What is Love

WHAT IS LOVE

Do Kyungsoo | Lee Cheonsa

Author: Sparyeulhye (@sparyeulhye)

***

36667489

“Oppa…”

“Berhenti mengikutiku!!!”

***

Annyeong, namaku Lee Cheonsa. Entahlah kenapa orang tuaku memberi nama sebaik itu. Padahal kenyataannya diriku tidak secantik bidadari yang dikenal sangat sangat cantik. Lupakan tentang makna namaku, itu tidaklah penting. Lebih baik kalian mengenalku secara langsung jangan menilaiku dari segi nama. Sekarang aku sudah menginjak kelas 2 Hight School. Aku bersekolah di Seoul of Performing Arts. Kenapa aku memilih jurusan seni? Mungkin hanya senilah yang paling menonjol dalam diriku. Aku benar-benar lemah kalau mengenai Sains dan ilmu hitung, tidak seperti Yunho Oppa yang pintarnya tidak bisa diragukan lagi.

Ah asal kalian tahu, saat ini aku tengah menyukai seseorang. Sudah begitu lama aku menguntitnya, menjadi salah satu penggemarnya. Namja itu sungguh berkilau dimataku. Gila? Tidak, hanya sedikit tidak waras. Namanya Do Kyungsoo, dia sunbaeku disekolah. Namja pintar namun memiliki sifat dingin dan menyebalkan. Menyebalkan karena Ia selalu mengabaikanku. Namja itu memiliki bibir yang eksotis yang membuatku woww saat melihatnya. Bisa membuatku hilang akal hanya dengan menatap bibir indahnya. Yeoja gila? Yeah, silahkan bilang begitu karena aku tidak akan marah lagi karena kenyataannya aku memang sudah dibuat menggila olehnya. Disaat remaja, harusnya yeoja sepertiku mencari pacar sebanyak mungkin. Tapi tidak denganku. Ne, bagiku untuk mendapatkan seorang Do Kyungsoo saja begitu sulit. Lagipula aku tidak tertarik dengan namja lain. Dengan Kyungsoo Oppa saja aku harus rela menunggu bertahun-tahun hanya untuk dekat dengannya, itupun tidak berhasil sama sekali.

***

“Aigoo, Cheonsa~ya ini masih terlalu pagi. Berhentilah tersenyum-senyum seperti itu, simpan kegilaanmu untuk siang nanti,”

“Yeora~ya, kau tahu tidak? Tadi pagi aku bertemu Kyungsoo Oppa di gerbang sekolah kita,” ucapku riang pada Yeora, teman sebangkuku.

Saat ini kami tengah berada di ruang kelas kami. Berbincang-bincang sebentar sebelum jam pelajaran dimulai.

Yeora menutup komik yang sedang dibacanya lalu menatapku dengan kening yang mengkerut, “Kau benar-benar bodoh, Cheonsa~ya. Tentu saja kalian bertemu, kau lupa Kyungsoo Oppa kan juga sekolah disini.” ucapannya ada benarnya juga. Kami kan satu sekolah tentu saja kemungkinan bertemu itu sangatlah besar.

“Tapi ini beda, dia tak mengusirku seperti biasanya. Atau berteriak-teriak padaku.”

“Mungkin saja Ia tak melihatmu. Atau Ia tak menganggapmu benar-benar ada.” Ucapnya tanpa perasaan membuatku mengembungkan pipiku kesal.

“Aish, kau ini tidak suka sekali melihat orang bahagia. Harusnya kau mendukung sahabatmu ini, kau tidak mau melihatku bahagia, eoh? Sebagai sahabat baikku seharusnya kau memberi dukungan padaku, Yeora~ya.” ucapku.

“Kau pikir aku tidak ingin melihatmu bahagia. Aku selalu ingin melihatmu bahagia, Cheonsa~ya. Tapi rasanya aku justru akan lebih bahagia jika melihat kau menghentikan kegilaanmu.” Sahutnya sambil menoyor kepalaku.

Aku mengusap hasil pukulannya tadi, kenapa setiap orang senang sekali menoyor kepalaku. Apa mereka tidak tahu itu berakibat pada kerja otakku. Huh, menyebalkan. Yeora sama saja dengan yang lain, Baekhyun Oppa, Yunho Oppa – sama-sama senang membuatku kesakitan. Dan pria bodoh itu malahan lebih parah lagi membuatku menjadi tidak waras. Apa yang lebih buruk dari itu? Tidak ada kupikir. Aku menjadi lupa yang mana logika dan yang mana sebuah pengharapan. Lupakan tentang teori-teori menyesatkan seperti itu.

