Famous Girl

FAMOUS GIRL

Genre .::. Romance

Length .::. Oneshoot

Author .::. Sparyeulhye (@sparyeulhye)

Main Cast .::. Do Kyung-Soo, Lee Cheon-Sa

DOO

***

Please don’t be in love with someone else…..

Enchanted by Taylor Swift

***

Laki-laki itu tersenyum meremehkan, “Kenapa aku harus mengembalikannya, Lee Cheon-Sa?” tanyanya  membuat gadis itu semakin jengkel.

Cheon-Sa berusaha menggapai benda miliknya yang berada dalam genggaman Kyung-Soo, “Karena itu milikku!” jawab Cheon-Sa sambil mendelik tajam kearah Kyung-Soo.

Kyung-Soo menyeringai jail, “Ambil kalau kau bisa, Lee-Cheon-Sa.” ucapnya dengan nada mengejek.

Cheon-Sa berhenti menggapai tangan Kyung-Soo dengan nafas yang terengah-engah karena kelelahan. Wajar saja sejak tadi Ia terus melompat-lompat kecil menyeimbangkan tingginya dengan laki-laki dihadapannya yang memiliki tinggi jauh diatasnya. Namun Kyung-Soo sama sekali tak menunjukkan sikap menyerahnya dan belum mau mengembalikan penghapus Cheon-Sa.

Cheon-Sa menggeram marah, “Kau!! Kembalikan punyaku!” ucapnya yang hanya dibalas kekehan kecil dari Kyung-Soo.

“Kenapa menyerah? Kau bisa gunakan kursi untuk mengambilnya.” ejek Kyung-Soo secara tak langsung mengejek tubuh pendek Cheon-Sa, membuat Cheon-Sa semakin kesal padanya.

Cheon-Sa menghentikan aksinya kemudian meninggalkan Kyung-Soo yang menatapnya keheranan. Tidak biasanya gadis itu menyerah padanya, biasanya gadis itu akan terus merengek padanya. Namun kali ini tidak terjadi seperti demikian membuat Kyung-Soo menerka-nerka apa yang tengah terjadi pada gadis itu.

Kyung-Soo menghela nafas, permainan kali ini tidak seseru seperti biasanya dimana akan terjadi perdebatan alot antara dirinya dengan gadis tersebut. Mungkinkah gadis itu sedang sakit hingga tak bersemangat seperti sekarang, terkanya dalam hati. Sebersit rasa bersalah menyusupi hatinya jika pikirannya itu benar.

Dilihatnya lagi sosok gadis tersebut. Ia tengah membaca buku, duduk dikursi yang biasa Ia tempati, disisi jendela. Sejak pertama Kyung-Soo melihat gadis tersebut Ia selalu menempati kursi itu, entah apa yang membuat kursi itu menjadi tempat favoritnya. Kyung-Soo menatap penuh selidik pada sosok tersebut, keningnya mengkerut heran.

Huft, apa kali ini Ia bersikap keterlaluan pada gadis itu? Rasanya biasanya gadis itu tidak menunjukkan sikap seperti sekarang. Kyung-Soo menghampiri kursi yang ditempati Cheon-Sa, menelisik gadis itu lebih dekat.

“Cheon-Sa~ya, kau kalah, ini penghapusmu,” ucapnya sinis seraya mengulurkan tangannya yang terdapat sebuah penghapus milik gadis itu ditelapak tangannya.

Cheon-Sa tak merespon bahkan menoleh pun tidak Ia lakukan. Sepertinya gadis itu tidak dalam emosi yang baik.

“Hey, kau ingin aku meletakkannya diatas kepalamu?” ucap Kyung-Soo.Akhirnya gadis itu menoleh membuat Kyung-Soo tersenyum tipis, “Ambil saja! Aku tidak membutuhkannya.” ucapnya ketus.

Sesaat kemudian Cheon-Sa kembali pada buku bacaannya mengacuhkan Kyung-Soo kembali. Kyung-Soo mengangkat bahunya seolah tak peduli, “Baiklah. Karena kau tidak mau menerimanya benda ini menjadi milikku. Kau tidak masalahkan?”

