Let Me Love You

Title .:. Let Me Love You

Genre .:. Romance, Comedy

Author .:. Sparyeulhye (@sparyeulhye)

Cast .:. Cho Kyu-Hyun, Park Jin-Hye

-oOo-

“Ck…Apa yang kau pikirkan, Hye?” Ji-Kyung meleparkan bantal kearahku. Aku tak berniat untuk membalasnya. Pada kenyatannya saat ini aku tak punya mood sama sekali untuk bertengkar dengannya. Sialan! Aku benci. Benci sekali. Pada diriku yang bodoh ini.

“Keluar dari kamarmu. Temui para pria diluar sana. Pikat mereka dengan pesonamu dan lupakan sibrengsek itu. Ia tak pantas mendapatkan air matamu.” Kata Ji-Kyung lagi.

Aku menatapnya kesal. Menemui pria diluar sana, memikat dengan pesonaku? Apa hanya itu ide yang ada diotaknya? Lebih baik ia mencarikanku cara bunuh diri yang baik, yang tidak sakit, yang tidak dibenci Tuhan dan yang tidak berakhir di neraka tentunya. Agar aku bisa dengan tenang meninggalkan dunia ini nantinya. Lagi pula siapa yang akan terpesona denganku, sibrengsek itu jadian denganku juga karena taruhan. Brengsek! Aku ingin mengulitinya dan selingkuhannya itu.

Mana ada pria yang akan terpesona denganmu kalau penampilanmu saja seperti sadako. Bahkan sadako lebih baik dari penampilanmu sekarang.” Cacinya seakan bisa membaca pikiranku. Tega sekali ia padaku seakan tidak ada cacian lain yang lebih baik dari itu. Keluarkan saja semua cacian terburuknya padaku mumpung taringku sedang tumpul jadi aku tidak bisa menggigitnya jika aku marah.

Ji-Kyung menarik tubuhku menghadap cermin. Memaksaku menatap bayanganku disana. Mengerikan sekali penampilanku sekarang. Rambut acak-acakan, mata bengkak dengan bulatan hitam yang disekeliling mata. Huwaaa… Siapa yang telah mengubahku!!

“Lihat!” Ji-Kyung menunjukkan foto frameku yang tengah tersenyum manis. Sangat manis, oh ralat, sangat alay. Aku lupa pernah berfoto dengan pose seperti itu. Ji-Kyung~ah, ingatkan aku membuang foto itu nanti. Shit! Itukan sibrengsek yang mengambil fotonya. Untung Ji-Kyung tidak tahu, kalau tidak, ia sudah membuangnya sejak lama. Apa aku mengharapkan menyimpannya lag? Tapi difoto itu, aku terlihat sedikit errr … cantik. Ok, hanya untuk menyenangkan hatiku sekarang.

“Kau lihat bayangan sadako versi nyata itu?” tanya Ji-Kyung menunjuk bayanganku dicermin, dengan kejamnya ia menyamakanku dengan sadako. Bukankah beberapa saat yang lalu ia sendiri yang mengatakan padaku kalau sadako penampilannya jauh lebih baik dari aku. Awas saja jika nanti si sadako menemuiku gara-gara marah ia disamakan denganku. O, dipikirnya siapa juga yang mau disamakan dengan hantu Jepang yang keluar dari tv itu. Ini nih akibatnya punya teman yang doyannya sama film horror. Jauh lebih menyenangkan membayangkan Robert Pattinson yang keluar dari tv-ku daripada si sadako, atau Lee Min-Ho juga tidak masalah.

“See! Baru tuga hari kau patah hati wajahmu sudah terlihat mengerikan seperti sekarang.” Mulut Ji-Kyung itu berduri dan beracun. Melukai sekaligus membunuh dalam satu hentakan pelan namun pasti.

“Baiklah! Baiklah! Lalu apa yang harus kulakukan?” aku menggeram frustasi. Mengacak-ngacak rambutku. Kali ini bukan karna patah hati yang kualami melainkan karena sikap Ji-Kyung. Untungnya kepalaku bukan ladang hewan bernama Kutu. Kalau tidak, mereka bisa protes. Menggigit kepalaku. Menghisap darahku sampai habis. Oh Tidak! Itu mengerikan.

Ji-Kyung mengusap-usap kepalaku seolah aku anak anjing yang berhasil ia jinakkan. Sial.

