ON DAYS THAT I MISS YOU

ON DAYS THAT I MISS YOU

Cast .::. Kim Ki-Bum, Park Ah-Yeon

-oOo-

Gambar

Ia merasa terasingkan di dunia gemerlap yang digelutinya.

Tatkala ia tak mampu lagi mengenal apa yang menjadi tujuan awalnya.

-oOo-

Suhu kamar itu terasa hangat meskipun di luar tampak tumpukkan salju yang bertumpang tindih membentuk gundukan dimana-dimana. Dinginnya suhu dimusim dingin saat ini tak mampu menembus dinding tebal sebuah bilik kamar yang temaram. Musim dingin telah memasuki puncaknya, tak mengherankan jika menemukan mesin-mesin penghasil panas ditiap gedung bangunan. Tak terkecuali disebuah bilik kamar berukuran cukup besar melebihi sebuah kamar tidur pada umumnya. Dengan perabotan mewah yang tersusun rapi dibeberapa bagian sudut kamar. Membuktikan jika sang pemilik begitu memuja keindahan dalam huniannya.

Dibawah tumupkan selimut tebal, sesosok tubuh masih membenam menikmati ayunan mimpi alam bawah sadarnya. Tidak terpengaruh dengan hiruk-pikuk orang diluaran yang mulai memenuhi jalanan. Seperti mentari yang enggan muncul menampakkan dirinya, sosok itupun enggan bangun dari kenikmatannya. Bahkan ketika sebuah sapuan lembut menyapu permukaan kulit punggungnya yang tak tertutup kain, sosok itu masih menutup matanya erat. Layaknya sapuan penenang baginya untuk tetap terlelap.

Ia menggeliat namun tak mengubah apapun. Sepertinya, mimpinya masih terus berlanjut sampai pada titik jenuh sarafnya memompa rajutan mimpi indahnya. Sulit untuk melepaskan begitu saja ketenangan yang ia dapatkan. Setelah sebelumnya bergulat dengan kesibukan baru sekarang ia merasakan nikmatnya waktu senggang. Namun kenyataannya, sedikit waktu istrahat yang didapatnya tidaklah cukup dirasakannya. Terkadang ia membenci waktu yang begitu cepat berlalu. Disaat ia menginginkan saat-saat terindah dalam hidupnya dengan bercengkrama dengan Yeon harus terhalang dengan jadwal kerjanya yang terkadang datang dengan membabi buta tanpa bisa diabaikan.

“Pesawatmu akan berangkat jam 10 nanti. Jangan sampai keterlambatanmu mengacaukan jadwal yang sudah direncanakan,” sebuah alunan kalimat menguar dari mulut seseorang yang berdiri dengan sedikit membungkuk disisi ranjang. Masih setia dengan senyumannya memandangi pahatan wajah tampan yang terpampang jelas didepannya. Merasa tak mendapati perubahan, orang itu mengguncang tubuh yang masih terlelap nyaman tersebut. Membutuhkan beberapa kali guncangan dibahunya untuk membuat sang pemilik tubuh bereaksi. Tak berapa lama, sosok itu mulai membuka mata secara perlahan.

“Bagus. Mandi dan bersiap-siap. Semua kelengkapanmu sudah kusiapkan.” ucap orang itu dan berjalan menuju lemari yang berseberangan dengan ranjang. Mengambil beberapa helai pakaian disana yang diperuntukkan untuk orang yang baru saja dibangunkannya. “Ayolah, Ki-Bum.” tekannya lagi ketika pemilik nama itu terlihat enggan untuk beranjak dari atas ranjang.

“Semua keperluanmu sudah kusiapkan dalam kopermu. Sebentar lagi Jun-Ki oppa akan menjemputmu.”

Jemari wanita itu merapikan rambut Ki-Bum yang kini terlihat mulai memanjang hingga menyentuh lehernya. Bau harum shampo menguar disekitar Ki-Bum. Pri itu baru saja selesai mandi dan telah bersiap untuk berangkat. Dengan pakaian rapi yang membalut tubuhnya sekarang, ia nampak begitu sempurna. Yeon tersenyum melihat bagaimana penampilan Ki-Bum sekarang. Pilihan pakaian yang begitu pas untuk pria tersebut.

Ki-Bum memandangnya lurus, tepat didepannya Yeon berdiri dengan pandangan terpatut kearah Ki-Bum. Pria itu masih diam menikmati sentuhan Yoen dikepalanya. Menyapu lembut surai-surai kehitaman milik Ki-Bum. Terasa hangat dan membangkitkan rasa rindu dalam dirinya ketika sesekali jemari milik Yeon menyentuh permukaan kulit lehernya.