Cheon-Sa mencengkram erat bukunya hingga menyebabkan bekas remasannya tadi tak berbentuk seperti semula. Kemudian Ia mendelik tajam kearah Kyung-Soo, “Bisakah kau tidak mengangguku? Jika kau ingin kau ambil saja, aku masih punya banyak yang seperti itu dirumahku!” teriaknya marah.

Kyung-Soo diam terpaku, kaget akan suara menggelegar yang dikeluarkan gadis didepannya. Seisi kelas hening dibuatnya tak ada yang berani mengeluarkan suara. Mungkin karena takut dengan kemarahan Cheon-Sa.

“Lee Cheon-Sa! Do Kyung-Soo! Sehabis pelajaran, kalian berdua ikut keruangan saya!” ultimatum sebuah suara.Ah, tidak. Sooman seosaengnim tengah berdiri didepan pintu kelas mereka, menatap tajam pada keduanya. Kyung-Soo dan Cheon-Sa menatap guru mereka itu gusar, hal apa yang akan guru mereka itu lakukan nantinya. Mereka telah membuat masalah untuk diri mereka sendiri.

“Do Kyung-Soo kembali kekursimu sekarang!” titahnya tak ingin dibantah.Suasana kelas nampak hening saat pelajaran dimulai, tak ada yang ingin membuat keributan setelah peringatan yang diberikan Sooman seosaengnim mereka pada Kyung-Soo dan Cheon-Sa. Tak ingin menambah guru galak itu semakin murka nantinya, hanya mengantisipasi jika saja efek domino berlanjut pada yang lainnya.

Kyung-Soo melirik sekilas kearah kursi Cheon-Sa, gadis itu tengah menulis catatan dibukunya. Kyung-Soo mendesah lagi, ternyata keisengannya kali ini membawa kesialan untuk dirinya dan juga orang lain. Gadis itu pasti tidak akan mau memaafkannya.

***

Cheon-Sa menunduk, menghindari tatapannya bertemu dengan mata Kyung-Soo. Ia tak ingin menunjukkan kesedihannya dihadapan pemuda itu. Seharusnya ia tak perlu menyembunyikan kesedihannya mengingat bahwa dirinya yang selama ini tak akur dengan Kyung-Soo. Namun entah mengapa ia terasa berat untuk sekedar mengucapkan selamat tinggal.

Ada hal yang ia tak mengerti dalam dirinya sendiri. Ia tak mungkin merasa enggan pergi seperti sekarang jika memang tak ada apa-apa pada dirinya.

Cheon-Sa menghela nafas yang terasa berat untuk dirinya. Haruskah ia mengatakannya? Ia takut jika Kyung-Soo akan marah padanya. Baru seminggu yang lalu pemuda itu mengajaknya untuk berpacaran dan sekarang karena alasan tertentu ia harus pergi jauh dan meninggalkan Kyung-Soo. Sebenarnya ia tak masalah jika harus menjalankan hubungan jarak jauh.

“Aku akan pergi ke Jepang,” ucap Cheon-Sa setelah sebelumnya menahan nafas.Kyung-Soo mengerutkan keningnya bingung. Hanya karena ingin mengatakan itu Cheon-Sa berdiri didepannya sekarang. Dalam hati ia menertawai kelakuan Cheon-Sa.

“Kau hanya ingin pergi ke Jepang saja harus mengatakannya dengan bersusah payah, Cheon-Sa~ya.”

“Tidak, ini bukan seperti biasanya yang kulakukan diliburan sekolah…” ucap Cheon-Sa gusar. “…aku akan menetap disana,” gadis itu menunduk dalam.

Butuh waktu beberapa saat bagi Kyung-Soo untuk memahami apa yang dikatakan Cheon-Sa. Dan pada saat otaknya mulai menangkap maksud gadis itu barulah ia mengerti kenapa Cheon-Sa terlihat sulit berbicara padanya tadi. Dalam hati Kyung-Soo meringis. Ia tahu jika Cheon-Sa biasanya pergi ke Jepang untuk mengunjungi neneknya yang tinggal disana. Tapi tadi gadis itu mengatakan jika ia akan tinggal menetap disana. Meninggalkan dirinya. Kepala Kyung-Soo seperti dijatuhi bom, seketika membuatnya kaget.

“Apa kau serius dengan ucapanmu? Bagaimana dengan hubungan kita?” tanya Kyung-Soo.

