Happiness

Posted by Sparyeulhye

Happiness Cover

-oOo-

DON’T LIKE! DON’T READ!!

“Harum sekali. Kau masak apa, Hye?”

Kyu-Hyun muncul didapur dengan pakaian kerja yang masih melekat ditubuhnya. Pria itu tak perlu repot-repot mengganti pakaiannya lebih dulu saat mencium aroma wangi makanan ketika kakinya pertama kali sampai dirumahnya.

“Kyu-Hyun ah, kau mengagetkanku!” Ucap Jin-Hye kaget akan kehadiran Kyu-Hyun yang tiba-tiba.

Dengan cengiran yang lebar menghias wajahnya, ia mendekat kearah Jin-Hye. Berdiri disamping Jin-Hye, matanya menelisik pada makanan yang dimasak oleh isterinya itu.

“Kau terlalu asik memasak sampai tak mendengar aku memanggilmu.” kilah Kyu-Hyun cepat tak ingin Jin-Hye merecokinya lebih jauh.

“Oh, kedengarannya kau seperti mengatakan pendengaranku bermasalah. Benarkan?” ucap Jin-Hye sebal.

“Bukan begitu. Kau lagi masa PMS ya? Senang sekali marah-marah.” Kyu-Hyun menggerutu.

Kembali ia mendapat lirikan tajam dari wanita itu. Hah, wanita kan memang sering begitu kalau sedang dalam siklus bulanannya.

“Dimana Seok-Hyunnie? Aku tak melihatnya. Biasanya jika kau memasak ia selalu siap sedia didekatmu.” tanya Kyu-Hyun mencari putra kesayangannya itu. Siap sedia didekat Jin-Hye yang dimaksud oleh Kyu-Hyun adalah siap sedia merecoki dan mengacau didapur. Tipikal anak yang terlalu aktif.

Kyu-Hyun meraih gelas yang terletak diatas meja kemudian berjalan kearah kulkas mencari sesuatu yang segar untuk diminum. Jangan mengharapkan ada bir ataupun soda tersusun rapi dikulkas, karena sebelum masuk kulkaspun jika Jin-Hye melihatnya maka dengan sigap ia akan menyingkirkannya. Tak peduli Kyu-Hyun akan mengamuk padanya.

Selama mereka menikah, Jin-Hye tak lagi membiarkan minuman-minuman seperti ada dirumahnya. Ia pun tak pernah mengijinkan Kyu-Hyun minum-minum apalagi sampai dilihat anak mereka. Seok-Hyun, anak itu bertingkah kelewat aktif dan selalu ingin tahu. Akan sangat berbahaya jika sifat ingin tahu Seok-Hyun kambuh. Jika sampai Seok-Hyun mengecap barang sedikitpun maka Cho Kyu-Hyun lah pihak yang wajib diminta pertanggungjawaban.

Pernah sekali Kyu-Hyun nekat menyembunyikannya dari Jin-Hye, alhasil pria itu dilanda sengsara karena Jin-Hye mendiamkannya selama tiga hari. Dan masa itu adalah masa-masa yang sulit bagi seorang Cho Kyu-Hyun. Diabaikan. Walaupun begitu Jin-Hye masih melakukan tanggungjawabnya, melayani Cho Kyu-Hyun hanya dalam urusan perut. Selebihnya, jangan berharap!

“Kau tak bertemu dengannya di ruang tengah tadi? Aku memberikan PSP-mu padanya agar tak mengganggu pekerjaanku.” Ucap Jin-Hye masih sibuk dengan menu makanan yang ia buat.

“Mwo?” sahut Kyu-Hyun kaget. Beruntung pria itu tak tersedak minumannya sendiri saking kagetnya.

“Kau lupa bagaimana PSP-ku berakhir mengenaskan didalam mesin cuci minggu lalu, Hye~ya?”

Jin-Hye berdehem gugup. Walau bagaimanapun itu bukan sepenuhnya salah anaknya. Jin-Hye lah yang tak mengetahui ada PSP milik Kyu-Hyun ditumpukan baju kotor waktu itu.