Lupakan tentang Yeora yang selalu menasehatiku. Lupakan tentang Baekhyun Oppa yang selalu menggangguku. Lupakan tentang Yunho Oppa yang mengataiku bodoh, dia sungguh Oppa yang kejam pada dongsaeng semata wayangnya. Hanya fokus pada Do Kyungsoo si-pemilik bibir seksi yang selalu berkeliaran dikepalaku. Ahahah…dan sepertinya ketidawarasanku kambuh lagi. =__=”

***

“Yak!! Kau mau kemana ?” tanya Yeora.

“Lantai bawah,” dengan kalimat itu kuyakin Ia akan mengerti.

“Aigoo, kau ini. Sebentar lagi Yuuri Seosaengnim masuk, babo!! Kau ingin di jemur olehnya!!” tak kupedulikan larangannya dan terus berlari menuruni anak tangga satu persatu.

Kali ini harus berhasil. Aku tidak akan menitipkan hadiahku pada Sehun Oppa lagi. Aku harus menyerahkannya langsung pada Kyungsoo Oppa, memastikan hadiah spesialku ini berada ditangannya langsung.

Hwaiting!! Cheonsa~ya. Kau pasti bisa. Sedikit lagi, pintu kelasnya sudah terlihat dari arahku sekarang. Hanya tinggal beberapa langkah. Ya ampun aku benar-benar gugup sekarang. Apa Ia akan mengacuhkanku lagi? Aish, namja itu benar-benar. Apa salahnya menerima hadiah dari orang lain? Harusnya ia bersyukur bukannya menolak dengan tidak menerimanya.

“Lee Cheonsa!!!”

Seperti ada yang memanggil namaku. Ah, mungkin bukan Lee Cheonsa aku yang dimaksud. Di sekolah ini bukan hanya aku yang memiliki nama itu. Ya benar, bukan kau yang di panggil Cheonsa~ya. Aku mensugesti diriku sendiri. Ku teruskan langkahku yang tinggal beberapa langkah lagi, hingga kudengar seruan itu lagi.

“Lee Cheonsa!? Mau kemana kau??” aigoo suara itu lagi.

Tunggu, sepertinya aku mengenal pemilik suara itu, tapi siapa? Aku lupa. Omo, Yuuri Seosaengnim!!! Aku menepuk dahiku sendiri. Aku benar-benar menggali masalahku sendiri. Dengan takut-takut kubalikkan tubuhku. Menyembunyikan benda yang kupegang dibelakang tubuhku. Wanita ini adalah makhluk berbahaya disekolah ini. Sebisa mungkin setiap siswa disini menghindar darinya. Terlalu rumit jika harus berurusan dengannya.

“Namamu Lee Cheonsa, kan? Sedang apa berkeliaran disini, bukannya kelasmu di lantai atas?” kenapa Ia tahu namaku dari sekian banyak siswa disini?

“Ne Seosaengnim. Nama saya Lee Cheonsa, sa..saya mau ke..emm.,emm..” aku memutar bola mataku kesana kemari, mencari alasan yang tepat. Kemana ya, mana mungkin aku mengatakan mau ke kelasnya Kyungsoo Oppa. Bisa-bisa aku akan berakhir di koridor depan kelasku dengan tangan ditelinga.

Aish, Yuuri Seosaengnim terus menatapku curiga. Memangnya aku berpotensi menjadi anak pembolos yang hanya merugikan negara. Aku ini terlalu polos sampai mau melakukan itu.

Mataku menangkap sebuah tulisan diujung koridor ini. “Toilet!? Ne, saya mau ke toilet perut saya sakit, Seosaengnim.” Jawabku di tambah sedikit akting untuk lebih meyakinkan. Semoga Ia benar-benar percaya dengan ucapanku.

“Bukannya di lantai atas juga ada toilet?”

“I-itu,.macet ! Ahjusinya bilang hari ini baru diperbaiki,” kepolosanku ternoda.

“Ada-ada saja. Ya sudah, cepat sana. Jangan lama-lama!”

Huftt..