Cheon-Sa menatap Kyung-Soo sendu, “Aku benar-benar akan pindah dan mengenai hubungan kita aku tak tahu apa aku masih bisa melanjutkannya,” kata Cheon-Sa. “Maaf,” sambungnya lemah.

“Jadi maksudmu..kita…” ucap Kyung-Soo menggantung. Kyung-Soo yakin Cheon-Sa mengerti maksud dari ucapannya yang terputus.

***

“Kyung-Soo, apa yang kau lakukan? Cepat. Sebentar lagi giliran kita,” ucap Suho yang sejak tadi memperhatikan gerak-gerik Kyung-Soo yang terlihat gelisah.

Kyung-Soo mendesahkan nafasnya gusar. Entahlah kenapa ia merasa begitu cemas kali ini. Bukan karena ia gugup akan penampilannya dipanggung nanti. Ia sudah mulai bisa mengatasi kegugupannya saat akan tampil. Hanya saja kali ini ada perasaan cemas yang lain yang menyergapnya. Kecemasan itu bermula ketika beberapa hari yang lalu. Saat dirinya mendapat telfon dari nomor yang tidak dikenalnya. Dan alangkah terkejutnya dirinya mengetahui pemilik suara itu. Ia adalah seseorang yang dulunya begitu dekat dengannya hingga suatu alasan membuat mereka harus berjauhan. Kyung-Soo merasa senang gadis itu masih mengingatnya sampai saat ini. Ia mengira jika gadis itu telah melupakannya.

Namun perasaan itu tertepiskan begitu gadis itu mengatakan jika dirinya akan menonton langsung penampilannya bersama grupnya nanti. Kyung-Soo tak pernah bercerita jika dirinya telah menjadi bagian dari grup yang sekarang mulai terkenal itu. Kyung-Soo tak tahu jika Cheon-Sa-nama gadis itu mengetahui dirinya akan berkunjung ke Jepang. Sudah sejak lama, sejak hari perpisahan mereka waktu itu, Kyung-Soo hilang kontak dengan Cheon-Sa. Ia yang memutuskan untuk fokus menjalani masa pelatihannya dan juga Cheon-Sa yang entah karena apa menjadi jarang berkomunikasi dengannya.

“Kau nampak gelisah, ada apa?” tanya Suho.

Kyung-Soo tersenyum kecil, dan berkata ia baik-baik saja. Namun hal itu tidak cukup menjawab rasa penasaran Suho padanya.

“Kau tidak seperti biasanya. Jangan sampai karena permasalahan yang tak kuketahui itu mengganggu penampilanmu nanti, Kyung-Soo-a. Arra?” Suho menepuk bahu Kyung-Soo pelan.

“Terima kasih, Hyung.” ucap Kyung-Soo tulus. Suho mengangguk singkat lalu melangkah menuju tempat member lainnya berkumpul.

Kyung-Soo mulai resah. Gadis itu berjanji datang namun sampai sekarang ia sama sekali tak tampak. Perasaan ragu mulai menghinggapinya. Mungkin Cheon-Sa tak benar-benar menepati janjinya untuk datang. Mungkin inilah akhir dari pengharapannya, bertemu kembali dengan gadis yang dulunya sempat mengisi hatinya. Bahkan sampai saat ini, Kyung-Soo tak pernah lupa bagaimana ia dan Cheon-Sa menghabiskan waktu mereka dulu. Ketika Kyung-Soo dengan sikap nakalnya mengganggu Cheon-Sa kemudian gadis itu akan meneriakkan namanya dengan lantang. Setelahnya mereka akan berakhir dihalaman sekolah dengan sapu yang berada dmasing-masing tangan mereka.

Semua berlalu begitu cepat. Saat ia mengungkapkan perasaannya pada Cheon-Sa. Mengungkapkan alasannya mengapa dirinya begitu senang mengganggu Cheon-Sa. Sesungguhnya jawabannya sangat menggelikan untuk Kyung-Soo sendiri. Ia hanya menginginkan gadis itu menyebut namanya. Dan demi mendengarkan Cheon-Sa menyebut namanya, Kyung-Soo rela mendapatkan hukuman-hukuman yang dulu sering didapatnya. Sungguh pemikiran bodoh yang tersirat dikepalanya. Sekarang, jika Kyung-Soo mengingatnya membuat dirinya mampu mengenang kembali hari-harinya dulu. Dan membendung rasa rindunya pada Cheon-Sa yang kadang kala hadir tanpa bisa ia tepis dengan mudah.