“Kyu-Hyun-ah, apa kehilangan satu PSP membuatmu sangat terluka sampai-sampai kau kesal pada anakmu sendiri? Kau bahkan bisa membeli banyak PSP dengan gajihmu yang besar itu.” Ucap Jin-Hye dengan nada suaranya yang terdengar sedih. Padahal dalam hati merutuki suaminya itu. Sialan, kau Cho Kyu-Hyun! Pada anak sendiri saja masih bersikap pelit.

“Aniya! Bukan begitu! Kau tahu kan bagaimana…” ucapan Kyu-Hyun terpotong ketika melihat wajah isterinya yang berubah sendu dan hampir menitikkan air mata. “Yak! Kenapa kau menangis, Hye~ya?” tanyanya dengan nada yang lebih lembut.

Meletakkan kedua telapak tangannya dikedua sisi pipi isterinya. Ditatapnya wanita itu dengan penuh kelembutan. Mengusap sudut matanya yang mulai berair. Kenapa isterinya berubah menjadi cengeng begini?

“Kupikir kau belum benar-benar menyayangi anak kita, Kyu-Hyun-ah.”

Mereka memang menikah diusia muda dan diberi momongan tidak lama setelah pernikahan keduanya. Kyu-Hyun pada awalnya sempat tak setuju jika mereka punya anak saat itu karena ia menganggap dirinya belum siap memiliki bayi kecil. Namun, ketika diperlihatkan pada sesosok tubuh kecil yang berwarna kemerahan mampu meluluhkan hatinya. Ia menjadi sangat menyayangi bayi kecilnya itu dan terus saja berada didekat bayinya saat awal-awal kelahirannya. Walaupun Jin-Hye sempat melarangnya untuk menggendong bayinya karena takut Kyu-Hyun akan menjatuhkannya. Kyu-Hyun terus berada didekat bayi mungilnya itu.

Kyu-Hyun meraih tubuh itu kedalam pelukannya. Bertahun-tahun telah berlalu, ia menjadi sangat bersyukur dititipkan seorang bayi kecil yang kini telah beranjak besar. Membawa kebahagiaan kala ia lelah dengan pekerjaannya hanya dengan bercengkrama dengan anaknya.

“Jangan berpikir begitu. Aku bahkan sangat bersyukur Tuhan menitipkan Seok-Hyunnie pada kita.”

Dalam pelukan Kyu-Hyun, Jin-Hye tersenyum miring. Tanpa Kyu-Hyun katakan pun ia sudah tahu jika suaminya itu sangat menyayangi anak mereka. Terpancar jelas dari raut wajah Kyu-Hyun yang kerap tertawa bahagia jika bersama anaknya dan bagaimana pria itu terus saja membicarakan bayinya yang baru saja lahir pada orang-orang terdekatnya.

-oOo-

“Hahaha, tertangkap!” ucap Kyu-Hyun seraya menarik tubuh kecil milik anaknya kedalam dekapannya. Mengurung tubuh kecil milik Seok-Hyun.

Gelak tawa terdengar diantara ayah dan anak tersebut. Suatu keceriaan yang kerap mengisi hari-hari keluarga kecil itu. Tak pernah bosan Kyu-Hyun bersenda gurau dengan anaknya, buah hati yang menjadi bagian terpenting dalam hidupnya. Meskipun kesibukan kerap kali menyita waktunya, sebisa mungkin Kyu-Hyun akan meluangkan waktu untuk bercengkrama dengan isteri dan anaknya.

“Anio. Appa curang!” Seok-Hyun nampak meronta-ronta minta dilepaskan. Anak itu terkikik geli saat Kyu-Hyun menggelitik pinggangnya. Tubuh kecilnya bergerak-gerak kesana kemari tak ketinggalan tawa riang memenuhi ruangan tersebut.

“Nah, jagoan kecil. Sekarang ceritakan pada appa, apa saja yang Seok-Hyun lakukan selama appa tidak dirumah?” ujar Kyu-Hyun mendudukkan Seok-Hyun di sofa sementara ia tampak duduk disampingnya.

Anak itu tak lagi meronta-ronta justru kini duduk manis disisi Kyu-Hyun. Menjuntai-juntaikan kakinya yang menggantung dipinggir sofa. Senyum lebarnya yang menampilkan barisan gigi susu anak itu.

