Just In Time

Title .::. Just In Time

Author .::. Sparyeulhye

Cast .::. Cho Kyuhyun ( Super Junior ), Park Jinhye ( OC )

~oOo~

Berulang kali aku melirik jengkel kearah seorang pria jangkung dan tampak gendut yang tengah berdiri disudut ruang perbelanjaan ini. Aku cukup menyesal mengajaknya berbelanja pada hari ini. Niat awalku membawanya untuk menjadikannya sebagai pembantuku dalam berbelanja. Aku seperti orang bodoh yang terus melirik-lirik padanya atau bahkan orang lain berpikir aku sebagai gadis aneh yang suka melirik pria tampan.

Oh, ia akan menertawaiku jika ia tahu aku menyebutnya tampan. Kuakui ia memang tampan, tapi hanya dalam keadaan tertentu, perlu dicatat hal itu, hanya dalam keadaan tertentu. Kau tidak akan menyebutnya tampan jika kau melihatnya saat bangun tidur dengan mata separuh terpejam dan rambut acak-acakan. Ia sama sekali tidak terlihat tampan, mungkin sedikit menggemaskan. Ugh, kenapa aku jadi memuji-mujinya?

Kembali pada keadaan sekarang. Pria itu tengah berdiri didepan barisan kaset game dengan tema berbagai macam. Aku sendiri muak melihat cover luarnya yang tidak jelas itu. Gambar monster tidak jelas atau gambar hulk yang menenteng senjata aneh ditangannya. Orang tidak waras mana yang menciptakan tokoh dalam games itu. Dan sialnya, pria itu justru sangat menggilainya.

Aku berjalan kearahnya dengan sedikit menghentak-hentakkan kakiku jengkel. Aku tidak peduli jika orang lain mendengar bunyi dari langkahku yang tidak biasa.

“Cho Kyuhyun~ssi, berhenti memandangi tumpukan benda sialan itu dengan pandangan laparmu,” desisku pelan. “Dan jangan coba-coba memasukkannya kedalam keranjang belanjaan itu.” tunjukku pada benda yang berdiri tak jauh dari kami sekarang.

Kyuhyun tersenyum miring, sama sekali tak peduli dengan ancamanku.

“Kau tak perlu khawatir, kali ini aku membawa uang sendiri. Jadi kau tak perlu repot membayarinya untukku.”

Syukurlah ia tak melupakan apa yang dilakukannya dulu padaku. Membayarkan belanjaan kaset gamenya hingga membuatku harus mengurangi daftar belanjaanku sendiri. Hanya karena dirinya yang keras kepala mempertahankan benda sialan itu.

“Kau tidak lupa kan pada tumpukkan kaset game dikamarmu. Kau ingin menambahnya lagi?” tanyaku jengkel.

“Itu hampir kutamatkan semua, aku sedang mencari yang terbaru,” jawabnya tanpa mengalihkan pandangannya disana.

“Kau tidak kasihan padaku yang setiap hari membereskannya, huh?” aku bersungut jengkel padanya.

Kyuhyun terkekeh pelan kemudian menatapku dengan seringai menggoda. Menjengkelkan. Ingin sekali aku melempari wajahnya itu. Sekalian menambah lubang kawah dipermukaan wajahnya.

“Itu kan sudah menjadi tugasmu. Jadi jangan mengeluh padaku, arraseo!”

Ia kembali mengamati benda-benda didepannya. Seakan tak ada yang lebih penting dari itu saja. Dasar pria maniak game.

Aku beralih dari tempatku berdiri. Menuju kearah lain yang bersebrangan dari tempat tumpukan kaset game yang digilai Kyuhyun. Memasukkan satu-persatu benda yang menjadi tujuanku datang kesini. Mengacuhkan Kyuhyun yang mengikuti dibelakang. Apa ia telah mengabaikan benda keramatnya itu?

Aku mengacuhkannya karena aku marah padanya. Entah sadar atau tidak bahwa aku sedang marah, Kyuhyun kini berdiri disampingku dan berusaha mengajakku bicara. Aku mengetahuinya namun tetap berdiam diri.

“Kau marah, Jinhye~a?” tanyanya.

Huh, apa pedulinya kalau aku sedang marah.

“Ya! Lihat aku kalau aku sedang bicara padamu!”

Kyuhyun menarik bahuku menghadap kearahnya. Ck, tidak usah pakai kekerasan kan bisa. Bahuku jadinya sakit, dasar sialan!

“Apa?” jawabku kesal. Tanpa sadar aku mengeluarkan suaraku terlalu keras membuat orang-orang disekitar menatap kearah kami dengan pandangan bertanya. Aku tersenyum kikuk kearah mereka. Betapa bodohnya diriku.

“Kecilkan suaramu. Kau ingin semua orang mencurigai kita,” ucap Kyuhyun.

