Confession Part 2

Title .:. Confession (Part2/?)

Author .:. Sparyeulhye (@sparyeulhye)

Casts .:. Cho Kyu-Hyun, Lee Jong-Hyun, Park Jin-Hye

-oOo-

Suatu waktu, ada kalanya hatimu akan bergeser dan tidak lagi mencintai orang yang sama. Lalu yang mana yang akan kau pilih? – Sparyeulhye

-oOo-

-FLASHBACK-

After The Wedding

Jong-Hyun melingkarkan tangannya kepinggang Jin-Hye, mendekap erat wanita itu dengan posisive. Pinggang ramping yang menjadi favoritnya ketika memeluk wanita itu. Jin-Hye membelakanginya masih dengan rengkuhan tangan sang pria yang menempel dipunggungnya. Pria itu mengusapkan jemarinya lembut yang menempel diperut wanitanya. Rasanya begitu hangat ketika pelukan itu semakin mengerat. Mengurung dan mengukuhkan wanitanya dalam sebuah pelukan.

Harum shampoo menguar dari arah depan pria itu. Wajah pria itu persis berada dihadapan kepala Jin-Hye yang membelakanginya. Rambut hitam yang tergerai indah dihadapan matanya. Jin-Hye masih asik dengan pemandangan malam yang tertampang dari balkon kamar mereka ketika dirasanya kepala Jong-Hyun menyusup disela lehernya, menghirup aroma wanitanya. Jin-Hye terkikik pelan merasakan geli kala itu.

“Aku suka wangi shampoo-mu,” kata Jong-Hyun dengan kepala yang masih berada disana, disela leher wanitanya.

“Berhenti membuatku geli!” seru Jin-Hye pelan.

Namun pria itu tak mendengarkan, kepalanya tetap tertahan disana. Menghirup semakin banyak aroma wanita yang dicintainya itu. Membuat wanitanya semakin terkikik geli. Jong-Hyun begitu menyukai aroma Jin-Hye sampai-sampai rasanya selalu ingin berada didekatnya, mendekapnya lebih dalam. Membiarkan Jin-Hye tetap berada dalam dekapannya seolah tak ingin ia pergi menjauh. Membuatnya terus menerus merasa seperti candu pada wanita tersebut.

“Aku berjanji akan membahagiakanmu. Seumur hidupku, kau bisa memegang janjiku ini. Tak akan kubiarkan kau tersakiti selama nafasku masih berhembus,” ucap Jong-Hyun.

Wanita dalam dekapannya tersenyum. Ia percaya Jong-Hyun akan memegang janjinya, pria itu tidak bisa diragukan lagi bagaimana perasaannya.

“Aku percaya padamu, oppa. Makanya aku menerimamu untuk menemani hidupku.” sahut Jin-Hye.

“Aku mencintaimu, sayang. Bisakah kita masuk sekarang? Diluar udaranya cukup dingin, aku tak ingin isteriku sakit nantinya.” Jong-Hyun membalikkan tubuh Jin-Hye menghadapnya, kemudian mengecup pelan kening Jin-Hye sebelum membawanya dalam gendongannya.

Jin-Hye memekik kaget saat tangan Jong-Hyun mengangkat tubuhnya. Ia tak bisa menolaknya karena saat ini wajah Jong-Hyun terlihat sangat ceria. Jin-Hye tersenyum dalam gendongan Jong-Hyun dan mengalungkan tangannya dileher Jong-Hyun, menenggelamkan wajahnya pada dada tegap Jong-Hyun yang terlihat kokoh.

Jong-Hyun meletakkan tubuh Jin-Hye diranjang mereka secara lembut penuh kasih sayang seolah tak ingin menyakiti tubuh itu sedikitpun. Menyelipkan helaian rambut Jin-Hye yang menutupi wajahnya dengan pelan. Wanitanya terlihat cantik bahkan hanya dilihat dengan cahaya lampu yang temaram. Sungguh ia sangat bahagia memiliki Jin-Hye dalam hidupnya.

“Selamat tidur, isteriku.” Jong-Hyun kembali mengecup pelan kening Jin-Hye kemudian ikut berbaring disampingnya. Sebelumnya pria itu telah menutupi tubuh mereka dengan selimut tebal yang terasa hangat. Dibawanya tubuh Jin-Hye dalam dekapannya, membawanya dalam mimpi indah bersamanya.

