Because It’s Still You

Because It’s Still You

Cast .::. Zhang Yi Xing, Hwang Seo Young

yixing

“Kau tunggu disini. Aku ingin membeli minuman hangat dulu, ok?” Yi Xing menganggukkan kepalanya singkat. Perempuan itu tersenyum, “Tunggu aku dan jangan kemana-kemana.” Ulang perempuan itu lagi.

Yi Xing tertawa pelan, lalu mengulurkan tangan kanannya untuk menyentuh puncak kepala perempuan setinggi bahunya itu. Tersenyum lembut hingga nampak lesung pipi diwajahnya yang sedikit pucat. Perempuan itu mendongak menatap balik pada sang pria. Terpesona untuk kesekian kalinya. Senyum menularnya yang manis dan menenangkan untuk perempuan itu, mampu membuatnya ikut menarik bibirnya membentuk senyum. “”Aku tahu, Seo. Aku akan disini sampai kau kembali.” Ucap Yi Xing.

“Aku pergi dulu,” ucap perempuan itu. beranjak meninggalkan Yi Xing sendiriran setelah sebelumnya memberikan kecupan dipipi kanan pria itu. Kakinya melangkah dengan masih mengahadap kearah Yi Xing sambil tersenyum lembut. Kemudian berbalik dan membaur dengan pengunjung lainnya.

Yi Xing mengatakan ini adalah kencan untuk mereka berdua. Seo Young sebenarnya sempat tak setuju dengan ide yang diutarakan Yi Xing. Bagaimanapun bagi Seo Young, kesehatan Yi Xing lebih penting ketimbang kencan yang mereka lakukan sekarang. Cuaca dingin membuat Seo Young enggan menyetujui ide dari Yi Xing. Mengingat saat ini di Korea sudah memasuki musim dingin. Dan pria itu tetap bersikeras ingin pergi bersamanya sekalipun Seo Young sudah menolaknya.

Seo Young mengkhawatirkan kesehatan Yi Xing yang tak bisa berlama-lama berada dicuaca yang dingin. Daya tahan tubuhnya sungguh mengkhawatirkan. Bisa saja penyakit pria itu kambuh diwaktu yang tidak diketahui. Itulah yang menjad alasan Seo Young menolaknya. Melihat Yi Xing menderita membuat hati Seo Young teriris. Bagaimana pria itu berucap bahawa ia baik-baik saja padahal Seo Young tahu itu hanyalah kebohongannya untuk tak membuat Seo Young khawatir.

Namun nyatanya disinilah mereka berada. Di Festival Musim Dingin dipusat kota. Seo Young ingat terakhir kali mereka pergi berkencan. Enam bulan yang lalu. Itu adalah hari dimana Seo Young menghadiri kelulusannya. Yi Xing datang dan memberikan ucapan selamat padanya. Tentu saja itu adalah hari yang membahagiakan untuk Seo Young. Mereka pergi kencan untuk merayakan kelulusan Seo Young. Namun dihari itu jugalah Seo Young mengetahu kenyataan pahit yang memukul hatinya. Menjumpai Yi Xing bersandar dibahunya dengan badan lemas dan darah berwarna merah pekat keluar dari hidung Yi Xing. Kenyataan yang terus membayangi Seo Young tentang kehadiran pria itu disisinya.

Seo Young kembali dengan dua gelas minuman hangat dikedua tangannya. Melangkah dengan sedikit tergesa-gesa. Rambut panjang terurainya bergerak kesana kemari, mengikuti pergerakan badannya. Melewati beberapa pasangan yang berpegangan tangan, berjalan beriringan. Seo Young tersenyum kecut. Apa yang baru saja ia pikirkan tidaklah benar. Tentu saja, ia dan Yi Xing adalah pasangan yang berbeda. Mereka adalah pasangan yang special, seperti yang selalu ia katakan pada Yi Xing. Walaupun tak bisa seperti pasangan lain pada umumnya. Berkencan setiap saat, berlibur bersama. Mereka menghabiskan waktu mereka dengan cara mereka sendiri. Menonton film diruang tamu, mendengarkan dentingan piano yang dimainkan Yi Xing adalah waktu terindah untuk Seo Young. Tak perlu keintiman khusus untuk menunjukkan afeksi kasih sayang dalam hubungan mereka.


“Kau lupa memakai mantelmu lagi. Cuaca diluar dingin, tidak bagus untukmu.” Sebuah mantel tersampir dipunggung Yi Xing. Pria itu menoleh pada seseorang yang telah memberikan mantel padanya. Tersenyum lembut pada Seo Young yang kini turut duduk dikursi yang sama dengannya.

Yi Xing meraih tangan Seo Young dan menggenggamnya. Terasa hangat, seperti perasaan yang menyapunya kini. Ia tahu Seo Young lah yang memiliki andil besar dalam hal itu.

“Terimakasih.”

“Tidak. Jangan berterimakasih padaku.” Ungkap Seo Young lembut. “Kau bertahan disisiku pun aku sudah sangat senang.”

Seo Young benar. Jika Yi Xing berterimakasih padanya sekarang, lalu apa yang akan didapatnya nanti? Ucapan terimakasih Yi Xing hanya membuat Seo Young merasa takut jika pria itu akan meninggalkannya.