“Seok-Hyun bermain dengan Hyun-Bin dan Haru, Appa.”

Hyun-Bin, anak kecil yang tinggal disamping rumahnya. Anak itu umurnya sepantar dengannya sementara Haru adalah anjing milik tetangganya itu. Seok-Hyun kerap berkunjung kerumah Hyun-Bin dan bermain dengan anak itu.

“Oh ya?” Kyu-Hyun bertanya tampak tertarik.

Seok-Hyun mengangguk dan kembali bercerita penuh antusias. “Kami mengajak Haru bermain ditaman lalu bertemu dengan Seo-Ra. Seo-Ra tak mau bermain dengan kami, makanya Seok-Hyun dan Hyun-Bin menyuruh Haru meneriakinya. Lalu Seo-Ra menangis ketakutan dan berlari menjauh…” Wajah anak itu berubah sendu ketika menceritakan anak perempuan itu. “…Seo-Ra jatuh, kakinya terbentur batu dan berdarah, Appa. Seo-Ra tak berhenti menangis padahal kami sudah menyuruh Haru untuk minta maaf tapi ia tetap menangis.”

Kyu-Hyun tersenyum lembut, ia mengenal anak perempuan yang diceritakan anaknya, anak dari salah satu tetangganya. Kyu-Hyun terkadang merasa lucu bagaimana bisa ia memiliki tetangga yang anak-anak mereka seumuran.

“Lalu, apa Seok-Hyun dan Hyun-Bin juga meminta maaf pada Seo-Ra?”

Ia menggelengkan kepalanya lemah. Anak itu tampak memberengutkan wajahnya.

“Karena Seo-Ra tidak mau bermain dengan kami lagi dan memilih bersama teman-teman perempuannya yang genit itu, jadi aku dan Hyun-Bin tidak mau meminta maaf padanya.” Seok-Hyun menatap appa-nya dengan wajah yang masih sebal, mengingat bagaimana teman-teman Seo-Ra melarang anak perempuan itu bermain dengan dua lelaki kecil tersebut. Mereka bilang Seok-Hyun dan Hyun-Bin anak nakal karena senang menakuti anak yang lain melalui Haru, anjing milik Hyun-Bin.

“Memangnya kenapa Seok-Hyun dan Hyun-Bin hanya mau bermain dengan Seo-Ra padahal kan masih ada anak perempuan lain?” Tanya Kyu-Hyun.

“Hanya Seo-Ra yang mau jadi puteri dan mau diculik oleh monster.” Jawabnya jujur.

Raut geli tak bisa Kyu-Hyun sembunyikan ketika tahu bahwa anaknya kerap mengajak Seo-Ra bermain puteri dan raja.

“Oh, ya, memangnya siapa yang jadi monsternya? Seok-Hyun atau Hyun-Bin?”

“Tentu saja Seok-Hyun yang jadi monsternya karena bisa menakuti Seo-Ra agar menuruti kemauan Seok-Hyun. Lalu Hyun-Bin yang jadi pangerannya dan menolong puteri. Aku dan Hyun-Bin akan bermain pedang-pedangan. Itu sangat seru Appa.” Binar cerah tercipta diraut wajahnya.

Kyu-Hyun terkekeh mendengar ucapan anaknya. Pikiran anak kecil memang masih polos, bukan?

“Appa juga sering bermain monster-monsteran dengan Eomma…” Kyu-Hyun mulai bercerita.

“Jinjja?”

Kyu-Hyun mengangguk, “Ne. Appa sering menculik Eomma dan menyuruh Eomma melakukan apapun yang Appa minta sampai Appa puas.” Ucapan Kyu-Hyun merujuk pada hal yang kerap ia dan Jin-Hye lakukan ketika hanya ada ia dan isterinya itu. Apa otak anak kecil seperti Seok-Hyun cukup pintar memahami maksud ucapan Kyu-Hyun? Beruntung saat ini Jin-Hye tak ada di ruangan yang sama dengan mereka. Kalau tidak, Kyu-Hyun pasti akan mendapat pukulan dari isterinya karena meracuni pikiran anaknya sendiri.