Dengan wajah lesu aku kembali keruang kelasku. Gara-gara Yuuri Seosaengnim, aku gagal memberikan hadiahku pada Kyungsoo Oppa. Tapi tenang, Cheonsa, masih ada hari lain. Kau harus semangat!

Kuketuk pintu dihadapanku, “Mianhae, Seosaengnim. Saya terlambat.” Dan itu karena kau lanjutku dalam hati. Dengan setengah hati aku membungkuk.

“Masuklah !” perintahnya.

“Yak!! Neo, kenapa bisa selamat darinya ? Dan kenapa wajahmu lesu begitu ?” Yeora berbisik pelan padaku begitu aku sudah duduk dikursiku.

Aku hanya mendengus dan menelengkupkan wajahku diatas meja. “Yuuri Seosaengnim menangkap basahku,”

“Jinjja!! Lalu ?” tanyanya tertarik dengan kesialan yang menimpaku.

“Molla, aku tak ingin mengingatnya lagi.”

***

“Kau bawa apa, Cheonsa~ya ?” Yeora menatapku heran.

“Ah ini, aku bawa bekal untuk Kyungsoo Oppa,” jawabku sumeringah seraya menunjukkan kotak bekalku padanya.

“Kau buat sendiri ?” tanyanya sangsi.

“Ne, tentu saja. Aku akan menyerahkannya istirahat nanti. Aigo, Kyungsoo Oppa benar-benar membuatku tergila-gila, walaupu Ia sering mengacuhkanku aku tidak akan menyerah. Demi cintaku padanya, nan jeongmal saranghaeyo, Oppa.” Ucapku sambil menerawang menatap atap kelas kami.

“..Kau tahu Yeora~ya, bibirnya itu sangatlah seksi. Aku berjanji pada diriku sendiri akan memberikan ciuman pertamaku padanya dengan suka rela.” Kudengar Yeora hanya mendengus dan kembali fokus pada komiknya.

“Yak!! Kau mendengarku tidak ?” tanyaku kesal.

“Cheonsa sayang, aku tidak tuli lagipula kau berbicara dekat sekali denganku,” ucapnya jengkel membuatku terkiki geli disampingnya.

“Yeora, kau mau kan menemaniku istirahat nanti ?” tanyaku sambil memberikan tatapan puppy eyes-ku padanya.

Ia menatapku curiga, “Kenapa harus aku ?”

“Ayolah, kau kan temanku. Mau ya? Ya? Aku tidak mau bertemu Baekhyun Oppa, dia itu menyebalkan.”

“Yang kau sebut menyebalkan itu Oppaku, Cheonsa~ya.”

“Ah, iya. Aku lupa, hehe.., mau ya ? Temani aku.” Bujukku lagi.

“Baiklah..”

Aigo, anak ini baik sekali. Kupeluk tubuhnya sebagai ucapan terima kasih.

“Lep..pass..S-sesak..bodoh!” Ia berontak.

***

Sekarang aku dan Yeora tengah menuju kantin untuk menyerahkan kotak bekalku pada Kyungsoo Oppa. Biasanya Ia kalau istirahat selalu dikantin bersama teman-temannya. Kuharap Ia mau menerima pemberianku kali ini.

“Cheonsa~ya ! Kemarilah !”

Aish, suara orang itu. Kutolehkan mataku ke sumber suara itu, tuh kan benar orang itu.

“Oh Tuhan. Kenapa harus bertemu dengannya lagi ?” sesalku dalam hati.

Dari sekian namja, kenapa harus Ia yang selalu mengangguku. Aku akan lebih senang kalau Kyungsoo Oppa yang melakukan itu. Menyebalkan.

“Cheonsa, ayo kesana !” ajak Yeora.

“Andwae, aku tidak mau.” Tolakku.

Yang benar saja, aku tidak sedang mencarinya. Apa kewajibanku menerima tawarannya?

“Hey, Baekhyun Oppa kan juga temannya. Tentu saja Ia juga ada disana. Ayo, biar kutemani! Lagipula aku sudah lapar,”

Aku memang mau memberikan bekalku pada Kyungsoo Oppa, tapi tidak dihadapan orang itu. Bisa-bisa salah sasaran.

“Aku tidak mau bertemu Oppamu itu. Ia menyebalkan.” Ucapku terus terang.

“Kkkk.,Kau ini. Kalau seperti ini terus, Baekhyun Oppa akan semakin senang mengganggumu.”