“Hyung, ada seorang gadis yang mencarimu.” Itu adalah suara Tao dengan penggunaan bahasa koreanya yang buruk. “Ia cantik sekali,” Tao berbisik pelan ketika ia berada disisi Kyung-Soo.

Dengan rasa penasaran yang tinggi, Kyung-Soo menatap Tao seolah bertanya dimana ia sekarang. Rasa kagetnya terlihat begitu jelas diwajahnya kini. Seolah menemukan sesuatu yang tak diduganya sebelumnya. Tentu saja jika melihat bagaimana cantiknya gadis yang berada didepannya kini. Bahkan Tao yang biasanya nampak malu-malu dengan mudahnya mengatakan gadis itu cantik. Yang kenyataannya memang terlihat cantik.

Perasaan rindu yang membuncah itu lenyap begitu saja begitu melihat gadis yang begitu cantik tengah berdiri beberapa langkah didepannya. Dengan dres berwarna pink yang tampak membuatnya begitu manis. Berbagai pertanyaan muncul dikepalanya. Sejak kapan gadis itu senang mengenakan pakaian seperti itu? Bukankah dulunya Cheon-Sa yang sering dilihatnya itu sering sekali mengenakan celana pendek dan kaos yang kebesaran ditubuhnya. Beberapa tahun tak melihatnya membuat pandangan Kyung-Soo tentang Cheon-Sa berubah drastis Cheon-Sa yang sekarang begitu manis dan cantik. Tidak seperti dulu lagi, Cheon-Sa yang pemarah dan senang bertengkar dengannya.

“Kau tidak mengenalnya ya, Hyung? Kau terlihat aneh saat melihatnya,” canda Tao yang dibalas pelototan tajam dari Kyung-Soo. “Oh ya, Suho Hyung bilang bicaranya disambung nanti saja karena kita akan segera naik kepanggung. Ne, Hyung. Kutinggal dulu.” Tao buru-buru menjauh dari tempat itu tak benar-benar ingin dipelototi oleh Kyung-Soo lebih lama lagi.

Sepeninggal Tao, Kyung-Soo masih terdiam ditempatnya berdiri sekarang. Sementara Cheon-Sa nampak tak nyaman. Mungkin karena Kyung-Soo yang terus memandanginya membuat Cheon-Sa beranggapan ada yang aneh dengan dirinya.

“Aku tidak terlambat datang, bukan?” tanya Cheon-Sa saat Kyung-Soo terlihat tak ingin mengajaknya bicara lebih dulu. Entahlah, hanya saja Kyung-Soo terlihat terpesona dengan gadis didepannya. Ada yang berubah dengan Cheon-Sa, tentu saja itu memang benar.

Kyung-Soo menggaruk bagian belakang kepalanya yang sebenarnya tidak gatal, hanya bentuk pengalihannya dari rasa gugupnya.

Kyung-Soo berdehem pelan, “Tidak sama sekali,” sahutnya. “Kuharap kau mau menungguku menyelesaikan penampilanku. Ada banyak hal yang ingin kubicarakan denganmu tapi rasanya dengan waktu yang kumiliki sekarang rasanya tak mungkin. Maukah kau menungguku?” tawar Kyung-Soo mengingat sebentar lagi dirinya harus segera tampil.

Cheon-Sa tersenyum kecil lalu mengangguk, “Tentu saja aku mau.” jawabnya cepat.

Kyung-Soo merasa lega mendengarnya hingga tanpa disadarinya ia tersenyum penuh ceria. “Baiklah. Kau bisa duduk disalah satu kursi yang tersedia disini selama menungguku.” Kyung-Soo mengarahkan pandangannya pada sekeliling ruangan itu. “Aku tidak akan lama, Cheon-Sa~ya,” sambung Kyung-Soo seakan-akan takut gadis itu akan pergi lagi.

***

“Kau sekarang menjadi terkenal,” ucap Cheon-Sa.