“Huwaaa…itu keren Appa!” Seok-Hyun berkata takjub. “Tapi sekarang Seo-Ra tak mau bermain dengan kami lagi.” Wajahnya kembali sendu.

Kyu-Hyun mengelus lembut pucak kepala anaknya lalu berkata, “Arraseo. Besok pagi temui Seo-Ra minta maaf padanya, ajak juga Hyun-Bin, ne?” nasihat Kyu-Hyun.

“Tapi-” Seok-Hyun tampak hendak memprotes.

Namun Kyu-Hyun dengan cepat memotong protes anaknya. “Ingat pesan appa, Seok-Hyunnie. Anak lelaki tidak boleh menyakiti anak perempuan apalagi membuatnya menangis. Kalian harusnya menjaga Seo-Ra bukannya malah mengganggunya.”

Melihat keseriusan pada kalimat appa-nya membuat Seok-Hyun hanya bisa menundukkan kepalanya dan menurut. “Arraseo.”

-oOo-

“Makan malam sudah siap!” Jin-Hye berucap nyaring dari arah dapur.

“Kyu-Hyun-ah? Seok-Hyunnie?”

Tak ada sahutan dari keduanya. Jin-Hye menoleh kearah sudut ruang yang menghubungkan dapur dengan ruang tengah. Tak tampak kemunculan sosok appa dan anak tersebut.

“Aish, jinja! Memangnya apa yang mereka lakukan saat ini, sih? Sampai-sampai tak mendengar panggilanku.” Jin-Hye menggerutu sambil menuang air kedalam gelas.

Setelah yakin semua makanan telah terhidang rapi dimeja makan, ia beranjak untuk menemui suami dan anaknya. Di ruang tengah sama sekali tak ada penampakan keduanya membuat Jin-Hye berjalan kearah kamarnya.

Disana. Diatas ranjangnya ia melihat dua sosok tubuh yang tampak bertelungkup. Jin-Hye mengelengkan kepalanya heran. Apa tak ada hal lain yang bisa mereka lakukan selain bermain PSP? Ayah dan anak sama saja, ia mendengus dalam hati. Kapan anak mereka bisa berhenti memainkan benda itu kalau dirumahnya sendiri ia mempunyai seorang guru yang sangat ahli.
Terdengar suara Kyu-Hyun menyebut nama anaknya dengan nada sebal.

“Seok-Hyun-ah, appa bilang bukan seperti itu caranya mengalahkan rajanya. Kau harus kalahkan pengawalnya dulu baru bisa mengalahkan rajanya.” Ucapnya gemas sendiri.

Seok-Hyun nampak menjauhkan Kyu-Hyun darinya menggunakan tangan kecilnya. Anak itu juga terlihat kesal karena ulah Kyu-Hyun yang merecokinya. Tak suka jika Kyu-Hyun ikut campur dalam permainannya.

“Andwaeyo, appa. Aku kan ksatria hebat! Jadi bisa mengalahkan rajanya langsung!” sahutnya keras kepala.

“Mana ada yang seperti itu. Appa sudah mengalahkan rajanya beberapa kali, sini biar appa saja yang mengalahkannya lagi.” ucap Kyu-Hyun merayu anaknya.

Seok-Hyun berusaha menjauhkan PSP-nya dari Kyu-Hyun, memeluk PSP itu erat dengan kedua tangannya. “Andwae! Appa sana! Jauh-jauh!”

Keduanya sama sekali tak menyadari kehadiran Jin-Hye disana. Jin-Hye mendekat dengan tangan bersedekap didepan dada, memicingkan matanya pada keduanya.

Jin-Hye berdehem, “Ehemm… kalian sudah selesai?”

Kyu-Hyun melirik Jin-Hye sekilas kemudian kembali menatap pada anaknya. Sementara Seok-Hyun tak merespon pertanyaan Eommanya. Hal itu tentu saja membuat wanita satu-satunya ditempat itu naik darah. Dipanggil tidak mendengar, ditanya tidak ada satupun yang menyahut, jangan salahkan Jin-Hye jika ia meradang.

