Trapped

Posted by Sparyeulhye

kyuhye04

Cho Kyu-Hyun | Park Jin-Hye

-oOo-

“Hidung mancung, bibir seksi, mata yang tajam, ck, apa tak ada satu pun dari dirinya yang bisa membuatnya terlihat jelek. Aku muak setiap kali melihat ketampanannya yang mengerikan itu…. Aish jinjja! Mataku bermasalah karenanya.” Jin-Hye bergumam pelan sambil mematut matanya pada potret pria dengan setelan jas rapi dilayar ponselnya.

Siapa lagi kalau bukan Cho Kyu-Hyun, pria iblisnya. Bagaimana bisa Ji-Kyung mengirim pesan berisi foto Kyu-Hyun padanya. Yang lebih menyebalkannya lagi, Ji-Kyung masih sempat mengirimi pesan yang berisikan kata-kata bagaimana temannya itu begitu menggilai seorang Cho Kyu-Hyun. Atasan ditempat temannya itu bekerja.

Jin-Hye memang mengetahui jika Kyu-Hyun merupakan atasan yang digilai para pekerja wanitanya, tak terkecuali Ji-Kyungtemannya sendiri. Menjadi CEO paling diidamkan para wanita untuk dijadikan teman kencan. Bukan berarti hal itu membuat Jin-Hye akan cemburu buta, itu sama sekali bukan sikapnya. Cho Kyu-Hyun akan besar kepala jika ia bersikap sebagai kekasih yang kebakaran api cemburu hanya karena pasangannya digilai banyak wanita.

Kekehan geli terdengar dari bibirnya. Ji-Kyung pasti mendapatkannya secara diam-diam melihat bagaimana hasil fotonya yang tak fokus. Temannya itu sangat cocok menjadi ketua fansclub perkumpulan wanita penggila Cho Kyu-Hyun dikantornya. Mengingat bagaimana antusiasnya gadis itu jika membicarakan Kyu-Hyun dengannya, tak mempermasalahkan jika yang ia bicarakan adalah kekasih temannya sendiri. Padahal Ji-Kyung telah memiliki kekasih namun masih kerap menatap Kyu-Hyun penuh damba. Gadis itu beralasan jika Kyu-Hyun adalah jenis pria tampan yang langka dan tak baik jika dilewatkan begitu saja.

Jin-Hye mendengus geli. Makan saja ketampanan Cho Kyu-Hyun sampai kenyang. Jika saja mereka tahu bagaimana tingkah menyebalkan pria itu sesungguhnya, Jin-Hye yakin mereka akan memuntahkan kembali kalimat pujian yang pernah mereka utarakan.

“Jangan menatap fotoku lebih dari satu menit atau kau tidak akan pernah bisa berpaling dariku.” Ucap sebuah suara dengan nada tenang.

Jin-Hye memalingkan tubuhnya menghadap kearah suara itu berasal dengan cepat. Secepat perubahan pada matanya yang kini membulat sempurna mendapati pria yang menjadi pusat perhatiannya beberaapa detik yang lalu berada tak jauh darinya. Rasa terkejut tak dapat ia sembunyikan dari wajahnya. Saat itu juga ia sadar bahwa dirinya dalam masalah besar.

Sejak kapan pria itu berada disana? Pertanyaan yang menghinggapinya saat ini. Apa ia mendengar kata-kata yang keluar dari mulut Jin-Hye? Jika ia maka saat ini juga Jin-Hye merasa kan aura tak nyaman menghinggapinya. Tentu saja ia merasa cemas akan kalimat yang keluar dari mulutnya bisa menjadi boomerang yang akan berpaling menyerangnya mengingat bagaimana sikap menyebalkan Kyu-Hyun.

Pria itu masih tak beranjak dari sana. Sudut bibir yang naik membentuk seringaian tercetak jelas dengan aura keangkuhan terpancar bersamanya. Kyu-Hyun berdiri tenang dibelakang sofa tempat Jin-Hye duduk. Menatap lurus pada wajah gadis itu yang memandangnya kaku. Terperangkap oleh pesona mematikan dari seringai kebanggaan pria itu yang siap menjerat mangsanya tanpa ampun.

“K-kau?? Cho Kyu-Hyun! Sejak kapan kau berdiri dibelakangku, hahh?!” Jin-Hye bertanya dengan gelagapan. Ia kembali menatap pada layar ponselnya yang masih menampilkan potret Kyu-Hyun disana. Segera ia menekan tombol kembali di ponselnya dan menyimpan rapat-rapat benda itu dalam genggaman tangannya.