Aku mengerutkan kening. Memangnya mereka akan berpikiran apa?

Kudengar Kyuhyun menghembuskan nafasnya, “Baiklah, aku minta maaf.”

Aku masih bertahan dengan wajah kesalku. Biar saja ia menganggapku kekanak-kanakkan, toh dirinya juga kadang bersikap kekanak-kanakkan.

“Tapi bukan berarti aku akan meninggalkan kaset game yang menjadi incaranku ini,” ia menentengkan benda yang kuanggap sialan itu.

“Changmin bilang ini edisi spesial dan kau tahu aku ‘kan, aku tak ingin melewatkannya,” sambungnya enteng tak memedulikan bagaimana ekspresi wajahku sekarang.

Terserah. Aku hanya berlalu melewatinya. Changmin ‘kan satu jenis dengannya, sama-sama maniak game. Akh, kenapa aku jadi terjebak hidup dengan setan sepertinya. Aku mendengus pasrah. Ya sudahlah, mau bagaimana lagi. Jika Kyuhyun sudah mengatakan itu mana bisa aku menghentikannya.

Saat ini kami tengah berdiri didepan meja kasir dengan penjaga wanitanya yang menatap Kyuhyun dengan penuh memuja. Sementara aku hanya tersenyum geli tiap kali menyaksikan wanita itu sesekali melirik kearah Kyuhyun.

Bukannya Kyuhyun tak menyadari itu. Kurasa ia juga tahu bahwa dirinya menjadi pusat perhatian wanita itu. Ia hanya diam dan tak terlihat terganggu sama sekali. Begitu juga aku, sama sekali tak terganggu atau cemburu sedikitpun. Aku sudah terbiasa menyaksikan hal yang seperti ini. Dan jangan harap aku menunjukkan ketidaksukaanku. Karena itu hanya akan menambah besar kepala setan itu saja.

Setelah menyelesaikan pembayaran dan mengucapkan terimakasih pada penjaga kasir itu. Aku beranjak dari tempat itu dengan Kyuhyun berjalan disisiku. Mengabaikan tatapan-tatapan para wanita yang tengah melirik Kyuhyun. Apa yang mereka harapkan dari setan sepertinya? Jika mereka tahu bagaimana sikapnya yang sebenarnnya, aku yakin mereka akan lari dan meninggalkan Kyuhyun.

Bagaimana diriku sendiri bisa tahan dengannya? Entahlah, aku juga tidak mengerti mengapa aku begitu terikat padanya.

Kurasakan seseorang mengambil paksa pelastik belanjaanku. Aku menoleh dan kudapati Kyuhyun yang tengah tersenyum padaku. Aku mengerutkan keningku bingung. Ada apa dengannya?

“Kubawakan. Tanganmu akan sakit jika membawa beban seberat ini,” ucapnya sembari tetap melangkah meninggalkan aku yang terdiam.

Aku tersenyum kecil lalu menyusulnya dibelakang. Akh, ia selalu tahu bagaimana mendinginkan perasaanku. Begitu mudahnya untuknya meluluhkan amarahku.

“Kau sudah tak marah padaku lagi ‘kan?” Kyuhyun memalingkan wajahnya sembari tersenyum.

Aku hanya mendelik kearahnya sebagai jawaban. Kyuhyun terkekeh kecil dan terus melangkah mendahuluiku dengan langkah besarnya. Apa ia tak tahu aku kewalahan menyeimbangkan langkah kakinya?

~oOo~

Kadang sesuatu terjadi tanpa kita tahu alasannya. Kau dan kehadiranmu untukku, membuatku mengerti bahwa sesuatu memang terjadi tanpa diketahui alasan yang menyertainya.

~oOo~

Ini draft lama, lama banget sampai saya sendiri lupa. Sempat drop beberapa hari karena masalah kuliah dan karena masalah itulah membuat saya berpikir ternyata apa yang sudah saya usahakan tidaklah cukup. Sekarang saya berpikir untuk tidak lagi menganggap enteng sebuah tantangan. Thanks for coming and reading this fanfict.

Annyeong!!

Advertisements

19 thoughts on “Just In Time

  1. Hai hai hai o(ˇ▼ˇ o)(o ˇ▼ˇ)o
    gue readers baru, ijin mo ngubek-ngubek/? blognya iyap, muehehe
    Btw, gue boleh request kagak? Yg FF so long time ngegantung atuh endingnya, sequel sequel sequel juseyo~~~~

  2. Walaupun Kyu Hyun menyebalkan, tapi tetap saja Jinhye suka kan. Kekekeke… Ceritanya manis. – oia, aku reader baru disini. Bangapta…

  3. Yah yah yah kok tiba2 selesai gitu aja? Kan lagi seru2nyaa
    Ada lanjutnya ga authornim? Kayaknya nanggung banget tiba2 berhenti :/

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s