“Itu karena ulahnya yang selalu membuatku kesal.”

Dengan berat hati aku mengikuti Yeora. Aku hanya mengekor dibelakangnya. Mataku menangkap sosoknya. Duduk tenang disamping Chanyeol Oppa. Aigo, cara makannya benar-benar menarik. Dan bibirnya membuatku kembali teringat dengan janjiku yang akan memberikan ciuman pertamaku padanya.

Tanpa sadar hal itu membuatku tersenyum-senyum sendiri. Membayangkan aku memberikan ciumanku padanya. Astaga, otakku benar-benar yadong untuk ukuran anak SMA. Sepertinya aku harus menjaga jarak dengan Yoochun Oppa. Karena terlalu sering bertemu dengannya aku jadi tertular lagi.

“Chagi, kau bawa apa? Ah bekal untukku, ya?” telingaku mendengar kalimat yang sangat ingin membuatku muntah.

“Berhenti memanggilku chagi, kau bukan siapa-siapaku, Oppa!!” Kataku sewot membuat semua orang yang ada di meja ini tertawa kecuali namja yang kusukai itu. Sejak tadi kulihat Ia biasa saja.

“Aish, kau ini. Duduklah!” Baekhyun Oppa menarikku duduk disampingnya diapit oleh Sehun Oppa disamping kananku.

“Yak! Lepaskan aku!” teriakku tak terima.

“Apa yang kau bawa ?” tanyanya tanpa menghiraukan aku yang kesal setengah mati padanya.

“Yak!! Oppa!! Itu untuk Kyungsoo Oppa!!” ucapku ketika dengan lancangnya Ia merebut bekal yang kubawa dari tanganku.

“Kau tak lihat Ia sudah menghabiskan hampir separuh makanannya. Kyungsoo~ah kau mau makan ini?.” Tanyanya pada Kyungsoo Oppa membuatku mengalihkan pandanganku kearahnya. Ku lihat Ia juga sudah menghabiskan separuh makanannya.

Ia menoleh sebentar kemudian beralih ke makanannya lagi, “Ani, aku sudah selesai.”

“Kau dengar kan? Sudah untukku saja, aku masih lapar.” Ucap Baekhyun Oppa sambil membuka kotak bekal itu.

Aku tak bersemangat lagi, Kyungsoo Oppa tak begitu tertarik dengan ucapan-ucapanku tadi yang ingin memberikan bekalku padanya. Buktinya Ia tak melirik sama sekali justru asik dengan makanannya sekarang. Aku menunduk lemah. Susah payah aku membuatkannya kenapa justru berakhir di usus orang yang tidak kuharapkan.

“Cheonsa~ya, kau mau pesan apa ?” tanya Yeora. Aku tahu sebenarnya Ia hanya mencoba mengalihkan kekecewaanku saja.

Aku menggeleng, “Ani, aku tidak lapar.”

“Wae, chagi? Kau bisa sakit,” seru Baekhyun Oppa membuatku mendelik kearahnya.

“Kubilang jangan memanggilku seperti itu!! Orang lain akan mengira kau adalah namjachinguku!” ucapku marah, kudengar mereka kembali menertawaiku.

“Lagipula aku tak ingin Kyungsoo Oppa salah paham,” lanjutku pelan.

“Kalau kau mau kita bisa pacaran sekarang,” ungkapnya penuh percaya diri seraya merangkul bahuku.

“Byun Baekhyun!! Kau menyebalkan!!!” teriakku frustasi.

“Oppa, berhenti mengganggunya!” ucap Yeora.

Kenapa baru mengucapkannya sekarang, Oppamu ini menyebalkan, Yeora~ya. Jengkelku dalam hati.

***

Kulihat Ia tengah berjalan dikoridor sekolah sendirian tanpa teman-temannya. Tak perlu menunggu lama bagiku untuk menghampirinya. Tubuh tegapnya membuat dirinya terlihat lebih keren. Dengan penuh semangat aku menyusulnya.

“Kyungsoo Oppa, tunggu aku!!” Ia sama sekali tak merespon panggilanku.

Ugh, menyebalkan. Dengan terengah-engah aku berhasil menyusulnya. Kaki panjangnya membuatku kesusahan dalam menyejajarkan langkahku dengannya.

“Oppa, kau berjalan cepat sekali,” kataku.

Ia semakin mempercepat langkahnya meninggalkan aku yang ngos-ngosan dibelakangnya.

