Broken

Posted by Sparyeulhye

dosen cho

My happiness, sadness, smiles, and tears, they are all only for you…

The only one in the world that makes me shine…

SS501 – Let Me Be The One

~oOo~

“Kau bahagia?” Kyu-Hyun mengecup bibir lembut gadisnya. Terasa manis dan lembut secara bersamaan.

Gadis itu menutup matanya, merasakan kelembutan kecupan yang diberikan Kyu-Hyun padanya. Merasakan gelegar kelembutan menyentuh setiap sudut bibirnya.

“Kau tahu aku selalu bahagia denganmu, apapun itu kau adalah bentuk kebahagianku.” gadis itu berucap.

Jemari lentiknya menyusuri permukaan wajah Kyu-Hyun. Jemarinya yang lembut menyentuh kulit Kyu-Hyun. Kyu-Hyun memandang lurus kemanik mata gadisnya. Mencari-cari jawaban atas pertanyaan yang berputar dikepalanya. Berharap bisa menemukan jawaban yang diinginkannya.

“Sekalipun aku tidak akan bersamamu lagi, apa kau akan tetap bahagia?” tanya Kyu-Hyun dengan suara yang terdengar lemah.

Gadis dihadapannya menarik bibirnya sedikit membentuk senyuman kecil. Kyu-Hyun tahu arti senyum itu, seberapa hebatpun gadisnya menyembunyikannya darinya ia tetap tahu. Gadisnya hanya mencoba untuk meyakinkannya bahwa dirinya tidak dalam keadaan terluka. Namun, jika dilihat lebih dalam, dapat disimpulkan jika gadis itu tengah terluka.

Cukup lama gadis itu terdiam. Hanya memandangi wajah Kyu-Hyun dihadapannya dengan perasaan campur aduk. Entah apa yang menjadi pikirannya. Yang diinginkannya sekarang hanya pria didepannya, bukan orang lain. Hantaman tersendiri bagi hatinya mengetahui bahwa pria ini bukanlah orang yang akan mendampinginya dialtar suci.

“Aku mencintaimu,” bisik gadis itu pelan.

Gadis itu mendekatkan wajahnya kearah Kyu-Hyun, perlahan mulai merasakan kembali lembutnya bibir kekasihnya itu. Tidak pernah sekalipun terpikir olehnya kisah mereka akan berakhir menyedihkan.

“Katakan apa yang harus kulakukan untuk membuatmu tetap berada disisiku?” suara Kyu-Hyun terdengar memohon. Terselip rasa frustasi dan keputus asaan disana.

Kyu-Hyun merasakan jantungnya seperti diremas kuat menyaksikan gadisnya itu menitikkan air mata didepannya. Menyakitkan melihat dengan mata kepalanya sendiri air mata itu merembes dari mata indah gadisnya.

“Aku tidak tahu. Kau menanyakan sesuatu yang aku sendiri tak yakin akan jawabannya.” gadis itu menggelengkan kepalanya. “Tak ada yang bisa kulakukan, Kyu-Hyun. Maafkan aku,” gadis itu melemparkan pandangannya kearah lain. Terlalu sakit menyaksikan bagaimana ekspresi wajah Kyu-Hyun saat ini.

Kyu-Hyun mencengkram sisi lengan gadis itu. Cengkramannya yang terasa erat menunjukkan bagaimana frustasinya ia saat ini.

Gadis itu tak memedulikan cengkraman erat Kyu-Hyun dilengannya yang terasa sakit karena hatinya jauh lebih sakit lagi. Tak pernah ia merasa seperti ini, serasa hancur oleh perasaannya sendiri. Ia sadar bukan hanya dirinya yang terluka, pria dihadapannya juga terluka karenanya. Tapi kali ini ia harus lebih mementingkan keegoisannya, bukan untuk pria ini bukan untuk dirinya tapi untuk orang lain yang entah kenapa memiliki peran yang begitu banyak untuk hidupnya.

Kyu-Hyun menengadahkan kepalanya merasakan sesak dihatinya, kemudian menunduk. “Kau yakin dengan keputusanmu? Kau tahu jika kau katakan iya, maka kau tak perlu meneruskan semuanya.”