Inilah yang Kyu-Hyun tunggu-tunggu. Wajah panik Jin-Hye menjadi hiburan tersendiri untuknya. Bagaimana gadis itu berusaha menutupinya dengan bersikap marah-marah padanya.

Kyu-Hyun masih bersikap tenang, tak terpengaruh aura peperangan yang Jin-Hye gencarkan. Jika ingin membuat lawannya tertekan, dalam hal ini Jin-Hye lah yang menjadi sasaran Kyu-Hyun, maka ia harus bersikap setenang mungkin sebelum memberikan serangan telaknya. Di waktu yang tepat, ia akan membuat gadis itu tak bisa berkutik, berkilah dari kenyataan yang tak bisa ia pungkiri.

“Sejak kau berkata hidung mancung, bibir seksi, mata yang tajam dengan nada yang memuja… Hahaha…ini mengejutkanku, Hye~ya. Ternyata kau sangat memujaku.”

Serangan pertama yang dilancarkan Kyu-Hyun membuat lawannya sama sekali tidak bisa berkutik. Berdiri kaku menghadap kearah pria itu, Jin-Hye membeku ditempat. Dugaannya benar, pria itu pasti sudah mendengarnya. Argh, matilah ia. Kyu-Hyun tak akan melepaskannya dengan mudah. Apalagi menyangkut nasib seseorang, nasib Jin-Hye yang terkenal dengan gengsinya yang teramat tinggi didepan pria itu. Menyangkal sama saja dengan menjilat ludah sendiri.

“Aku tidak-” ucapan Jin-Hye dipotong dengan cepat oleh Kyu-Hyun. Pria itu masih memasang wajah menyebalkannya didepan Jin-Hye, membuat gadis itu serasa ingin menyiramnya ditempat.

“Wae? Mau menyangkal? Apa perlu aku memutar ulang suaramu sekarang? Aku yakin kau tidak akan meragukan pendengaranku.” Sahutnya dengan nada mengejeknya yang khas.

“Kau merekamnya? Yak!! Kenapa kau merekamnya, Cho Kyu-Hyun?!” ia berteriak murka.

“HAHAHA! Kapan lagi aku bisa mendengar seorang Park Jin-Hye memuji ketampanan Cho Kyu-Hyun ini.” Tawa kemenangannya menggema membuat telinga Jin-Hye panas mendengarnya.

“Hapus sekarang sebelum aku merusak ponselmu!!” ucap Jin-Hye dengan nada mengancam.

Tubuhnya merengsek maju untuk meraih ponsel milik Kyu-Hyun. Tangannya tak sampai untuk meraih tubuh pria itu, selain karena sofa yang menghalanginya, Kyu-Hyun juga tampak mundur beberapa langkah. Kyu-Hyun bukanlah pria bodoh, ia menjauhkan ponselnya dari jangkauan gadis itu.

“Tidak akan kulakukan!” ia menyahut tegas.

Hal itu terdengar sangat menjengkelkan ditelinga Jin-Hye. Tak ayal membuat gadis itu ingin menerjang tubuh Kyu-Hyun segera. Namun, sebelum Jin-Hye berhasil meraih tubuhnya, ia sudah bersiap-siap untuk kabur dari hadapan gadis itu. Kyu-Hyun melangkah cepat menuju kamarnya dan menutup pintu sebelum Jin-Hye sempat mencegahnya. Gadis itu hanya tertinggal beberapa langkah dibelakangnya. Jin-Hye sampai didepan pintu kamar itu tepat ketika pintunya sudah menutup sempurna. Tak ada celah yang bisa membuatnya melihat apa yang terjadi didalam.

“Buka pintunya, Cho Kyu-Hyun! Atau kau ingin aku merusak pintu kamarmu!”

Suara gebrakan dipintu berbaur dengan suara teriakan Jin-Hye yang menggema ke penjuru ruangan memerintah dengan paksa agar Kyu-Hyun membukakan pintu untuknya. Keinginan gadis itu hanya terfokus pada benda yang Kyu-Hyun jauhkan darinya sejak tadi. Mendapatkan benda itu adalah prioritas utamanya saat ini, mengabaikan rasa sakit ditelapak tangannya akibat pukulan-pukulan keras yang ia berikan pada pintu kamar.