-FLASHBACK END-

-oOo-

Nafas Jin-Hye terasa memburu ketika ia terbangun dimalam hari. Bayang-bayang itu kembali muncul dalam mimpi tidurnya. Bagaimana dulu ia dan pria yang tengah tidur damai disampingnya mengucap janji.

Jong-Hyun membuka matanya saat dirasanya gerakan-gerakan yang menginterupsi tidurnya. Dengan wajah mengantuknya, Jong-Hyun menolehkan wajahnya kesampingnya, tempat Jin-Hye yang juga terbaring disana. Keningnya mengkerut melihat Jin-Hye yang tampak gusar. Dengan sigap ia memiringkan tubuhnya menghadap Jin-Hye. Menyentuh wajah Jin-Hye lembut, memastikan apa yang terjadi padanya.

“Kau kenapa, sayang?” tanyanya dengan suara serak.

Jin-Hye menoleh dan tanpa disangka menerjang tubuh Jong-Hyun, memeluknya. Entah apa yang ada dipikirannya saat ini yang membuatnya melakukan itu. Hal yang tentu saja mengejutkan Jong-Hyun.

“Ada apa? Kau mimpi buruk?” tanya Jong-Hyun lembut seraya mengelus lembut punggung Jin-Hye. Menyalurkan kasih sayang untuk wanitanya itu.

Jin-Hye menggeleng dalam dekapan Jong-Hyun namun tetap tak mau bicara. Mengetahui dirinya yang entah kenapa didera rasa takut membuatnya semakin merapatkan tubuhnya pada Jong-Hyun. Sementara pria itu sama sekali tidak mengetahui bahwa dirinyalah yang membuat wanitanya bertingkah seperti sekarang. Yang ia tahu, wanitanya tengah mendekapnya erat.

“Hei, kau kenapa? Jangan membuatku khawatir, sayang.” Jong-Hyun berusaha sabar pada wanitanya itu.

Jin-Hye terbangun ditengah malam kemudian bertingkah gusar membuat Jong-Hyun terbangun dari tidurnya. Wajar jika Jong-Hyun begitu khawatir sekarang. Dengan sabar ia mengelusi punggung Jin-Hye, berharap wanita itu tenang kembali karenanya.

“Kau haus? Aku ambilkan minum, ya?” bujuk Jong-Hyun.

Pria itu hampir beranjak dari tempat tidur namun tangan Jin-Hye berusaha menahannya dan enggan membiarkan pria itu menjauh dari sisinya.

“Jangan pergi,” cengkraman Jin-Hye mengerat saat Jong-Hyun hendak beranjak. Sekali lagi Jong-Hyun dibuat bingung dengan kelakuannya itu. Kening Jong-Hyun mengkerut pertanda ada ganjalan dipikirannya. Rasa cemas mulai menggelayutinya, Jin-Hye yang memintanya untuk tidak menjauh darinya mengisaratkan ada sesuatu yang terjadi pada wanita itu.

Jong-Hyun mengalah dan membiarkan Jin-Hye memeluknya erat. Mengelus lembut punggung Jin-Hye. “Baiklah. Aku tidak akan kemana-kemana, kau tak perlu takut.”

“Aku takut. Tetaplah disini.”

Punggung Jin-Hye berangsur-angsur mulai rileks tidak seperti sebelumnya yang nampak bergetar. Jong-Hyun menghela nafas lega ketika bunyi nafas wanitanya terdengar normal kembali. Cengkraman wanita itu juga tidak seerat sebelumnya, menandakan sang empunya yang mulai tenang. Jin-Hye mulai memasuki tidurnya.

-oOo-

“Kemarin Jong-Hyun menelpon menanyakan keberadaanmu. Kau sedang tidak dalam keadaan bertengkar dengannya, kan?” tanya Jaehee eonnie ketika aku berpapasan dengannya.

Aku menoleh kearahnya. “Apa maksud, eonnie? Kami baik-baik saja,” jawabku.

Jaehee eonnie melipat tangannya didepan dada, bersedekap memandangku dengan tatapan tajamnya. Entah kenapa aku merasa ia tengah sengaja menginterogasiku dengan tatapannya itu.