Kyung-Soo mengangguk singkat, “Ne,” sahutnya.

“Kau pasti sekarang sangat sibuk. Kau jadi sering bepergian kemana-mana, kurasa itu sangat menyenangkan.”

“Kau benar. Dan aku sangat menikmati apa yang kukerjakan sekarang.”

“Aku tidak tahu jika cita-citamu adalah menjadi seorang penyanyi. Kau tidak pernah membicarakannya dulu,” ucap Cheon-Sa.

Kyung-Soo menatap kearah Cheon-Sa namun gadis itu terlihat tengah sibuk mengamati minumannya.

“Dulu kita terlalu sibuk untuk bertengkar dan saling mengejek satu sama lain. Lucu rasanya jika mengingat kelakuan kekanak-kanakan kita dulu. Namun jika mengingat itu semua membuatku merasa senang karena itulah kenanganku denganmu,” ucap Kyung-Soo seraya mengingat kembali masa-masa sekolahnya bersama Cheon-Sa dulu.

Cheon-Sa mengangkat wajahnya, tatapannya bertemu dengan mata milik Kyung-Soo yang dirindukannya. Cheon-Sa tersenyum kecil lalu menyeruput minumannya. “Kupikir aku tak perlu menanyakan kabarmu lagi. Karena sepertinya kau terlihat baik-baik saja, setidaknya begitulah yang kulihat sekarang darimu.”

“Apakah menurutmu aku terlihat baik-baik saja, Cheon-Sa~ya?” tanya Kyung-Soo.

Cheon-Sa mengerutkan dahinya, menatap Kyung-Soo dengan manik matanya yang meredup. Cheon-Sa mungkin bisa mengerti maksud dari pertanyaan Kyung-Soo padanya itu. Sama seperti dirinya, orang lain mungkin bisa melihat jika ia tampak baik. Namun siapa yang bisa menebak hati dan pikiran seseorang. Jauh sebelumnya Cheon-Sa merasa cemas memikirkan pertemuan dengan Kyung-Soo setelah ia memutuskan untuk pergi dari pria itu. Mungkin saja Kyung-Soo menjadi benci padanya apalagi dirinya yang sama sekali tak berkomunikasi lagi dengan Kyung-Soo.

“Kenapa kau bertanya seperti itu?”

“Tidak. Hanya saja aku ingin tahu bagaimana pendapatmu tentangku sekarang,” ungkap Kyung-Soo. “Kau tidak menghubungiku lagi setelah pindah ke Jepang. Kupikir kau telah lupa padaku,” sambungnya saat Cheon-Sa tak tampak membuka mulutnya.

Cheon-Sa menggigit bibir bawahnya. Apakah Kyung-Soo membencinya sekarang? Tapi ia melakukan itu bukan tanpa alasan.

“Mulai sekarang aku tidak akan membiarkanmu pergi dariku tanpa memberi kabar lagi. Berjanjilah padaku untuk tidak menghilang tanpa kabar lagi, Cheon-Sa~ya. Kau tidak tahu bagaimana lelahnya aku memikirkanmu. Karena itu aku memutuskan untuk mengikuti audisi, menjadi seorang penyanyi yang terkenal dan berharap kau bisa melihatku lagi. Dengan begitu ada harapan untukku bertemu lagi denganmu. Setidaknya itu yang kuharapkan.”

“Maafkan aku. Aku sama sekali tak tahu jika itu benar-benar berpengaruh padamu.”

“Aku tidak akan memaafkanmu jika kau menghilang lagi. Berjanjilah tidak akan menghilang dariku lagi. Berjanjilah kau akan tetap menghubungiku walaupun aku akan sangat sibuk nantinya.” Ucap Kyung-Soo.

Cheon-Sa mengganggukkan kepalanya dengan dihiasi senyuman. Melihat itu membuat rasa bahagia mengembang dalam diri Kyung-Soo. Penantiannya yang berujung pada apa yang ia harapkan. Disinilah mereka sekarang saling mengucap janji satu sama lain. Dan pada akhirnya Kyung-Soo mengetahui bahwa Cheon-Sa tak benar-benar menghilang darinya. Gadis itu telah kembali padanya. Takdir telah membawa mereka kembali bersama setelah sempat terpisahkan.

 

=END=

 

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s