Ia tak akan menyerah jika hal itu yang Kyu-Hyun inginkan darinya. Jin-Hye tak akan membiarkan Kyu-Hyun bertingkah semena-mena padanya menggunakan rekaman itu.

“Cho Kyu-Hyun! Buka pintunya!!”

Ia terus menggebrak pintu. Berteriak memanggil nama pria tersebut. Telapak tangannya mulai memerah namun tak ada perubahan yang terjadi pada pintu didepannya. Ketika tangannya beralih pada gagang pintu dan mencoba untuk membukanya namun tak berhasil karena seseorang didalam sana masih kekeh mengunci pintu dengan rapat.

Sesungguhnya gadis itu hanyalah teramat malu. Mengingat bagaimana tingkah bodohnya dipergoki oleh seseorang yang tak benar-benar ia harapkan ada saat itu. Jika dalam keadaan normal, ia akan bersikap biasa saja sekalipun ia akan berperang mulut dengan pria itu sepanjang hari. Mempermasalahkan hal-hal yang kadang tidaklah penting seperti yang kerap mereka lakukan.

Namun, pada keadaan yang berbeda, yang saat ini terjadi padanya. Seiring dengan egonya yang menentang hebat akan pengakuan mencengangkan yang sempat keluar dari bibirnya sendiri. Sebuah pengakuan yang mempermalukannya didepan pria itu. Ia merasa teramat bodoh dan bertingkah layaknya anak kecil yang tak senang kepergok berbuat salah. Padahal kenyataannya apa yang ia utarakan bukanlah suatu kesalahan, namun sekali lagi egonya yang teramat tinggi membuatnya enggan untuk mengakuinya.

“Kyuuu…. Kau tidur? Yak! Cepat buka pintunya!!”

Suaranya mulai terdengar frustasi. Gebrakan tangannya mulai melemah. Setelah menguras habis tenaganya hanya untuk berteriak dan menggebrak pintu kayu tersebut. Namun kenyataan tak sesuai dengan harapan. Semakin kekeh ia mencoba membuat Kyu-Hyun membuka pintu kamarnya semakin keras hati pria itu enggan membukanya. Menit-menit pertama ia begitu bersemangat, namun ketika telah melewati menit kelimabelas, rasa frustasi bercampur amarah mulai menggerogotinya secara bersamaan.

Jin-Hye sama sekali tak mengetahui apa yang terjadi dan yang dilakukan pria iu didalam. Ia tak tahu jika Kyu-Hyun sama sekali tak menjauh dari daun pintu. Sejak pertama masuk dan mengunci pintu, ia hanya berdiam diri dedekat pintu itu. Ia dan Jin-Hye hanya berbatas pintu kayu yang menghalangi mereka. Pria itu duduk menyandar didekat pintu, sama sekali tak terganggu dengan getaran pintu akibat gebrakan yang dihasilkan oleh tenaga yang bercampur dengan amarah dari gadisnya.

Teriakan-teriakan yang memekik telinga terdengar olehnya. Bagaimana suara kesal gadis itu memanggil namanya dapat terdengar dengan jelas ditelinga Kyu-Hyun. Bukannya marah pintu kamarnya menjadi pelampiasan amukan Jin-Hye padanya, justru senyuman lah yang terus mengembang dibibirnya. Bukan senyum mengejek layaknya yang kerap ia tunjukkan pada gadisnya namun kali ini ada yang berbeda. Senyuman itu seperti menunjukkan bagaimana persaannya saat ini.

“Brengsek kau, Cho Kyu-Hyun!” gadis itu memaki kesal sekaligus memberikan tendangan pada pintu. “Aku akan membunuhmu saat kau keluar nanti! Dan aku janji tidak akan mengubur mayatmu dengan baik agar arwahmu tidak tenang!!”

Senyum dikulum tampak diwajah pria itu. Sebegitunyakah gadis itu kesal padanya? Satu hal yang Kyu-Hyun ketahui, jika gadisnya sama sekali tak terima dengan pengakuannya yang sempat terekam di ponsel miliknya. Keberuntungan bagi Kyu-Hyun bisa mendapatkan hal itu diwaktu yang tepat. Ketika gadis itu tak menyadari kehadirannya.