“Langkah pertama, kita mempermak ulang wajahmu dulu,” katanya dengan gaya sok berpikirnya. Cih, memangnya aku barang rongsokkan yang perlu dipermak ulang.

“Kita ke salon sekarang.”

Aku turun dari ranjang dan beranjak menuju pintu keluar. Sebelum menyentuh gagang pintu kudengar suara melengking Ji-Kyung memanggil namaku. Anak ini berpotensi menyebarkaan penyakit tuli akut pada orang disekitarnya. Kasian tetanggaku mendengarkan suara lengkingannya yang berbahaya dan wajib diwaspadai itu.

“Mau kemana kau?”

“Aku haus, Ji-Kyung-ah. Biarkan aku minum dulu atau kau ingin aku meminum darahmu.” racauku tanpa peduli bagaimana wajah menyeramkan Ji-Kyung sekarang.

-oOo-

“Ingat kataku, Hye~ya. Jika bertemu dengannya jangan menunjukkan wajah terlukamu dan yang terpenting jangan menangis didepannya. Karena itu akan membuatnya semakin besar kepala,” ucap Ji-Kyung yang berdiri didepanku dengan wajah menyebalkannya.

Saat ini kami berada dikoridor gedung kampusku. Beberapa meter maju kedepan adalah ruangan fakultas seni, tempat orang itu biasanya berada. Sebenarnya bisa saja memutar dan tak harus mlewati koridor depan ruangan tersebut namun Ji-Kyung bilang aku tidak boleh menghindar lagi. Aku harus menunjukkan kalau aku baik-baik saja setelah peristiwa menggemparkan hatiku itu. Sudah cukup waktu tiga hari yang kuhabiskan untuk merenungi nasib dan kebodohanku.

“Aku ingat semuanya, Ji. Kau bahkan sudah mengulangnya berkali-kali sejak kita berangkat tadi,” sahutku jengkel.

Ji-Kyung mengangkat bahunya, “Hanya mengingatkan, siapa tahu otakmu mengalami syndrom alzhemir setelah putus dari orang itu.” ucapnya menyebalkan.

Sebenarnya aku tak benar-benar siap untuk hari ini. Intuisiku mengatakan hari ini tak akan berjalan baik. Berterimakasihlah pada instuisiku yang tak meleset itu. Diseberang sana, seorang pria tengah asik bercanda dengan teman-temannya. Kemungkinan bertemu dengannya sangatlah besar. Dan sialnya aku harus melewati koridor itu untuk sampai kekelasku. Bolehkah aku berubah wajah sekarang? Aku tak ingin ia melihatku karena aku tak yakin dapat mengendalikan diriku. Bahuku menegang seketika ketika tak sengaja matanya menyapu kearahku. Oh Tuhan, aku ingin melepas sepatu hightheelsku dan berlari sejauh mungkin dari tempat ini. Aku bersiap berbalik arah namun sialnya Ji-Kyung menyadari gelagatku. Ia melotot padaku; mencengkram tanganku erat, mencegahku kabur. Ji-Kyung sama sekali tak memahami situasiku yang darurat ini. Ia malah menyeretku untuk mengikuti langkahnya.

Dalam hati aku menghitung mundur, seperti bom waktu yang menunggu saat yang tepat untuk meledak. Memporak-porandakan hatiku. Semakin dekat dan terus mendekat. Aku tak bisa menghentikan langkah Ji-Kyung yang benar-benar bersemangat menyeretku, langkah-langkah menuju kehancuranku. Kupejamkan mataku ketika berjalan melewatinya. Untungnya aku berada disisi kiri Ji-Kyung dan orang itu berada disisi kanan Ji-Kyung sehingga cukup melindungiku. Perlahan kubuka mataku. Eh, sudah terlewatikah? Aku mengelus dada lega namun hanya sebentar saat kudengar suaranya memanggil namaku. Kugigit bibir bawahku dengan gusar. Oh tidak, habislah aku.