“Yak! Cho Kyu-Hyun, Cho Seok-Hyun, kalian ingin makan malam tidak?”

Seok-Hyun mematung, Kyu-Hyun meringis karena tahu jika Jin-Hye tengah marah saat ini. Seperti mereka tidak mengenal wanita itu saja, Jin-Hye paling tidak suka diabaikan, apalagi oleh dua lelaki kesayangannya itu.

Seok-Hyun menggeleng takut-takut, anak itu melirik Kyu-Hyun dari sudut matanya. Sementara orang yang ia lirik justru kini tengah tersenyum lebar pada wanita yang tengah bersedekap didepannya.

“Oh, Jin-Hye-ah, makan malamnya sudah siap, ya?”

Jin-Hye memutar matanya jengah akan sikap Kyu-Hyun lalu berucap ketus pada pria itu. “Kau pikir sudah berapa kali aku memanggil kalian, huh? Bukannya datang malah asik bermain dikasur.”

Kyu-Hyun terkikik bukannya malah meminta maaf, pria itu justru menertawainya.

“Arrayeo. Seok-Hyun-ah, kajja, kita makan malam!”

Kyu-Hyun meraih tubuh anaknya dan menggendongnya. Walaupun Seok-Hyun sempat protes padanya namun anak itu akhirnya terdiam patuh. Mereka berjalan beriringan menuju dapur. Dalam gendongan Kyu-Hyun, anak itu masih sempat memprotes jika ia tak mau makan kalau Eommanya kembali menghidangkan sayur dimeja makan.

“Appa, aku tidak mau makan sayur. Tidak enak.” Ia merengek manja dalam gendongan Kyu-Hyun.

“Waeyo? Sayur kan makanan sehat, Seok-Hyunnie. Bagus untukmu.” ucap Kyu-Hyun.

Seok-Hyun menggeleng. “Appa juga tak mau makan sayur, kan? Kenapa hanya aku yang harus makan sayur?” Rajuknya lagi.

Kyu-Hyun medudukkan Seok-Hyun disalah satu kursi. Terkekeh mendengar ucapan anaknya. Mengacak lembut rambut anaknya yang masih tampak cemberut itu.

“Karena kau masih kecil. Anak kecil harus banyak makan sayur supaya besar nanti kau tumbuh seperti Appa. Seok-Hyunnie mau seperti Appa, kan?”

Kyu-Hyun tersenyum miring kearah Jin-Hye yang sejak tadi memperhatikan interaksinya dengan Seok-Hyun. Wanita itu tampak mencibir tanpa suara pada Kyu-Hyun.

“Kalau begitu aku ingin cepat besar supaya tidak makan sayur lagi!”

-oOo-

“Seok-Hyun ah, ayo kita sikat gigi sebelum tidur?” ajak Kyu-Hyun dengan lembut.

Seok-Hyun masih asik bergulung-gulung dalam selimut tanpa peduli ajakan Kyu-Hyun. Anak itu bahkan terlihat asik bermain dengan selimut yang dipakaianya. Kyu-Hyun menggeleng-gelengkan kepalanya heran. Ck, sebenarnya apa yang dilakukan anaknya itu? Hah, kalau sudah seperti ini Kyu-Hyun akan semakin sulit membuat anaknya itu menurut.

Anak itu merengek pada orangtuanya meminta tidur bersama mereka. Kadang Kyu-Hyun kesal sendiri jika sifat manja anaknya itu kambuh, apalagi disaat ia dalam keadaan darurat, kalian mengerti kan, dimana seorang lelaki dewasa yang sedang berada pada kondisi hormon tingkat tinggi(?). Yang mengharuskannya hanya berduaan dengan isterinya bukannya bersama dengan bocah kecil yang selalu ingin tahu urusan orang dewasa.

Dengan sedikit memaksa Kyu-Hyun membawa anaknya itu masuk kekamar mandi ketika ia lihat tak ada tanda-tanda anak itu akan berjalan sendiri. Anak itu bahkan tampak berontak saat Kyu-Hyun mengangkat tubuhnya. Kentara jika tak ingin menuruti apa yang dikatakan appa-nya sendiri. Apa setiap anak kecil sulit untuk disuruh menggosok gigi pada malam hari? Pikir Kyu-Hyun.

