Senja Di Pantai Mokpo

Thanks to: Lee Donghae, my inspiration. Coretan ‘matang’ dari sekian banyak coretan yang saya buat.

Senja Di Pantai Mokpo By Sparyeulhye

-oOo-

Apa yang terlihat menarik ketika kau berdiri menghadap langit pekat berwarna kekuningan itu? Apakah sinarnya yang begitu menakjubkan? Atau ada hal lainnya? Tidak. Bagiku tak ada yang lebih menarik selain pancaran langit berwarna kekuningan dengan gradasi awan putih yang terlukis sempurna. Menakjubkan, hanya itu kesimpulanku. Bagaimana bisa pemandangan yang terlalu biasa ini bisa membuatku betah berlama-lama berdiam diri ditempat ini seorang diri.

Suasana tenang yang menyejukkan. Deburan angin yang bercampur dengan gelombang laut yang membentur pesisir pantai. Sungguh malang nasib pasir yang selalu dikikis oleh air laut itu. Tak ada kesempatan untuk menghindar sama sekali. Berdiam diri menerima perlakuan air laut yang terkadang datang dengan begitu kejamnya.

Apa dunia itu kejam? Mungkin. Bagi beberapa orang dunia ini terlihat kejam. Ketika sesuatu terjadi tanpa sepaham dengan kehendak hati. Apa bisa menolaknya? Tidak. Hidup itu seperti pasir pantai ketika gelombang cobaan kehidupan menghadang kau tak bisa menghindarinya. Jika kau kuat maka kau akan bertahan namun jika kau lemah maka kau akan kalah. Laut, pantai, langit sungguh penggabungan yang menarik. Saling berhubungan satu sama lain. Jika menjadi laut maka akan bertemu dengan pantai dan diselimuti langit yang membentangi.

Disini. Ditempat ini. Begitu banyak goresan yang tercipta, seiring berjalannya waktu hal itu semakin terlupakan. Orang itu pernah mengatakan padaku bahwa Ia sangat menyukai laut dan langit. Pada saat itu aku sempat berpikir apa yang menarik dari kedua hal yang disebutkannya. Namun jawabannya begitu mencengangkan ditelingaku, menelisik hatiku.

‘Permukaan laut yang memantulkan langit, namun bisakah langit melakukan hal yang sebaliknya? Tidakkan. Ketika langit dan laut menyatu di senja hari menciptakan warna yang indah dengan bantuan matahari. Maka akan terlihat pemandangan yang menakjubkan.’

Seperti teka teki yang terselip. Terkadang aku selalu terganggu dengan ucapannya kala itu. Aku menyukai senja. Entah semenjak kapan aku mulai tertarik pada senja itu, aku juga tak tahu. Bagiku bagaimanapun senja itu, aku tetap menyukai senja. Walaupun Chaeri, adikku, selalu mengatakan membeci senja karena senja itu bisa membuat matanya sakit. Tapi aku tak peduli. Aku tetap memandanginya ketika senja itu tiba, ketika matahari mulai merangkak keperaduannya, ketika biru langit mengabur menjadi kekuningan. Ketika malam mulai menutupi siang, ketika matahari berganti tempat dengan bulan.

Sinar itu mulai meredup. Cahaya itu mulai menghilang berganti gelap yang menyerbu bumi ini. Aku tak ingin beranjak dari tempat ini. Masih ingin disini. Menanti suatu hal ynag mungkin terjadi. Menantikan kejutan dari Tuhan untuk diriku. Tuhan, apa rencanamu pada hidupku saat ini? Apapun itu kuharap sesuatu yang bisa kuhadapi. Entah bagaimanapun, aku yakin kau selalu mendengarkan doa-doaku, Tuhan.

Aku mulai melangkah mundur meninggalkan jejakku dipasir ini. Sinar itu telah pergi, tak ada lagi yang menarik bagi mataku. Aku akan menunggumu lagi esok hari, ketika kau datang aku akan menyambutmu dengan senyum termanisku. Tolong jaga cahayamu untukku. Aku yang selalu setia menantimu.

-oOo-

Thanks for coming and reading this fanfic. Annyeong!

Advertisements

2 thoughts on “Senja Di Pantai Mokpo

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s