Aku menangis tersedu-sedu dikelasku dengan wajah menangkup diatas meja. Tak kupedulikan bisikan-bisikan orang-orang akan tindakanku ini. Apa peduli mereka? Kudeta hati ini sungguh menyiksaku, menyebabkan hatiku terpatah-patah. Asal mereka tahu saja, jika aku patah hati aku sanggup memakan manusia kalau mereka membuatku kesal. Rasanya makan manusia dua tiga orang tidak akan membuatku puas. Berikan pengecualian pada Ji-Kyung yang kuyakini rasa dagingnya sangat tak enak dicicipi oleh lidahku. Kukira dengan mengurung diri selama tiga hari sudah membuatku baik-baik saja namun nyatanya itu tidak benar sama sekali. Disebelahku Ji-Kyung mengelusi punggungku. Bukannya menenangkanku, ia justru memarahiku karena tak bisa bersikap sebagai gadis yang kuat. Mau bagaimana lagi, aku sudah berusaha namun kenyataannya aku memang tidak bisa.

Ji-Kyung mengguncang-guncangkan tubuhku sambil mulutnya melafalkan namaku. “Hye~ya…” kutepis tangannya menjauh dari tubuhku. Aku tak ingin diganggu olehnya. Kalau mau nanti saja setelah aku selesai dengan ritual tangisku.

“Park Jin-Hye! Setelah pembelajaran selesai, temui saya diruangan saya!”

Aku mendongak. Mataku yang masih kabur akibat air mata menangkap seluit tubuh seorang pria, berkemeja kotak-kotak dan berkacamata. Aku mengucek-ngucek mataku sepersekian detik berikutnya aku terperangah kaget. Jadi ini maksud Ji-Kyung memanggil-manggil namaku. Karena terlalu fokus menangis, aku tidak menyadari kehadiran sosok yang berdiri didepan kelas itu.

“Mian, Hye~ya. Aku lupa menyampaikan info penting ini padamu. Cho seosaengnim mencarimu karena tidak hadir tiga hari berturut-turut.” Ji-Kyung berbisik ditelingaku. Aku menatapnya dengan muka memelas. Kesialan apa lagi yang akan menimpaku.

-oOo-

“Membolos, tidak mengikuti ujian. Katakan apa pembelaanmu mengenai pelanggaran yang kau lakukan, Nona Park?” pria itu berkata dengan nada tegasnya.

Aku menunduk menyembunyikan wajahku. Menghadap Cho seosaengnim adalah hal sangat ingin kuhindari. Ia termasuk salah satu dosen yang perlu diwaspadai. Diusianya yang tergolong masih muda namun sudah menjadi dosen pengajar dan yang terpenting ia sangat galak. Berurusan dengannya bukan perkara yang mudah. Bagian bawah bajuku sudah kusut akibat ulah tanganku sendiri.

“Kau masih punya mulut untuk menjawab ‘kan?” tanyanya sarkatis.

Aku mengangkat wajahku; menatapnya balik. Ia dengan mata tajamnya menatap lurus kearahku. Aku menunduk lagi, menyembunyikan wajahku yang aku yakin terlihat menyedihkan sekarang. Jika tak ada Cho seosaengnim disini, aku sudah memukulkan kepalaku kebenda apapun yang bisa membuatku melupakan kejadian yang kualami. Mengalami gegar otak mungkin lebih baik dan menjadi orang bodoh disisa akhr hidupku. Itupun kalau Tuhan berbaik hati masih memberiku kesempatan hidup.

“S-sa-saya…” entah kenapa rasanya susah sekali mengeluarkan suaraku. Yang terlihat aku justru seperti ikan lohan yang megap-megap kehabisan air. Tak mungkin kan kukatakan yang sebenarnya. Akan sangat memalukan jika ia tahu yang sebenarnya terjadi padaku selama tiga hari terakhir. “S-saya rasa apapun alasan saya, Anda tak perlu tahu,” ucapku dengan satu tarikan nafas. Sial! Kelepasan. Bukan itu yang ingin kukatakan. Jika tatapan bisa membunuh maka matilah aku sekarang. Mati! Mati! Rutukku dalam hati.

“Baik. Kalau begitu jangan tanyakan alasan saya memberikan bimbingan selama satu minggu sebagai hukumanmu,” suaranya terdengar tenang namun penuh ancaman.

Hati kecilku berusaha untuk menahan diri tidak memprotes. Tapi memang dasar hati kecil dan mulut tidak sinkron, jadilah aku kelepasan bicara lagi. Kali ini Cho seosaengnim benar-benar marah dan tak berniat meringankan hukumanku. Ia mengusirku menggunakan telunjuknya yang mengarah kepintu keluar.  Dan pada akhirnya aku keluar dari ruangannya dengan wajah tertunduk lesu. Dan besok neraka duniaku akan dimulai dengan seorang pengawas yang menakutkan, Cho seosaengnim.