“Kau tak ingin Eomma memarahimu karena nakal, bukan?” ia berbisik saat bersamaan dengan masuknya Jin-Hye kekamar.

Jin-Hye datang membawa bantal dan guling yang kerap Seok-Hyun gunakan. Beberapa saat yang lalu ia memang meminta Kyu-Hyun untuk membawa Seok-Hyun ke kamar mandi dan menyikat gigi sementara ia menyiapkan tempat tidur dan mengatur posisi bantal serta guling.

Mata wanita itu menatap lurus kearah Kyu-Hyun seolah berkata, ‘Melakukan itu saja kau tidak becus, Cho Kyu-Hyun. Appa macam apa kau itu!’. Bergegas Kyu-Hyun masuk kekamar mandi dengan tubuh Seok-Hyun yang bergerak kesana kemari. Entah mengapa anak itu menjadi sulit diatur.

“Tidak mau sikat gigi?” Tanya Kyu-Hyun saat sudah menurunkan tubuh Seok-Hyun.

Seok-Hyun diam tak menyahut. Kyu-hyun meraih sikat gigi lalu mengoleskan pasta gigi diatasnya. Memandang anaknya dengan tersenyum Kyu-Hyun memberikan sikat gigi yang sudah dipoles pasta itu pada Seok-Yeon.

“Kajja, berkumur-kumur dulu,” titahnya.

“Waeyo, Seok-Hyunnie? Kenapa tidak menuruti apa yang Appa perintahkan?” Kyu-Hyun bertanya seraya menyejajarkan tubuhnya dengan tubuh kecil milik Seok-Hyun. Apa ada hal yang mengganggu pikiran anaknya itu?

“Appa tidak sikat gigi?” anak itu balik bertanya dengan mimik wajahnya yang polos.

“Appa sudah. Sekarang giliran Seok-Hyunnie, ne?” bujuknya lagi.

“Seok-Hyunnie mau tidur dengan mulutnya yang penuh dengan monster mengerikan karena tidak mau sikat gigi?”

“Seok-Hyun tidak takut dengan monster.” Seok-Hyun menjawab polos.

Kyu-Hyun berdehem sekali. Salah besar ia memberikan perumpamaan monster pada anaknya itu. Bukankah anaknya itu gemar bermain monster dengan Hyun-Bin? Tentu monster yang Seok-Hyun mainkan bukanlah monster yang terlihat mengerikan. Anak itu masih kekeh pada pendiriannya.

“Jinjja? Kalau begitu, apa Seok-Hyunnie mau nanti gigi Seok-Hyunnie lepas satu persatu karena tidak mau menyikat gigi?”

“Gigi Hyun-Bin kemarin lepas tapi tak lama setelah itu giginya tumbuh lagi, Appa. Eomma Hyun-Bin bilang kalau anak kecil kehilangan giginya pasti akan tumbuh lagi.” Lagi-lagi anak itu menyahut ucapan Appa-nya.

Apa Seok-Hyun itu anak kecil yang pintar atau polos? Kyu-Hyun merutuki Eommanya Hyun-Bin yang telah mendoktrin anaknya dengan pemikiran seperti itu. Eh, tapi, bukankah itu memang benar? Jika anak kecil kehilangan giginya maka akan tumbuh lagi. Mungkin yang dimaksud Kyu-Hyun adalah kehilangan gigi yang tidak langsung keakarnya. Salahkan dirimu sendiri Kyu-Hyun-ah tidak menggunakan kalimat yang tepat.

Lagi pula Eommanya Hyun-Bin mengatakan hal itu untuk menenangkan anaknya yang terus menangis seharian karena kehilangan giginya. Padahal Hyun-Bin menangis bukan karena sedih kehilangan giginya tapi karena rasa sakit akibat giginya yang tanggal.

Kyu-Hyun kembali memutar otak membujuk anaknya agar mau menyikat gigi. Aish, bagaimana mungkin akan sesulit ini menyuruh anak kecil menyikat gigi. Kyu-Hyun baru tahu karena biasanya Jin-Hye lah yang melakukannya.