“Kemarin kau pulang dengan tergesa-gesa. Akhir-akhir ini kulihat kau juga sering melamun. Jika kau tidak ada masalah kau tidak mungkin bersikap seperti itu.” terangnya.

Kuberanikan mengangkat wajahku menghadap wanita yang umurnya beberapa tahun diatasku itu. Tatapan mengintimidasinya membuat hatiku sedikit bergetar khawatir. Apakah ia mengetahui apa yang coba kusembunyikan rapat-rapat? Aku tak berharap ia benar-benar mengetahuinya bahkan mencurigaiku sedikitpun. Akan sangat memalukan bagiku jika orang lain tahu apa yang sudah kulakukan.

“Eonnie…aku tidak bertengkar dengan Jong-Hyun oppa jika itu yang kau khawatirkan. Lagi pula aku cukup dewasa untuk mencampur urusan pekerjaan dengan urusan pribadiku.”

Jaehee eonnie menurunkan tangannya yang tadi bersedekap kemudian meletakkan tubuhnya disalah satu kursi masih dengan menatapku namun tidak dengan tatapan menghakimi seperti tadi ia lakukan. Ia mengangguk-anggukan kepalanya seolah-olah telah memahami suatu hal.

“Ok. Aku tidak bermaksud menyampuri rumah tangga kalian. Hanya saja aku mengenal Jong-Hyun sejak lama, ketika ia memutuskan untuk menikahimu aku melihat kesungguhan dalam dirinya. Aku hanya mengkhawatirkan…”

“Aku mengerti maksudmu. Tapi sungguh kami dalam keadaan baik-baik saja.” kataku. Maafkan aku karena telah membohongi orang-orang disekitarku. Aku benar-benar merasa sangat berdosa karenanya.

-oOo-

-FLASHBACK

 “Mau pulang denganku?” tawar seseorang.

Jin-Hye menoleh kesumber suara, kemudian tersenyum begitu mengetahui orang yang telah menyapanya. Jin-Hye cukup mengingat pemilik wajah itu, pria yang dikenalkan Jong-Hyun beberapa waktu yang lalu padanya. Tak disangka mereka bertemu ditempat Jin-Hye berada kini menunggu taksi untuk pulang kembali selepas bekerja.

“Ah, Kyu-Hyun-ssi, tak kusangka kita bertemu disini. Apa yang kau lakukan disekitar sini?” tanya Jin-Hye.

Kyu-Hyun tersenyum ramah, “Aku kebetulan lewat jalan ini dan kulihat kau dari jauh, kau mau pulang? Atau menunggu seseorang?” tanya Kyu-Hyun tersenyum tipis.

Jin-Hye mengetahui yang maksud Kyu-Hyun hanya tersenyum dengan pipi sedikit memerah.

“Ani, Jong-Hyun oppa sedang sibuk tidak bisa menjemputku.” jawab Jin-Hye.

“Kalau begitu kau mau pulang denganku? Apartemenmu searah denganku,” tawar Kyu-Hyun.

Jinye menatap Kyu-Hyun tak enak, ia baru mengenal pria itu. Haruskah ia menerimanya? Atau menolaknya? Tapi pria itu telah berbaik hati menawarinya akan tidak sopan jika ia menolaknya, mengingat Kyu-Hyun adalah teman baik suaminya.

“Apa tidak merepotkanmu, Kyu-Hyun-ssi?” tanya Jin-Hye.

Kyu-Hyun tertawa kecil mendengar pertanyaan Jin-Hye. Wanita itu terlalu terus terang, “Tentu saja tidak. Aku juga mau pulang,”

Dengan gerakan cepat, Kyu-Hyun membukakan pintu mobilnya untuk Jin-Hye dan mempersilahkan wanita itu masuk. Jin-Hye memasuki mobil Kyu-Hyun, duduk disamping pria itu. Kyu-Hyun memandangi Jin-Hye penuh minat, wanita itu entah sejak kapan membuatnya tertarik. Mungkin itu adalah pemikiran yang bodoh mengingat Jong-Hyun, sahabatnya, yang telah memiliki wanita itu. Tidak seharusnya ia menaruh minat pada wanita yang sudah bersuami.