-oOo-

Kulirik lagi secarik kertas ditanganku yang bertuliskan alamat rumah. Lalu aku mendongakkan wajahku menatap gerbang rumah yang tertutup rapat tepat didepanku. Mencocokkan nomor rumah yang tertulis disana dengan yang tertera disisi bagian depan tembok gerbang rumah. Tidak salah lagi, rumah didepanku inilah rumahnya Cho seosaengnim. Tidak mungkin kan ia mencoba untuk menyesatkanku kecuali ia memang dosen yang senang membuatnya mahasiswinya sengsara.

Sekarang aku dihadapkan pada dilema besar. Panggil atau pencet belnya? Atau lebih ekstrimnya lagi, panjat pagarnya lalu dobrak pintunya dan aku akan berakhir dikantor polisi karena merusak rumah orang. Aku tak ingin masuk. Bisakah Cho seosaengnim hari ini mendapatkan dinas keluar kota selama seminggu jadi aku tak perlu menemuinya, atau sebulan atau selama-lamanya saja juga tak masalah buatku.

Seorang wanita muda tengah berjalan kearahku. Tiba-tiba dalam otakku berseleweran pertanyaan-pertanyaan tentang siapa wanita itu? Aku meringis bodoh. Apa yang kupikirkan? Siapapun wanita itu bukan urusanku. Jika ia adalah simpanannya pun bukan urusanku. Yang terpenting aku datang dan melakukan tugasku lalu pulang dengan hati yang semoga saja tidak remuk akibat keganasan Cho seosaengnim.

“Mencari seseorang?” tanya wanita itu.

Aku berdehem kecil dan tersenyum padanya. “Cho seosaengnim-nya ada?”

Kening wanita itu mengkerut, lalu kemudian tertawa membuatku berpikir jika memang benar Cho seosaengnim memberikan alamat yang salah padaku. Dalam hati aku mengutuk dosenku itu.

“Apa setiap hari Kyu-Hyun dipanggil seperti itu?” ia justru bertanya padaku. Aku yang tak tahu harus menjawab apa hanya menganggukkan kepalaku.

“Sesuai sih dengan wajahnya yang tua itu.” ucap wanita itu dengan tawa renyahnya yang serenyah keripik yang dibawakan Ji-Kyung kemarin. “Oh, ya. Perkenalkan aku kakaknya Kyu-Hyun.”

O, aku melongo sesaat. Dapat dibayangkan bagaimana reaksinya jika ia tahu aku menebaknya sebagai simpanan Kyu-Hyun. Ck, aku jadi ikut-ikutan memanggil dosenku itu dengan namanya saja. Persetan dengan norma kesopanan. Toh, ia sudah kuanggap seperti setan dipikiranku.

“Masuklah. Akan kupanggilkan Kyu-Hyun.”

Oh, TIDAK!! Nerakaku akan dimulai dalam beberapa detik lagi.

-oOo-

Aku butuh bantuan Ji-Kyung sekarang. Melihat tumpukkan soalnya saja membuat kepalaku serasa melayang-layang. Teringat bimbingan hari pertamaku kemarin seperti membuka kembali mimpi buruk yang ingin kulupakan dengan cepat dan tak berbekas. Cho seosaengnim sangat baik hati memberikanku tugas rumah sebanyak tumpukkan kertas yang ada diatas ranjangku itu.

Ji-Kyung menatap horor kamarku. Matanya nampak bergerak kekiri dan kekanan, menatap bergantian kearahku dan tumpukan kertas soal yang kutaruh diatas ranjangku. Telunjuknya mengarah pada tumpukkan kertas tersebut. Mulutnya dengan gagap bertanya padaku. “Kau yakin semua itu yang diberikannya padamu?”

Aku memutar bola mataku dan menganggukkan kepalaku sebagai jawaban ya. Aku berkata jujur saat menelponnya tadi. Jika ia berpikir aku membohonginya maka lihat saja sendiri pada tumpukkan kertas diranjangku itu.