“Seok-Hyun kenal Shin-Dong Ahjjusi?” Seok-Hyun mengangguk. Siapa yang tak kenal pria gemuk itu. Bahkan Seo-Ra sering menangis jika melihat paman gemuk itu.

“Shin-Dong Ahjjusi sering sakit gigi karena malas menyikat gigi. Karena sakit gigi itulah membuat pipinya bengkak, tidak hanya pipinya yang bengkak, kau juga lihatkan tubuhnya yang membengkak, kan?” Seok-Hyun mengangguk lagi. “Itu karena pipinya sudah tidak bisa lebih membesar lagi makanya menyebar ke bagian tubuhnya yang lain.” Kyu-Hyun mulai mengarang bebas dengan menjatuhkan citra orang lain didepan anaknya. Biarlah, pikirnya. Toh, temannya itu juga tak mengetahuinya.

“Jinjjayo?!”

“Tentu saja. Appa sudah berteman lama dengannya. Dan lagi, memangnya Seok-Hyun mau Hyun-Bin dan Seo-Ra tak mau bermain denganmu lagi karena mereka takut melihat tubuhmu yang membengkak?”

Seok-Hyun menggelengkan kepalanya kekiri dan kekanan. “Andwaeyo.”

“Nah, Kajja! Sikat gigi sekarang sebelum Eommamu marah.” Anak itu mengangguk sekali.

Membohongi anak kecil itu ternyata tidak sulit sekaligus tidak mudah!

“Kenapa lama sekali?” Jin-Hye mencibir.

Kyu-Hyun mendelik tajam kearah isterinya. Sedetik kemudian, pria itu mengabaikan cibiran isterinya itu. Ia memilih merebahkan tubuhnya. Akhirnya ia bisa mengistirahatkan tubuhnya.

Disebelah Seok-Hyun, terdengar Jin-Hye mengikik geli. Pasti suaminya itu kesulitan menyuruh Seok-Hyun menyikat gigi. Padahal untuk Jin-Hye bukanlah hal yang sulit. Hanya dengan menyuruh anak itu membuka mutlut dan dirinya yang menyikatkan. Seok-Hyun memang tak bisa melakukannya sendiri. Pernah ia melakukannya sendiri namun hal itu justru berakhir dengan gusinya yang berdarah karena ia tak bisa menggerakkan sikat giginya dengan benar. Diakhir acara menyikat gigi, Jin-Hye selalu menasehati anaknya, kalau ia sudah besar nanti, ia pasti bisa melakukannya sendiri dengan benar.

-oOo-

“Appa?” Seok-Hyun berbaring miring menghadap Kyu-Hyun yang juga turut berbaring diranjang yang sama, bertumpu pada tangan kanannya. Menyusuri helaian rambut anaknya yang halus. Anak itu sama sekali belum menutup matanya padahal malam kian larut. Ia terus saja mengoceh didepan kedua orangtuanya.

“Ehmm?” ia bergumam sebagai jawaban.

“Kalau Seok-Hyun jadi anak baik, apakah appa akan memberikanku hadiah?” Mata anak itu menatap Kyu-Hyun penuh harap. Tidak biasanya anak itu bersikap manis dan itu menandakan ada satu hal yang benar-benar ia inginkan.

Disebelah, Jin-Hye tampak siap sedia dengan kalimat yang akan dikeluarkan oleh mulut suaminya.

“Ne, tentu saja. Anak baik selalu mendapat hadiah.”

“Jinja?” matanya berbinar senang.

“Ne.” Kyu-Hyun melirik pada isterinya.

“Kalau begitu Seok-Hyun mau hadiah teropong bintang sama seperti milik Alien Hyung.”

“Mwo?” dua suara menyahut bersamaan.

Jin-Hye yang masih duduk dan memperbaiki posisi selimut menatap dengan kening berkerut. Ck, dua lelakinya bahkan sama sekali tak mau repot-repot memikirkan untuk memakai selimut. Ia menatap Kyu-Hyun seolah bertanya siapa itu Alien Hyung? Apa dia salah satu teman Kyu-Hyun yang biasa ia kenalkan pada anaknya dengan sebutan yang berbeda-beda?

