.

“Aku memang tak mengenalmu dengan baik. Aku mengatakan aku mencintaimu—secara tak langsung aku menawarkanmu sebuah hubungan lebih jauh denganmu dan kau tahu dalam sebuah hubungan dalam berjalannya waktu kita bisa saling mengenal.”

“Kenapa kau menginginkanku?” kening Jinhye mengkerut. “Kanapa kau tidak memilih orang lain?”

“Aku tak merasakan perasaan terhadap orang lain seperti yang kurasakan padamu,”

“Kenapa kau begitu yakin aku tak akan menyakitimu seperti yang pernah kulakukan padamu?” suara Kyuhyun memelan saat mengucapkannya.

“Karena aku mencintaimu,” jawabnya yakin.

Kyuhyun memandang lurus kearah Jinhye, “Kau terlalu naif.”

Jinhye mendongakkan wajahnya yang tertunduk memandang lurus kearah Kyuhyun yang juga tengah menatapnya.

“Kau tak akan mengerti. Kau hanya akan terluka jika kau bersamaku.” Kyuhyun berusaha menekan keinginannya pada sang gadis. Dalam hatinya Ia menginginkan Jinhye disisinya—bersamanya. Namun sekali lagi ketakutannya membuatnya harus membuang pikiran itu jauh-jauh.

“Buat aku mengerti hal itu, Kyuhyun~ssi. Beri aku kesempatan untuk mengerti tentangmu, jika kau membuatku terluka aku akan tetap bertahan disampingmu.”

“Jangan bodoh! Kau tidak akan sanggup.”

“Kau pikir berapa lama aku bertahan dengan perasaanku. Bahkan saat kau mengacuhkanku secara kasar aku masih bisa bertahan, tidakkah itu cukup membuktikannya padamu—”

Jinhye menarik nafas dalam, “—jika aku bisa aku ingin menghentikannya, menghentikan pikiran bodohku padamu. Jika bisa aku memilih, aku lebih memilih jatuh cinta pada orang lain. Hingga aku tak perlu seperti ini, mengemis-ngemis padamu.”

“Percayalah, kau hanya akan terluka jika bersamaku. Aku bukan orang yang baik untukmu.” suara Kyuhyun melembut.

Jinhye menggelengkan kepalanya, “Aku juga bukan orang yang baik, bukankah kita sama?”

“Aku memiliki latar belakang kehidupan yang buruk, kau akan takut mengetahuinya. Jadi menjauhlah dariku, buat dirimu melupakanku. Itu akan lebih baik untukmu.”

“Aku tak peduli latar belakangmu, aku tak pernah peduli hal itu. Sekalipun kau seorang pembunuh atau penjahat, aku tak mempedulikannya.” Jinhye berteriak, air mata mengalir dari iris kelamnya. Membasahi pipi halusnya.

Kyuhyun terdiam, menyaksikan gadis ini menangis membuatnya tak bisa menahan jemarinya lagi. Menyentuh pipi halus milik Jinhye, menyapu lembut genangan kacil digaris pipinya. Gadis keras kepala, pikirnya. Jinhye masih menangis, dengan mata yang berair Ia menatap kearah mata tajam Kyuhyun—mata yang menghipnotisnya. Perasaan hangat menyergap hatinya ketika Kyuhyun menyentuh pipinya. Gadis itu tersenyum getir dalam tangisnya.

Tubuhnya menubruk tubuh tegap pria itu, memeluknya erat. Entah mendapat keberanian dari mana Ia bisa melakukan hal itu. “Aku mencitaimu. Aku tak bisa menghentikannya, apa yang harus kulakukan?” Jinhye terisak didada pria itu.

“Kau—gadis keras kepala, Park Jinhye.” Kyuhyun mendekap erat tubuh ringkih itu, membawanya dalam sebuah pelukan hangat. Bahu Jinhye bergetar hebat dalam pelukan Kyuhyun, gadis itu menangis. Kyuhyun membelai lembut rambut terurai milik Jinhye, “Uljjima, itu menyekitiku—melihatmu menangis karena aku. Berhenti menangis.”

Jinhye tersenyum kecil dalam tangisnya, patutkah Ia merasa senang mendengar penuturan Kyuhyun. Pria itu memintanya berhenti menangisinya karena itu menyakiti dirinya. Jinhye menghirup bau tubuh pria, menyimpannya dalam kenangannya. “Aku mencintaimu, Kyuhyun~ah.”

***

Don’t you know eventually we’ll pay the price

All the hopes and the dreams will survive

Reunite we got to keep our faith alive

***

=END=

Advertisements

15 thoughts on “Love Like This

  1. Kyaaa!!
    Apaan nihh, banjir ff, tumben…
    Lah itu kenapa kyu pke naif sgala klo suka ya bilang aj suka, pke bwa2 latar belakang aj, mmang latar belakang kyu apaan sih, psiko’kah….kkkkk

  2. Kenapa ff yang aku bca disini gantung semua??

    Emang latar belakang Kyu gimana siCh, pake sok-sok nolak gitu! padahal sich mau. Kyu muna deCh. wkwkwk

  3. Gantung thor, endingnya kurang pas, masih pensaran sama latar belakang kyuhyun juga perasaannya. Dan sebenernya kyuhyun nerima pernyataan jinhye atau tidak itu juga masih gantung. Tapi nice ff lah.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s