“K-kau serius? Ternyata benar apa yang dikatakan anak-anak, berurusan dengan Cho seosaengnim sangat tidak mudah. Oh, Hye, bagaimana kau bisa terjebak dalam masalah seperti ini?”

Aku mengangkat bahuku. Jika aku tahu akan seperti ini, aku tidak akan mau berurusan dengannya. Mengingat bagaimana ia memberikan pelajaran singkat padaku kemarin membuatku ngeri seketika membayangkan selama satu minggu aku akan terjebak dengannya.

“Kau pikir aku mau? Sedikit pun tidak terpikir diotakku berurusan dengan orang itu.” aku bersandar disandaran sofa, mengistirahatkan punggungku yang terasa pegal.

Ji-Kyung berjalan kesisi ranjangku dan meletakkan bokongnya disana. Tangannya nampak membolak-balik kertas soal itu. “Aku memang lebih pintar darimu jika mengingat nilai akademis kita tapi melihat soal sebanyak ini kurasa aku tidak akan sanggup mengerjakannya dalam sehari. Kau yakin bisa mengerjakannya dalam sehari, Hye?” Ji-Kyung bertanya tak yakin.

Aku berdecak kemudian memposisikan tubuhku kembali tegak. Meletakkan tanganku didada dan menatapnya dengan pandangan menyipit. Aku merasa ia baru saja mengataiku. Ok, ia memang lebih pintar dariku tapi tidak seharusnya ia mengatakannya didepanku juga, kan? Aku berdehem kecil. Bantuan Ji-Kyung sangat kubutuhkan sekarang jadi sebisa mungkin aku tidak membuatnya kabur dari rumahku hanya karena ucapanku.

“Ji-Kyung~ah, maka dari itu aku butuh bantuanmu.” Kutangkupkan kedua tangan didepan dada, memohon padanya. “Bantu aku mengerjakannya, ya?”

“Sudah kuduga kau pasti meminta bantuanku,” sahut Ji-Kyung membuatku tersenyum kikuk padanya. “Kuberi tahu kau, saat ini aku sedang tidak ingin berbuat baik, Hye.” Ia menyeringai padaku.

“Baiklah. Baiklah. Apapun yang kau inginkan!” kataku dengan nada pasrah. Ji-Kyung memasang wajah penuh seringai kemenangannya.

-oOo-

“Mana tugas yang kuperintahkan kemarin?”

Astaga! Aku baru menyentuhkan kakiku dirumahnya beberapa detik yang lalu dan belum menyempatkan pantatku menyentuh empuknya kursi. Ia dengan teganya sudah menanyaiku tugas itu. Keterlaluan! Seharusnya ia mempersilahkanku duduk lebih dulu lalu memberiku makan karena jujur saat ini aku sangat-sangat lapar. Atau ia ingin kumakan sekarang? Membuat jengkel saja.

“Jangan melamun. Cepat keluarkan!” ia mengibaskan tangannya didepan wajahku. Rasanya ingin kutangkap tangannya dan kugigit sampai putus. Biar tahu rasa! Huhh! Dengan kesal kuraih tasku, merogoh isinya mencari-cari benda yang dimintanya itu.

“Jangan bilang kau lupa membawanya karena aku tidak akan mentolerir jika sampai kau lupa membawanya,” ucapnya dengan mata memicing.

Pernah dengar istilah; Jangan membangunkan singa yang sedang lapar. Belum? Sekarang sudah dengar, kan? Pesanku, jangan dekati singa itu. Sekalipun mau, tanggung resikonya sendiri. Ada hubungannya denganku? Tidak sama sekali. Karena aku bukan lah singa itu, walaupun saat ini aku juga lapar. Dan lagi aku tidak bisa mengaum seperti singa. T_T

“Bagaimana bisa kau masuk Universitas negeri dengan kemampuan otak seperti ini?” rentetan kalimat kejamnya yang terus menguar dari mulut beracunnya. Jika seperti ini, aku akan melupakan rasa terpesonaku padanya. Cih, bagaimana mungkin aku sempat terpesona padanya disaat-saat ia menyiksaku dengan bimbingannya yang seperti di camp militer saja. Salahkan ia yang berpenampilan wow dimataku. Jauh berbeda dengan penampilannya dikampus setiap harinya. Tidak ada kemeja kotak-kotak dan kacamatanya itu.