Kyu-Hyun mendekatkan telinganya kepintu ketika keadaan tiba-tiba menjadi hening. Tak terdengar lagi suara-suara yang semenjak tadi memenuhi pendengarannya. Apa gadis itu telah menjauh dari pintu? Atau itu hanyalah taktiknya saja agar membuat Kyu-Hyun penasaran lalu membuka pintu yang kemudian akan disambut dengan kehadiran Jin-Hye dihadapannya dengan senyuman kemenangan. Jika itu yang Jin-Hye rencanakan maka ia akan kalah telak dari pria itu. Kyu-Hyun tak akan mudah untuk dikelabui oleh gadis seperti dirinya. Ia masih memakai otak iblisnya yang pintar memanipulasi keadaan.

“Aku benar-benar akan membunuhmu, Cho Kyu-Hyun!!” gadis itu berteriak dengan lantang dari jarak yang cukup jauh.

Gadis itu benar-benar menyerah atau hanya melakukan genjatan senjata sebelum kembali memulai perang dengannya? Entah kenapa memikirkan itu Kyu-Hyun menjadi tertarik dengan kelanjutan perang yang ia mulai. Dengan pelan Kyu-Hyun membuka kunci pintu kamarnya dan perlahan mengintip dari celah pintu yang dibukanya sedikit. Dari tempatnya ia dapat melihat rambut gadis itu menyembul dari sandaran sofa dan tv yang menyala nampak tengah menampilkan salah satu iklan makanan.

Gadis itu telah menyerah dan Kyu-Hyun lah pemenangnya. Lihat. Betapa mudahnya membuat Jin-Hye kalah darinya. Jika Jin-Hye adalah gadis yang keras kepala maka Kyu-Hyun lebih keras kepala lagi darinya. Ia menutup kembali pintu itu tanpa menguncinya lagi. Menaruh ponselnya didalam laci yang ada di nakas sementara dirinya berbaring dan mengistirahatkan tubuhnya. Ia lelah, hari ini pekerjaan kantor cukup mencekik untuknya. Berdebat dengan Jin-Hye adalah cara yang ampuh untuk menghilangkan stress akibat pekerjaan yang menumpuk.

.

.

“Sial! Sial! Sial!” Jin-Hye meremas bantal sofa dengan kesal. Mengigit bibirnya berpikir apa yang harus ia lakukan selanjutnya jika tak ingin berakhir dengan rasa malu yang bisa membunuhnya. Berlebihan memang tapi dalam hal ini ia berurusan dengan Cho Kyu-Hyun pria iblis yang kejam tanpa belas kasihan. Bahkan pada kekasihnya sendiripun ia kerap berlaku kejam.

Jin-Hye meringis. Kenapa nasibnya berakhir seperti ini? Seperti berada diujung tanduk dengan Kyu-Hyun berdiri dihadapannya memasang wajah bahagianya dan bersiap-siap membuatnya terjatuh dalam pesakitan yang menyakitkan. Seharusnya ia tak membuka pesan yang dikirim Ji-Kyung padanya. Seharusnya ia tak bertingkah bodoh dengan memuja pria itu dikandangnya sendiri. Seharusnya ia tak berucap sembarangan kalau tak ingin ketimban sial.

Sekarang ia harus mencari cara mengalahkan Kyu-Hyun kalau tak ingin dirinya sendiri yang kalah dari pria itu. Ia meraih remote tv yang bertengger diatas meja. Ia tahu Kyu-Hyun sama keras kepalanya seperti dirinya. Jika ia berkonfrontasi sekarang itu sama sekali tak berguna. Maka ia memilih untuk berdiam diri sebentar sembari memikirkan langkah yang tepat nantinya.

Ia memindah-mindah channel tv dengan malas. Berulang kali beralih dari channel yang satu ke channel yang lain tetap saja ia merasa tak tertarik untuk menonton. Dua jam sudah berlalu semenjak Kyu-Hyun memilih mengurung diri dikamarnya. Selama itulah Jin-Hye dihantui pikiran-pikiran buruk.

“Aku benar-benar akan gila jika seperti ini!!” ia meringis frustasi. Ia tak tahu apa yang harus ia lakukan sekarang. Pikirannya sudah buntu, yang ada hanyalah bayangan-bayangan Kyu-Hyun yang akan membully-nya dengan kejam. Seperti menyuruhnya ini itu, atau parahnya Kyu-Hyun akan memperbudaknya. Itu tak akan terjadi, ia tak akan membiarkan Kyu-Hyun bertingkah seenaknya padanya.