“Aku sudah tidak bisa mengubahnya lagi. Aku tahu bukan hanya aku yang akan terluka, tapi kau juga. Maka dari itu aku menginginkan ini berakhir dengan baik agar tak ada lagi yang mengganjal.”

“Kau ingat bagaimana kita memulainya? Jika harus berakhir seperti ini, bukan hanya aku yang akan terluka tapi kita.”

“Pulanglah! Aku merelakanmu,” kata Kyu-Hyun pelan terdengar seperti gumaman kecil.

Gadis itu mencengkram pergelangan tangan Kyu-Hyun. Pria itu menghentikan langkahnya saat merasakan jemari lembut yang bertengger dilengannya.

“Miliki aku hanya untuk malam ini, aku ingin bersamamu untuk terakhir kalinya,” gumamnya pelan.

Tubuh pria itu serasa membeku ditempat mendengar apa yang diucapkan gadis tersebut. Bawah sadarnya ingin memberontak bahwa yang didengarnya hanyalah bisikan kecil dari hatinya. Namun sekali lagi dilihatnya wajah yakin gadis itu, hatinya menjadi goyah seketika. Rasa ingin memilikinya kembali menguat. Seperti tak tertahankan lagi. Ingin rasanya ia mengurung gadis itu dalam persembunyiannya. Tak membiarkannya pergi menjauh dari sisinya. Mengukungnya dalam kuasanya.

“Hanya malam ini, aku bersamamu,” gadis itu memeluk Kyu-Hyun erat seolah tak ingin lepas darinya.

Kyu-Hyun diam tak bergeming. Benarkah apa yang dialaminya kini? Kenapa rasanya ia ingin berteriak marah? Ia ingin meneriakkan bahwa dirinya begitu mencintai gadis yang kini tengah memeluknya itu. Ia ingin berteriak bahwa dirinya akan melakukan apapun untuk membuat gadis itu tetap disisinya. Apapun, sekalipun hal itu menentang dunia. Namun kenyataan menghempaskannya begitu jauh kedasar pesakitan. Sadar akan kenyataan yang ada dihadapannya. Gadis itu, telah memutuskan dan dirinya hanya bisa memasrahkan hatinya.

Kyu-Hyun, maafkan aku…

Kelak dikehidupan akan datang, kuharap kita bisa bersama…

Kau tahu aku mencintaimu, sangat mencintaimu…

Maafkan aku…

Kyu-Hyun meremas kertas putih yang berada digenggamannya. Tangannya bergetar hebat menahan emosinya. Semua harapannya hancur. Semua mimpinya bersama gadis itu. Kenapa kisahnya begitu menyedihkan seperti ini?

~oOo~

Gadis itu begitu cantik dengan balutan gaun pengantin berwarna putih. Begitu pas dengan lekuk tubuhnya. “Kau sudah siap, sayang?” tanya seorang wanita yang terlihat mirip dengannya.

Gadis itu menunduk dalam. Hatinya sudah bertekad untuk membuang semua mimpi dan kenangannya. Dihadapannya kini sudah tercetak jelas takdir hidupnya. Bukan dengan pria itu. Bukan dengan pria yang dicintainya itu. Bukan dengan pria yang pernah memenuhi mimpi bahagianya.

Gadis itu melepaskan hatinya. Membuang jauh dan menguburnya dalam-dalam, semua perasaannya. Terakhir kalinya, ia hanya ingin mengucapkan maaf pada pria itu. Maaf karena telah menghancurkan kebahagiannya. Maaf telah mengecewakannya. Maaf karena tidak berusaha untuk berjuang bersamanya. Terlalu banyak permohonan maaf yang ingin ia sampaikan pada orang itu.

“Aku siap, Eomma.”

Setelah kata itu terucap, gadis itu tahu bahwa tak ada lagi kata untuk berhenti. Semua itu terus berlanjut hingga waktu yang ia sendiri tak tahu kapan akan berakhir.

~oOo~

Advertisements

14 thoughts on “Broken

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s