“Waeyo, Kyu-Hyun-ssi?” tanya Jin-Hye pelan saat mengetahui Kyu-Hyun yang tengah memandang kearahnya.

Kyu-Hyun terkesiap sebentar lalu kembali memasang wajah ramahnya. Ah, ia terlalu larut dalam pikirannya hingga lupa bahwa yang menjadi fokusnya tengah menatapnya jengah. Siapapun akan merasa tak nyaman jika ditatap seintens itu, apalagi oleh seorang pria seperti Kyu-Hyun.

“Ah, tidak. Pasang sabuk pengamanmu, Jin-Hye-ssi. Walau bagaimanapun keselamatan adalah yang terpenting, bukan?” kata Kyu-Hyun mencairkan suasana canggung diantara mereka.

Jin-Hye menunduk kecil, “Gomawo, Kyu-Hyun-ssi,”

Kyu-Hyun tersenyum kecil sebagai bentuk jawaban. Dihidupkannya mobilnya dan meninggalkan tempat itu. Tak ada percakapan diantara mereka, sibuk dengan pikiran masing-masing. Baik Jin-Hye maupun Kyu-Hyun tak ada yang berniat memulai pembicaraan. Kyu-Hyun fokus dengan kemudinya sementara Jin-Hye menatap kearah luar jendela.

Sementara itu Jin-Hye tak menyangka inilah awal dari pertemuan-pertemuan yang akan terjadi diantara mereka.

-FLASHBACK END

-oOo-

Jin-Hye duduk tenang dikursi kerjanya dengan buku gambar yang berada diatas meja. Ditangannya terdapat sebuah pensil yang digunakannya untuk menggoreskan berbagai desain pakaian yang ada dipikirannya yang tentunya akan menjadi sebuah karya yang dapat ia pamerkan. Menumpahkan semua yang terbayang dikepalanya diatas kertas dalam bentuk goresan-goresan sketsa. Sesekali Jin-Hye menyentuhkan pensilnya dipermukaan bibirnya dan tampak berpikir mengenai desain apa yang ingin diciptakan olehnya.

Jin-Hye melirik ponselnya melalui sudut matanya. Kemudian wajahnya terlihat gamang setelah mengetahui siapa yang tengah berusaha menghubunginya. Perasaan ragu menggelayuti pikirannya. Haruskah ia menerima panggilan itu? Sudah beberapa hari ia tak pernah melakukan kontak pembicaraan dengan orang yang tengah menunggu disana itu. ia nampak berpikir sejenak, meyakinkan dirinya sendiri bahwa semua akan baik-baik saja. Dengan enggan ia meraih ponselnya dan dengan gerakan pelan menempelkan ponsel itu kedekat telinganya. Jin-Hye menggigit bibirnya saat jemarinya menekan tombol yang tentunya akan menyambungkannya dengan orang tersebut.

“Ha-halo?” Jin-Hye tak dapat mengontrol suaranya yang terdengar gagap. Sedikit merasa kesal pada perubahan yang terjadi dalam dirinya.

“Hye…” seseorang tengah menggumamkan namanya dengan suara yang terdengar lirih setelah beberapa saat nampak terdiam.

Sekali lagi Jin-Hye menggigit bibir bawahnya, berusaha menekan perasaannya. Ia masih saja terjebak dengan perasaannya pada pria itu. Ternyata tak semudah yang ia bayangkan untuk melepaskan hatinya dari bayangan seorang Cho Kyu-Hyun.

“Kumohon. Jangan membuat segalanya lebih sulit lagi untukku.” Jin-Hye berkata dengan lirih setelah terdiam beberapa saat. “Akan lebih baik kita tidak melakukan kontak apapun lagi. Maaf…kau boleh membenciku atas semua yang kulakukan padamu.” Setelahnya tak ada lagi pembicaraan diantara keduanya, Jin-Hye segera menutup sambungan telpon itu lalu menunduk menatap sketsa dengan pandangan kosong. Mungkin inilah akhir yang harus ia terima. Dan dikemudian hari akan menjadi bumerang untuk dirinya sendiri.

-oOo-

=TBC=

Thanks for coming and reading this fanfict. Annyeong!!!

With Love: @sparyeulhye

 

 

 

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s