Tapi, tetap saja Jin-Hye menggigiti bibirnya gusar. Sudah dua jam pria itu masih mendekam dikamarnya. Apa ia mati didalam? Pikir Jin-Hye. Mana mungkin. Logikanya menolak. Setan sepertinya tak mungkin mati dengan mudahnya.

Ia beranjak menuju kamar Kyu-Hyun. Perlahan namun pasti langkahnya terlihat lemah. Matahari sudah tenggelam sejak tadi. Itu artinya aka nada kemungkinan ia bermala ditempat Kyu-Hyun jika masih mempermasalahkan rekaman pembawa sial itu.

Ia mengetuk pintu itu lagi namun kali ini tak sebersemangat sebelumnya. Tak ada sahutan dari pria didalam sana. Setidaknya Kyu-Hyun mengucapkan sepatah dua patah kata yang menandakan ia tidak membusuk didalam. Atau pria itu teramat berkosentrasi dalam menyusun taktik bagaimana cara menyiksa Jin-Hye yang menyenangkan. Sial. Dengan gerakan pelan ia menyentuh gagang pintu dan mendorongnya kearah dalam.

Hey, tidak terkunci. Jin-Hye tercengang ditempatnya berdiri. Bukankah sebelumnya ia sudah mendorong sekaligus menendang pintu itu dengan gerakan seperti gajah yang berusaha meruntuhkan sebatang pohon, namun pintu itu tetap tak membuka. Terang saja, Kyu-Hyun menguncinya dari dalam. Tak berdiam diri, Jin-Hye segera masuk kekamar yang sudah tak asing dipenglihatannya itu.

Nampak Kyu-Hyun tengah berbaring nyaman diranjangnya. Jin-Hye merutuk dalam hati ketika menjumpai wajah tenang Kyu-Hyun yang tertidur lelap. Melupakan seorang gadis yang ia telantarkan begitu saja diapartemennya. Jangan berdiam diri, Park Jin-Hye! Cepat cari ponselnya lalu musnahkan rekaman itu! Ucap Jin-Hye dalam hati.

Ia menyeringai pada tubuh Kyu-Hyun yang terbaring diranjang seolah mengatakan ‘Kau akan kalah dariku, Kyu-Hyun-ah!’. Jin-Hye meraba kantong celana Kyu-Hyun dengan gerakan paling pelan yang bisa ia lakukan, gerakan seperti usapan lembut untuk menenangkan bayi yang sedang menangis. Tak ingin membuat pria itu terbangun, yang nantinya justru akan menggagalkan rencananya.

Jin-Hye meringis dan mengumpat kesal. Ia tak menemukan ponsel milik Kyu-Hyun dikantong celananya. Lalu dimana pria itu menyembunyikannya? Kemudian ia beralih pada meja yang ada didekat ranjang Kyu-Hyun. Pandangannya terfokus pada dua laci yang ada disana. Pelan-pelan ia menarik kearah luar salah satu laci tersebut lalu menyeringai senang mendapati sebuah benda berwarna putih yang ia kenal sebagai ponsel milik Kyu-Hyun.

“Yes! Aku mendapatkan ponselnya!” segera ia meraih benda itu dan membawanya kabur beranjak dari kamar Kyu-Hyun sebelum pria itu bangun dan menyerangnya.

“Yak! Aish! Sial! Dia memasang kode pada ponselnya. Eottokke? Aku harus mendapatkan rekaman itu dan menghapusnya. Atau ia akan membullyku setiap hari.” Jin-Hye bergumam. Tubuhnya bergerak-gerak cemas diatas sofa. “Kira-kira Kyu-Hyun menggunakan kombinasi huruf atau angka, ya? Aish, Jinjja! Merepotkan sekali!”

Ia mengingat kembali hal-hal yang mungkin ada sangkut pautnya dengan kode pada ponsel Kyu-Hyun. Seperti ada bola lampu yang menyala diatas kepalanya ketika ia mengingat sesuatu.

“Eung~ Bukankah biasanya orang akan menggunakan tanggal bersejarah mereka untuk membuat sebuah kode rahasia? Aha… Ia pasti menggunakan tanggal jadian kami!”

