[Tae-Min’s Story] – Always Together

taemin

¤¤ Tae-Min | Jae-Ra ¤¤

-oOo-

“Sudah lebih baik?” tanya Tae-Min ketika telah selesai menempelkan plester di lutut Jae-Ra.

Jae-Ra mengangguk kecil dengan masih meringis sakit. Tatapannya terfokus pada lututnya yang beberapa saat lalu nampak berdarah. Gadis itu harusnya tidak bertindak ceroboh.

Harusnya ia bisa menjaga tubuhnya tetap seimbang. Hingga tubuhnya tidak harus terjerambab ditanah.

“Lain kali harus hati-hati. Kalau kau jatuh seperti itu lagi bagaimana? Kakimu terluka dan tidak ada orang yang menolongmu,” ceramah Tae-Min dengan nada khawatir.

Ia tidak bermaksud memarahi gadis itu. Hanya saja ketika menyaksikan gadis itu terjatuh dan lututnya berdarah, membuat rasa khawatir Tae-Min membuncah. Rasa ingin melindunginya membuat Tae-Min bertingkah posisif.


Manik mata Jae-Ra masih terlihat sembab akibat tangisnya. “Aku tidak melihat ada batu disana, Tae-Min. Kau tahu sendiri aku buru-buru menyusulmu,” ucapnya dengan memberengut.

Tae-Min menghela nafas. Salahnya juga meninggalkan gadis itu. Ia hanya kesal karena ulah gadis itu. Ia hanya berjalan lebih cepat dari Jae-Ra. Meninggalkan Jae-Ra dibelakangnya yang berusaha mengimbangi langkah kaki Tae- Min.

“Arraseo. Kau masih bisa jalan? Jarak ke sekolah masih jauh, Jae~ya,” kata Tae-Min seraya menengok jam ditangannya.

“Kakiku sakit. Hari ini ada ulangan. Eottokhe, Tae-Min~ah?” kata Jae- Ra lesu.

Tae-Min menatapnya sebentar kemudian menghela nafas. Tidak mungkin ia meninggalkan gadis itu. Setidaknya dalam keadaan lututnya yang terluka.

Mengantarnya kembali kerumah pun rasanya tidak mungkin. Mereka sudah separuh jalan dan waktu sudah mendekati pukul delapan. Artinya sebentar lagi gerbang sekolah mereka ditutup.

Tae-Min berjongkok membelakangi Jae-Ra. Kemudian menyuruh gadis itu naik kepunggungnya.
“Naiklah! Aku akan menggendongmu!” kata Tae-Min.

Jae-Ra menatap punggung belakang Tae-Min dan bertanya tak yakin. “Kau yakin mau menggendongku?”

Tae-Min berdecak sambil memalingkan wajah. “Cepatlah, Jae-Ra! Kau tak ingin kita terlambat, bukan?”

Jae-Ra menggerutu namun tetap menurut dan naik kepunggung Tae-Min.

-oOo-

“Tae-Min…” cicit Jae-Ra takut-takut.

Wajah Tae-Min tampak menahan kesal tapi tetap menyahut dengan gumaman kecil.

“Kau marah padaku?” tanya Jae- Ra dengan nada menyesal.

“Ani,” sahut Tae-Min singkat.

“Tapi kenapa kau diam saja sejak tadi? Kau pasti marah padaku, kan?” suara Jae-Ra terdengar serak, sepertinya gadis itu sebentar lagi akan menangis.

“Kenapa kau berpikir begitu? Sudahlah, sekarang kita mau kemana? Tidak mungkin berdiam diri didepan gerbang sekolah, kan?”

“Aku tidak tahu. Kalau pulang, umma pasti akan marah. Eottokhe?” air mata Jae-Ra tampak dari pelupuk matanya.
“Kenapa menangis lagi?” tanya Tae- Min kesal. Gadis itu cengeng sekali.

Jae-Ra makin menangis, “Kalau bukan karena aku, kita pasti tidak akan terlambat,” katanya sesengukkan.

“Sudah, jangan menangis lagi! Kita ke taman saja, ne?” tawar Tae-Min.

Gadis itu mengangguk, menyambut uluran tangan Tae- Min. Berjalan beriringan menuju taman kota yang tak jauh dari sana.

“Mianhae…” sesal Jae-Ra.

Tae-Min mengangguk sambil tersenyum, “Berhenti menangis! Aku tidak suka jika kau menangis, Jae-Ra~ya,”

Tae-Min mengusap pipi Jae-Ra lembut. Gadis itu tersenyum senang. Ternyata Tae-Min tak benar-benar marah padanya. Dalam hati Jae-Ra bersyukur memiliki teman seperti Tae-Min.

-oOo-

Advertisements

2 thoughts on “[Tae-Min’s Story] – Always Together

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s