“Kau tahu kan aku sudah berusaha mengerjakannya dengan baik? Jika tetap salah, itu berarti kau yang tidak becos mengajariku!” rutukku kesal. Sudah kubilangkan, lupakan norma kesopanan jika berhadapan dengannya. Semakin bersikap sopan, semakin ia menekanku. Siapa yang tahan diperlakukan seperti itu! Aku? Tidak! Terimakasih.

Aku masih kesal dengannya. Setelah kuserahkan tugasku padanya. Tahu apa yang dilakukannya? Ia hanya memeriksa sebentar lalu diletakkannya diatas meja. Aku sudah capek-capek mengerjakan tugas yang diperintahnya, ya walaupun dengan bantuan Ji-Kyung. Tetap saja aku kesal. Sangat-sangat kesal. Untuk apa memberi tugas kalau hanya untuk dilihat!! Duh, aku sudah seperti singa yang siap menerkamnya ditempat.

-oOo-

“Kyu-Hyun sedang pergi keluar. Masuklah, tunggu didalam saja. Sebentar lagi ia juga datang,” ucap Ah-Ra eonnie yang membukakan pintu untukku. Aku menurut dan mengekor dibelakangnya tanpa bicara apapun.

Aku hampir mati kebosanan menungguinya. Jika saja aku tidak mengingat bagaimana aku akan berakhir nantinya, sudah sejak tadi aku pergi dari sini. Kabur lebih tepatnya. Aku menggeleng-gelengkan kepalaku mengusir rasa bosan yang menderaku. Aku benci keadaan seperti ini, dimana aku harus menunggu tanpa tahu batas waktunya kapan. Harusnya pria itu menghubungiku lebih dulu dan mengatakan padaku jika ia tak bisa muncul diwaktu yang telah kami sepakati. Tidak, bukan kami tapi ia sendiri. Ia yang menentukan waktunya kapan dan aku harus pasrah dibawah tekanannya.

Kuharap saat ini aku bisa mempunyai alat yang bisa menyeret orang sesukaku. Tak perlu repot menunggu seperti orang bodoh. Suara deru mobil terdengar dari arah depan. Kurasa itu adalah mobil orang yang telah membuatku tersiksa kini. Tanpa berpikir panjang, kau bergegas menuju pintu depan dan bersiap menerkamnya dengan rentetan kalimat kemurkaan dariku.

Belum sempat aku menyentuh gagang pintu, pintu itu telah terbuka dengan sendirinya dan seseorang muncul dari balik pintu tersebut.

Ada apa dengannya? Kenapa wajahnya terlihat memprihatinkan seperti itu? Apa ia baru saja diterpa angin topan saat diperjalanan pulang tadi? Dan lagi, sejak kapan aku jadi pembaca ekspresi wajah seperti sekarang? Hebat. Cho Kyu-Hyun tak hanya mengajariku ilmu hitung namun secara tak langsung ia telah mengajariku menjadi cenayang.

Kyu-Hyun melirik sebentar kearahku kemudian mengalihkan pandangannya kearah lain. Apa-apaan ekspresi wajahnya itu! Tidak tahu apa jika aku sedang kesal padanya.

“Kenapa ponselmu tidak aktif? Aku mencoba menghubungimu berkali-kali namun tidak tersambung,” tanyanya dengan nada datar.

Keningku berkerut bingung. O, ia menghubungiku? Astaga, bagaimana aku bisa lupa? Ponselku rusak, terjatuh di toilet kampus saat sedang mengobrol dengan Ji-Kyung. Salahkan Ji-Kyung yang membuatku kaget hingga membuat ponselku lepas dari genggaman tanganku.

Dengan sedikit kikuk aku menjawab, “Ponselku rusak dan aku belum membeli ponsel yang baru lagi.”

TBC???????

Advertisements

17 thoughts on “Let Me Love You

  1. Waahhh..ceritanya seru, aku kira cowo yg jadiin Jinhye taruhan itu Kyuhyun ternyata bukan.

    Eonnie, aku tunggu ya cerita selanjutnya, jgn lama2 ya eonnie 😀

  2. Aku kira tadi yg selingkuhin jinhye itu kyuhyun eh teryata bukan.
    apa kyu keluar untuk nyariin jinhye karena fia hawatir sama hye karena ponselnya gk aktif
    Next part ditunggu ya author
    Faighting. 🙂

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s