Jin-Hye menjentikkan jarinya dan memasukkan kode yang terpikir diotaknya tersebut. “Waeyo? Kenapa tidak bisa dibuka? … Eung~ Mungkin tanggal lahirnya…” kembali ia menggerakkan jemarinya di layar sentuh ponsel itu. “…Yak! Kenapa tidak bisa dibuka juga?! Sebenarnya kau memasang kode alien atau bagaimana, Cho Kyu-Hyun! Apa mungkin tanggal lahirku, ya? Tapi si bodoh itu tidak mungkin melakukannya!”

“Mwo? Mwo? Tak kusangka ia menggunakan tanggal lahirku sebagai kode passwordnya. Hahaha!! Sekarang aku tahu jika si Cho Kyu-Hyun sialan itu juga memujaku. Awas saja kau!”

Jin-Hye tertawa bahagia, akhirnya ia bisa membuka ponsel milik Kyu-Hyun. Membayangkan bagaimana wajah kekalahan Kyu-Hyun membuatnya tertawa semakin lebar. “Dimana ia menyimpan folder rekaman sialan itu?”

Sesaat kemudian Jin-Hye berkata dengan nada kesalnya yang meninggi. “Apa-apaan ini? Kenapa ia juga memasang kode di memori card-nya?! Dan lagi kenapa kode-nya berbeda dari yang pertama?!”

Jin-Hye menatap pintu kamar Kyu-Hyun dengan pandangan siap membakar habis. “Dasar Setan Sialan!!” umpatnya kesal.

.

.

“Sepertinya tidurmu nyenyak sekali, Tuan Cho Kyu-Hyun yang terhormat.” Kehadiran Kyu-Hyun diruangan itu disambut dengan ucapan sinis dari gadisnya. Terpatri jelas kekesalan yang memuncak dari mimik wajahnya. Siap untuk menerkam pria itu jika saja ia tak mengingat senjata utama yang ada digenggaman Kyu-Hyun yang dapat menekannya kapan saja.

Kyu-Hyun berjalan dengan langkah nan pelan namun seperti menyiratkan aura ketidaknyamanan untuk Jin-Hye. Senyum yang tercetak digaris bibir pria itu cukup membuktikan jika ia memang sengaja membuat gadis didepannya merasa tertekan.

“Hemm, nyenyak sekali. Saking nyenyaknya aku sempat bermimpi ada yang menggerayangi tubuhku.” Ucap Kyu-Hyun dengan nada biasa saja.

Selepas Kyu-Hyun berucap, Jin-Hye menatapnya dengan pandangan horror seraya menelan ludah gugup. Apa Kyu-Hyun tak benar-benar tertidur? Argh, bagaimana jika pria itu hanya berpura-pura tidur?

“Oh, kau sedang apa, Hye~ya?” Tanya Kyu-Hyun mengabaikan bagaimana mimik wajah gadisnya saat ini. Padahal dalam hati ia tertawa puas menyaksikan gadisnya itu gelagapan. Ia turut menaruh tubuhnya disofa yang sama dengan Jin-Hye, menyandarkan punggungnya dengan nyaman. Sekali lagi mengabaikan sikap siaga gadis disampingnya itu.

“Hanya menonton tv.” Jin-Hye kembali bersikap normal, seolah tak terjadi apapun dan menjawab seadanya. Sengaja ia tak menanggapi perkataan Kyu-Hyun. Yang benar saja, jika ia melakukannya sama saja ia membuka kedoknya didepan pria itu.

Kyu-Hyun memiringkan kepalanya, menoleh pada gadis yang kerap bertandang keapartemennya itu. “Kau bilang menonton tv, tapi kenapa justru menatapku seperti itu?” tanyanya dengan sedikit menaikkan sudut bibirnya, menyeringai.

“Kyu-Hyun ah?” Jin-Hye memanggil nama pria itu dengan nada hati-hati.

“Emmm?” sahut Kyu-Hyun. Pandangan pria itu lurus pada layar kaca namun pendengarannya terfokus pada gadis disampingnya.

“Jika aku bilang aku akan melakukan apapun untukmu asal kau mau menghapus rekaman sia- ….maksudku rekaman itu. Apa kau akan setuju untuk menghapusnya? Aku janji.”