Setiap sentuhan yang wanita itu berikan menciptakan efek tersendiri pada diri Ki-Bum. Membuatnya enggan menjauh dari wanita itu. Ingin ia selalu berada didekat wanita itu. Ki-Bum menarik tubuh Yeon mendekat padanya hingga tak menyisakan jarak sedikitpun diantara mereka. Mendekapnya erat. Menyesap aroma wanita yang selalu ia rindukan itu. Aroma yang akan ia tinggalkan selama beberapa hari nantinya.

“Kau tak marah?” Ki-Bum menggumam diperpotongan leher Yeon. “Kau tahu aku selalu meninggalkanmu. Sendirian. Aku tak ada saat kau kesepian. Kau tak marah padaku, Yeon? Sekarang aku disini. Apa kau tak ingin menahanku? Bersamamu?” lanjut Ki-Bum lagi.
Yeon tersenyum meskipun tak sampai kesudut mata wanita itu. ia tahu betul konsekuensi dari keputusan yang diambilnya. Disatu waktu ia sempat mengeluh dan terpikir untuk berucap lelah.

Namun ia sadar bahwa Ki-Bum juga merasakan hal sama dengannya. Lelah dan ingin berhenti. Jika ia menyerah dan berhenti, lalu bagaimana dengan pria itu? kehilangan sandarannya dan terpuruk makin dalam. Tidak, Yeon tidak akan membiarkan itu terjadi pada Ki-Bum. Melihat Ki-Bum tersiksa dengan kehidupannya sekarang membuat Yeon tak sampai hati pergi jauh dari pria itu.

“Aku tahu kau pria penuh tanggungjawab yang dulu dengan keyakinan penuh mengajakku untuk hidup bersamamu. Dan aku…aku sudah mengambil keputusanku sendiri dengan menerimanya tentu dengan konsekuensi yang harus kuterima. Aku akan selalu ada disini, Ki-Bum~ah. Aku akan selalu ada menyambut kepulanganmu seperti yang seharusnya dilakukan oleh seorang isteri.”

Ki-Bum menghela nafas penuh bahagia, lega dan berbagai perasaan yang bercampur dalam dirinya. Seperti kata orang, selalu ada tempatmu untuk kembali pulang dan menyambung hidupmu yaitu rumah. Rumah dengan seorang isteri yang akan selalu membentangkan senyumnya menyambut sang suami pulang. Dan pelukan rindu yang tak terlewatkan sebagai ungkapan selamat datang. Bukan teriakan kemarahan atau cacian. Karena dalam sebuah hubungan suami isteri, salah satu dari keduanya pasti akan menjadi sandaran bagi pasangannya. Dan hal itu pasti terjadi pada setiap pasangan.

-oOo-

Ki-Bum duduk menyandar dikursi ruang tunggu kelas VIP, tempat khusus bagi kalanga elit yang biasanya digunakan untuk menunggu jadwal penerbangan mereka. Hanya dirinya, manajer dan beberapa staff serta beberapa orang lain yang berada disana. Ki-Bum menurunkan sedikit topi yang dikenakannya sekedar menutupi wajahnya. Matanya sedikit tertutup namun masih terjaga. Ia masih dapat mendengar suara-suara orang yang berbicara.

Ia tak berniat ikut larut dalam perbincangan yang dilakukan oleh para staff dan manajernya. Ki-Bum justru teringat pada seseorang yang berada jauh disana. Ditempat yang ia rindukan. Seseorang yang ia tinggalkan sendirian. Seseorang yang tak ia ketahui kini tengah berbuat apa. Dan seseorang itulah yang kini membatnya merindu. Tak ada hal lain yang Ki-Bum pikirkan ketika ia berjauhan dari Yeon, wanita yang dirindukannya. Selain bagaimana kabar Yeon? Apa ia baik-baik saja? Apa yang dilakukannya saat Ki-Bum tak ada disisinya? Apakah wanita itu mengabaikan kesehatannya saat ia tak ada? Semua tentang Yeon yang selalu saja masuk dalam pikirannya.

Merindukan seseorang itu adalah hal yang sangat menyiksa. Layaknya yang dirasakan Ki-Bum sekarang.

“Hubungi dia, Ki-Bum~ah. Kau tidak akan bisa mengetahui kabarnya hanya dengan memikirkannya terus-terusan,” itu adalah suara Jun-Ki, manajer Ki-Bum. Pria yang lebih tua lima tahun darinya itu terlihat menampilkan senyumnya pada Ki-Bum.

“Tapi, Hyung…,” suara Ki-Bum terdengar tak yakin dengan usulan pria itu. Mengingat saat ini mereka berada ditempat umum walaupun sedikit mendapat privasi. Namun hal itu sama sekali tak menjamin. Terkadang telinga paparazzi bahkan lebih tajam dari manusia lain.

-oOo-

Draft for Ki-Bum (@sparyeulhye)

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s