“Bisakah kita masuk sekarang? Disini dingin. Aku ingin mendengar kau memainkan piano, Yi Xing. Sudah lama aku tidak mendengarmu bermain piano,” pinta Seo Young.


Begitu melihat Seo Young keluar dari ruang pemeriksaan, pria yang telah menolong Yi Xing tadi bergegas mendekat padanya. Seo Young nampak terkaget menemukan pria itu masih berada disana. Seo Young berpikir pria itu telah pergi setelah mengantarkan Yi Xing dan dirinya ke rumah sakit. Namun, ia dikejutkan dengan kehadiran  pria itu didepannya dan raut wajahnya yang nampak khawatir. Seo Young terlalu fokus pada keadaan Yi Xing hingga melupakan pria itu dan lagi ia belum mengucapkan terimakasih pada pria tersebut.

Seo Young mundur selangkah dengan canggung, pria itu berdiri terlalu dekat didepannya membuatnya merasa tak nyaman. “Ah, maaf, aku belum mengucapkan terimakasih padamu, Tuan. Kalau tidak ada kau mungkin saat ini aku tak bisa menatapnya lagi.” Ucap Seo Young tulus sambil membungkukkan tubuhnya.

Pria itu tersenyum dan mengangguk kecil pertanda ia tak mempermasalahkan hal itu. “Bagaimana keadaannya? Ia…kekasihmu?”

“Membutuhkan penanganan khusus seperti biasa. Ini bukan pertama kali terjadi padanya seingatku ini yang kedua kalinya dalam bulan ini,” terang Seo Young dengan raut wajah kesedihan yang kentara. “Maaf, aku jadi menceritakan ini padamu,” sambungnya menyadari tak seharusnya ia berkeluh kesah didepan orang yang baru dikenalnya.

Pria itu meneliti perubahan wajah Seo Young dan menemukan kesedihan yang mendalam pada wajah gadis yang ditemuinya beberapa saat yang lalu itu. Entah bagaimana, ada bagian hatinya yang turut merasakan kesedihan yang dirasakan oleh Seo Young.

“Dia bukan kekasihku. Mungkin lebih dari sekedar dari kekasih, dia sangat berarti untukku…”

Pria didepannya menautkan alisnya dan bertanya lagi, “Bukan?” terlalu cepat ia memotong ucapan Seo Young. Seakan ucapan Seo Young berarti banyak untuknya.

“Dia suamiku,” jawab Seo Young. Ia memalingkan wajahnya pada pintu disampingnya. Mengintip dari bagian kaca yang terpasang dipintu itu. Pandangannya lurus pada tubuh tak berdaya dengan kabel dan selang yang melekat ditubuhnya.

Tanpa disadarinya ada sepasang mata yang menatapnya kecewa. Apa yang dipikirkan pria itu? Jika ia menaruh hati pada gadis itu, maka lupakanlah. Karena tak akan ada celah untuknya. Semua sisi hati Seo Young telah dipenuhi oleh seorang Zhang Yi Xing, belahan jiwanya.


“Jangan. Jangan lagi. Kumohon.” Seo Young menggumam dipelukan Yi Xing. Sekuat mungkin ia meredam air mata yang mengumpul dipelupuk matanya. Menggeggam erat kemeja rumah sakit yang dikenakan Yi Xing hingga nampak guratan-guratan kain kusut disana. “Aku sangat takut.” Suaranya nampak bergetar.

“Tenanglah. Semua akan baik-baik saja.” Yi Xing berusaha meyakinkan Seo Young. Walaupun kenyataannya kekhawatiran itu tetap muncul dibenaknya. Ketakutannya akan kehilangan yang terus membayanginya setiap saat. Satu hal yang tak bisa ia pungkiri, jika ia tak bisa selalu berada disisi Seo Young. Menggenggam tangan gadis itu seperti biasanya.

Seo Young menggelengkan kepalanya. “Aku benci mendengar kalimat itu.” ungkap Seo Young.

“Kalimat apa?” tanya Yi Xing.

“Semua akan baik-baik saja,..” sahut Seo Young dengan suara pelan. Ia mendongakkan wajahnya menatap kearah Yi Xing dengan mata beningnya yang mulai berair. “…aku tahu itu bohong. Aku tidak ingin kau pergi. Aku tidak ingin kau meninggalkanku, Yi Xing. Aku ingin kau terus bersamaku.”

Nafas Yi Xing tercekat. Ditatapnya Seo Young dengan lekat dan menemukan kerapuhan disana. Sanggupkah? Sanggupkah ia membiarkan Seo Young dengan kerapuhannya itu? Sejauh ini, hanya Seo Young. Hanya Seo Young yang selalu muncul dipikirannya. Bahkan ketika rasa sakit itu muncul. Wajah rapuh dan ketakutan Seo Young lah yang terus hadir dikepalanya. Meninggalkan Seo Young sama saja membuat perempuan itu hancur dengan perlahan. Karena itu, Yi Xing membenci dirinya sendiri. Ia yang tak bisa menjadi pelindung untuk Seo Young.

“Percayalah. Aku tak ingin meninggalkanmu, Seo Young~ah. Aku akan selalu bersamamu. Semua akan baik-baik saja, ne? Setelah pulang dari sini aku akan bermain piano lagi untukmu. Aku akan bernyanyi lagi untukmu. Kau mengerti kan?”

//Draft for Lovely Yi-Xing//

(@sparyeulhye)

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s