“Oppa,” rengekku lagi.

“Berhenti mengikutiku!!!” ucapnya datar namun tak kuhiraukan sama sekali.

Aku masih saja mengikutinya dan menyejajarkan langkahku dengannya.

“Apa kau tuli? Kubilang berhenti mengikutiku!!”

“Nde? Aku tidak mengikutimu, Oppa. Aku berjalan disampingmu.” ralatku sambil nyengir.

Kulihat Ia menautkan alisnya dan menatapku tajam. Ya ampun, tatapan matanya benar-benar menghipnotisku. Dengan bodohnya aku terus memandanginya kagum.

“Kau tak mengerti bahasa manusia? Apapun alasanmu jangan mengikutiku lagi. Menjauhlah dari hadapanku!!”

Kenapa kau berkilau sekali dimataku, Oppa? ah Ya Tuhan selamatkan jantungku.

“Oppa—” gumamku pelan, “—jantungku berdetak kencang sekali.” tanpa sadar aku mengucapkannya sambil dada kiriku. Kurasakan detak jantungku yang tak beraturan.

“Kau!! Tidak waras!!” Ia pergi meninggalkanku.

Sementara aku masih terpaku diam ditempat dengan masih memegang dadaku. Masih bisa kurasakan detak jantungku yang tak beraturan. Dengan tampang bodohku yang masih kupertahankan.

***

“Yeora~ya,” panggilku.

“Ehmm..” sahutnya. Kenapa Ia jadi pelit bicara sekarang?

“Bagaimana ?” tanyaku.

“Apanya yang bagaimana ?” ia balik bertanya heran. Saat ini Ia tengah berada dirumahku. Seperti biasa, kami sedang uring-uringan diranjangku.

Aku mengerutkan bibirku kesal. Apa ia lupa tentang apa yang kukatakan beberapa hari yang lalu padanya? Cih, haruskah aku mengulangnya lagi? Harusnya kemarin kucatat saja didahinya agar ia tidak lupa.

“Informasi tentang Kyungsoo Oppa, ceritakan padaku!” ucapku setengah memaksa.

“Aish, kau ini jika membicarakannya langsung berubah 180o. Kau mau aku cerita dari mana dulu?” Yoera memandangku sebal. Eo, benar-benar tak ingin membantuku apa. Sungguh keterlaluan kalau sampai kau tidak mau membantuku, Yeora.

“Terserah kau saja, apapun aku bersedia mendengarnya.” terangku lagi. Biar saja aku terlihat seperti seorang gadis yang terlalu menyebalkan atau apapun namanya.

“Emm…” Yeora terlihat sedang berpikir. Gadis ini, apa terlalu sulit untuk menceritakannya padaku. Benar-benar menguras kesabaranku. Membuatku ingin melemparinya dengan apa saja untuk membuatnya bicara sekarang juga.

Hampir saja aku menimpuknya dengan bantal yang ada ditanganku jika saja sempat melihatnya membuka mulut. “Kyungsoo Oppa itu tidak terlalu banyak bicara jika di bandingkan dengan Oppa-ku, setiap kali mereka berkumpul Ia terlihat banyak diam dan tertawa kecil jika sedang bercanda.” terangnya.

Eo, apa hanya itu? Apa tidak ada yang lebih spesifik? Seperti ia menyukai gadis seperti apa? Atau mungkin ia tengah menyukai seseorang hingga membuatnya menolakku?

“Apa hanya itu? Huh, pantas saja Ia terlihat seperti orang bisu jika disekolah. Aish, menyebalkan menyukai orang seperti itu.” cerocosku.

Yeora terkekeh kecil, “Kalau begitu berhenti menyukainya, Bodoh!!” Ia menjitak kepalaku.

“Anhi, itu tidak akan pernah terjadi sebelum aku berhasil menaklukkannya.” Ucapku penuh percaya diri bahkan aku melupakan Yeora yang telah menjitak kepalaku tadi. Yeora hanya mengeleng-gelengkan kepalanya tak habis pikir dengan kelakuan sahabatnya tersebut. Ah, mungkin memang seperti itulah rasanya cinta masa remaja. Tak terpatahkan meskipun berkali-kali kecewa, seperti halnya yang terjadi pada Lee Cheonsa dan cinta masa remajanya.

***

Advertisements

8 thoughts on “What is Love

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s