Aha, apakah Kyu-Hyun tak salah dengar, ada nada kepasrahan dalam suara gadisnya? Dalam hati, pria itu bersorak senang. Jin-Hye tak bersikap seperti biasanya, tak ingin kalah darinya. Benar bukan dugaannya. Gadis itu sudah mengotak-atik ponselnya namun tak berhasil menemukan yang dicarinya. Kalau tidak, mana mungkin ia mau merendahkan dirinya didepan Kyu-Hyun seperti sekarang. Tentu saja Kyu-Hyun tidak bodoh. Ia teramat yakin Jin-Hye akan mengotak-atik ponselnya maka dari itu ia memberikan perlindungan berlapis diponsel-nya. Sengaja memberikan kode yang mudah ditebak gadis itu pada tahap pertama namun sulit pada tahap berikutnya. Seperti sengaja membuat gadis itu merasa menang kemudian menghempaskannya dengan telak kemudian.

“Apapun?” Kyu-Hyun sengaja memajukan wajahnya kehadapan Jin-Hye. Memberikan gadis itu tatapan mematikannya dan senyuman manis yang merupakan pertanda buruk bagi gadis didepannya.

“N-ne…apapun! Asal kau mau menghapusnya.” Jin-Hye membenarkan dengan nada yang ragu. Gadis itu telah mengumpankan dirinya sendiri.

“Eng~aku tidak tertarik dengan penawaranmu.” Tolak Kyu-Hyun dengan kejamnya.

Amarah Jin-Hye tersulut karenanya. “Waeyo? Kau hanya perlu menghapusnya dan kau akan dapatkan apa yang kau inginkan!”

“Aku tetap tidak mau. Lagipula, apa yang kuinginkan darimu adalah… Sesuatu. Yang. Tidak. Boleh. Kita. Lakukan. Sekarang.” Kyu-Hyun menyahut dengan nada sensual yang sengaja ia perlambat dimasing-masing kosa katanya.

“Yak! Dasar mesum! Kau menyebalkan! Aku yakin kau akan membullyku menggunakan rekaman sialan itu, kan?! Kau jahat, Cho Kyu-Hyun!”

Jin-Hye meraih bantal sofa dan bersiap menggunakannya untuk menimpuk wajah menyebalkan pria itu. Namun, Kyu-Hyun lebih sigap darinya dan berhasil menahan pergerakan gadis itu.

“Aku tidak bilang akan melakukan itu.” Ucap Kyu-Hyun membela diri.

“Aku yakin otak iblismu berpikir seperti itu. Aku benci padamu!” Jin-Hye menyahut sebal.

“Kau malu mengakuinya, ya?” Kyu-Hyun menggoda gadis itu. Menyenangkan sekali bisa melakukan hal itu. Apalagi jika gadis itu saat ini tak bisa berbuat banyak untuk melawannya.

“Pergi saja ke neraka!” sahut Jin-Hye tak tahan dengan godaan yang dilemparkan Kyu-Hyun padanya.

“Kkkk…Kau ini…Hal itu seharusnya bukan sesuatu yang akan membuatmu malu padaku. Aku justru senang mendengarnya meskipun kau mengatakannya tidak dihadapanku langsung. Kau tahu kenapa? Karena kau berbeda. Tidak seperti gadis lain yang terang-terangan memujaku. Kau punya caramu sendiri untukmu menunjukkannya. Dan aku menyukai caramu itu.” Kyu-Hyun mengacak-acak rambut Jin-Hye.

“Apa itu berarti kau akan menghapusnya?” gadis itu bertanya penuh harap.

“Kau masih mempermasalahkannya?”

“Tentu saja!” gadis itu menjawab dengan wajah yang ditekuk dalam.

“Aish, Jinjja! Apa salahnya sih kau memuji kekasihmu sendiri.” Ucap Kyu-Hyun kesal dengan tingkah Jin-Hye yang tertalu mengagungkan sikap tinggi hatinya.

“Kau akan menghapusnya, kan?” tanyanya lagi.

Kyu-Hyun tersenyum manis kearah Jin-Hye. Lalu kembali mendekatkan wajahnya pada wajah gadis itu hingga membuat gadis itu kikuk dibuatnya karena bibir mereka hanya berjarak beberapa senti. “Ne….kalau aku sudah bosan mendengarnya.” Ucap Kyu-Hyun tepat didekat bibir Jin-Hye.

“YAK!!!”

.

.

=END=

Draft singkat di note fb aku remake…maaf mengecewakan buat yg sengaja atau nggak sengaja baca wkwkwkwk….

Advertisements

6 thoughts on “Trapped

  1. aku juga bakal malu kalo kaya gt….euh….jengkel bungettt pasti
    feel BT ma jngkelnya q suka…kyunya beer2 usil

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s