“Siapa Alien Hyung?” Tanya Kyu-Hyun.

“Appa tak tahu? Aku dan Hyun-Bin sering melihatnya bersama Krystal Nuna dirumahnya. Ia sangat keren Appa. Ia bisa menghilang dan menggerakkan benda hanya dengan jari tangannya…” Seok-Hyun bergaya seolah ia bisa menggerakkan benda disekitar dengan jemarinya yang kecil. “…Krystal Nuna juga bilang, aku dan Hyun-Bin bisa melihat Alien Hyung menggunakan teropong bintang itu. Aku ingin melihat Alien Hyung, Appa.”

Kenapa tetangga sebelahnya itu gemar sekali membual pada anak kecil?

“Arraseo, Seok-Hyun-ah. Besok Appa akan menanyakan pada Krystal Nuna dimana tempat membeli benda itu, ne? Seok-Hyun tidur yang nyenyak, ya?” itu adalah suara Jin-Hye. Kyu-Hyun melirik sengit kearahnya yang tidak ditanggapi oleh wanita itu.

“Jinjja appa akan membelikannya untukku?” matanya menatap Kyu-Hyun.

Kyu-Hyun menatap Jin-Hye. Wanita itu balas menatap seolah berkata iya kan saja.

“Ne, Seok-Hyun-ah…sekarang tidur yang nyenyak.” Sahutnya.

“Gomawoyo, Appa.” Ia mencium pipi Kyu-Hyun dan memeluknya.

“Manisnya anak Appa.” Kyu-Hyun balas memeluk anak itu dan mencium puncak kepalanya.

Manis kalau ada maunya, pikir Jin-Hye. Tipikal seorang Cho Kyu-Hyun.

Tidak butuh waktu lama untuk membuat Seok-Hyun larut dalam tidurnya. Anak itu kini tertidur dengan lelapnya. Bahkan kedua orangtuanya sama sekali belum tertidur seperti dirinya.

“Ck, kenapa semakin hari permintaan Seok-Hyunnie semakin aneh.” Jin-Hye menggerutu.

“Ehmm…bahkan tadi ia sempat meminta adik padaku.”

“Jinjja?” refleks ia menatap si pemilik suara.

Kyu-Hyun terkikik. “Pfffttt…Aku hanya bercanda, kau serius sekali.”

Jin-Hye mendesah lega. Bagaimanapun mengurus satu anak kecil dan satu anak yang terperangkap dalam tubuh orang dewasa sudah membuatnya sering memijit kepala pusing, apalagi kalau ditambah satu orang bayi kecil lagi.

“Huh, kenapa kau tampak lega begitu? Kau benar-benar berpikir Seok-Hyun minta adik, ya?” goda Kyu-Hyun.

“Aniyo!”

Kyu-Hyun kembali terkikik mendengarnya.

“Hye~ya…Seok-Hyun sudah tidur.” Kyu-Hyun kembali membuka pembicaraan.

“Lalu?” sahutnya tak tertarik.

“Antar kembali ke kamarnya. Lalu kita membuat adik untuknya.”

“Kau mau anakmu mengamuk karena tak menemukan kita disampingnya, huh!”

“Arraseo!”

“Hye~ya…”

“Apa lagi, Cho Kyu-Hyun?”

“Kemari!” Kyu-Hyun menepuk ruang kosong diantara tubuh Seok-Hyun dan isterinya.

“Waeyo?” Kening Jin-Hye mengkerut heran namun tetap menggerakkan tubuhnya.

“Lebih dekat lagi!”

“Aku ingin memelukmu dan Seok-Hyunnie biar lebih hangat.” Ucap Kyu-Hyun sambil tersenyum.

“Aish, Jinjja. Sudah tidur sana!”

=END=

 

 

Advertisements

16 thoughts on “Happiness

  1. Seneng bgt kyuhyun bener bener jadi bapa keluarga yg sayang Seok hyun dan jin hye
    Aigoo anaknya kyu rusuh bgt yaa gamau diem

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s