Baby~ Catch Me

Baby~ Catch Me by Sparyeulhye

Choi Min-Ho | Han Na-Eun

.

.

.

           Dalam waktu yang hampir bersamaan hidupnya menjadi berantakan. Kehilangan pekerjaan, terancam kehilangan tempat tinggal karena menunggak terlalu lama. Apa yang lebih menyedihkan daripada kehilangan tempat tinggal disaat tidak memiliki pekerjaan. Han Na-Eun, seorang gadis yang berusaha mencari peruntungan di ibukota besar seperti Seoul. Ia meninggalkan kota kecil tempat kelahirannya yang tenang demi membuktikan diri pada neneknya yang tidak bisa membiarkannya hidup seorang diri tanpa terus menggantungkan hidupnya pada neneknya yang sudah tua itu.

           Han Na-Eun bukan lagi gadis SMA yang bisa dengan mudah diatur oleh orang lain. Sebenarnya Ia hanya tak ingin menyusahkan neneknya yang sudah renta itu terus bekerja keras untuk dirinya. Na-Eun ingin neneknya itu cukup beristirahat dirumah dan biar dirinya yang mencari penghidupan untuk mereka. Awalnya neneknya menolak untuk melepaskan cucunya namun Na-Eun terus meyakinkannya bahwa dirinya akan baik-baik saja dan berpesan agar tidak mencemaskannya.

           Beberapa hari yang lalu gadis itu masih bisa tenang karena masih bekerja. Namun kali ini Ia harus memutar otaknya demi mendapatkan pekerjaan baru dalam waktu dekat sebelum sisa uang yang Ia miliki tak mampu memcukupi biaya hidupnya. Ia bersyukur sebelumnya Ia telah mengirimkan sedikit penghasilannya kepada neneknya hinga ia tak perlu menghawatirkan hal itu lagi. Yang harus dipikirkannya sekarang adalah dirinya dan pekerjaan baru yang harus didapatkannya.

           “Argh..” Na-Eun menggeram kesal. Dalam pikirannya mengutuk bos tempatnya bekerja dulu yang dengan mudahnya menyerah dan membiarkan perusahaannya diambil alih oleh orang lain. Jika saja bosnya mau bersabar dan tidak menjualnya secepat itu mungkin gadis itu sekarang masih berstatus sebagai pegawai di perusahaan itu.

.

.

.

           Berterimakasihlah pada Han Ga-In, sahabatnya yang baru saja melahirkan yang telah berbaik hati memberikan pekerjaan untuk Na-Eun. Walaupun hanya sebagai sekretaris pengganti sementara Ga-In cuti bersalin. Tapi Na-Eun beruntung, atasannya sekarang adalah seorang pria yang sering dibicarakan di tanah negerinya itu. Setelah melewati masa percobaan satu minggu, Na-Eun bersyukur masih dapat bertahan walaupun dengan hati yang kadang kesal karena kelakukan atasannya. Disinilah ia sekarang—bersama majikannya yang baru.

“Pertemuan dibatalkan,” ucap pria itu santai.

           Na-Eun menganga ditempatnya sekarang—tidak menyangka atasannya itu dengan gampangnya mengatakan pertemuan dengan kilen hari ini dibatalkan. Sementara mereka kini sudah berada ditempat yang dijanjikan.

           “Mwo?” suaranya terdengar kaget. “Bagaimana bisa kau baru mengatakannya sementara kita sudah berada disini?” Na-Eun terlihat kesal dengan ucapan atasannya.

           “Tenang saja, Na-Eun~ssi. Kehilangan satu kolega bisnis tidak akan membuat perusahaanku bangkrut—lagipula pertemuan kali ini tidak begitu menarik untukku.” Min-Ho mengedipkan matanya kearah Na-Eun, bermaksud menggoda gadis itu.

           Hanya seorang Choi Min-Ho yang bisa berucap seperti itu dengan santainya.

           “Nah, Na-Eun~ssi, duduklah! Dan habiskan hidangan dimeja sekarang! Bukankah sebelumnya kau bilang kau kelaparan,” suaranya terdengar lembut ditelinga Na-Eun.

           Min-Ho tersenyum miring lalu mendekat kearah Na-Eun. Gadis itu terperanjat ketika tangan Min-Ho terulur didepan wajahnya—refleks ia memundurkan sedikit kepalanya. Min-Ho terkekeh kecil menyaksikan reaksi gadis didepannya.

           “Akan lebih baik jika kau melepas kacamatamu. Kau terlihat lebih santai.” godanya seraya menarik lepas kacamata gadis tersebut lalu memasukkannya dalam saku setelan jas hitamnya.

           Kening Na-Eun mengkerut menatap Min-Ho, “Tunggu dulu. Kembalikan kacamata-ku, Min-Ho~ssi.” suara Na-Eun sedikit meninggi.

           “Orang bilang tidak boleh berbicara banyak dihadapan hidangan makanan apalagi bersuara tinggi.” Min-Ho menaruh telunjuknya didepan bibirnya memajukan sedikit kepalanya kearah Na-Eun. Gadis itu mengedip-ngedipkan matanya kaget.

           Dia bilang apa? Bukankah sejak tadi dirinyalah yang terlalu banyak mengeluarkan kata-kata—sementara Na-Eun hanya beberapa kali memprotesnya? Pria itu benar-benar pintar memutar-balikkan fakta. Sejak perdebatan dimulai ketika mereka baru menandangi rumah makan ini hanya Choi Min-Ho yang mendominasi pembicaraan sementara Na-Eun selalu terdesak dan pada akhirnya ia yang kalah.

           Min-Ho menggiring paksa tubuh Na-Eun kesalah satu kursi, kemudian ikut mendudukkan dirinya dikursi seberang gadis tersebut. Na-Eun sedikit berontak namun tetap menggerakkan tubuhnya menuruti perintah Min-Ho.

           “Makanlah! Kau tidak ingin pingsan ditempat ini ‘kan. Jika itu terjadi aku tidak masalah harus menggendongmu lagi.” Min-Ho menunjukkan seringainya.

           Na-Eun hampir saja melemparkan benda yang berada dalam genggaman tangannya jika tidak mengingat benda itu bisa melukai wajah tampan atasannya jika benar-benar mengenai wajah menyebalkan itu. Beberapa hari yang lalu, Na-Eun pingsan saat mereka melakukan pekerjaan diluar kantor dan menurut penuturan rekannya saat itu atasannya itulah yang meletakkan tubuhnya disofa. Mengingat itu—membuat Na-Eun mati-matian menahan malu dihadapan Choi Min-Ho yang menyebalkan.

.

.

.

           Tertawalah untuk dunia kelam yang dihadapi Na-Eun. Gadis itu kembali pada satus awalnya, seorang pengangguran. Takdir baik selalu menjauh darinya hingga ia berakhir dengan menyedihkan. Merenung dan merutuki nasib didalam bilik kamarnya yang terasa kelam. Hah, bahkan ia tak tahu alasan mengapa ia diberhentikan. Padahal masa cuti Ga-In sahabatnya yang memberinya pekerjaan masih tiga minggu lagi. Sekali lagi—dunia memang tak adil untuk seorang gadis yang bernama Han Na-Eun.

           Na-Eun meraih gagang pintu yang beberapa saat yang lalu diketuk dari arah luar. Kemudian menariknya kearah dalam dengan malas-malasan. Matanya menangkap sepasang sepatu hitam mengkilat. Pandangannya naik keatas dan menemukan atasan setelan jas rapi yang menempel erat ditubuh orang didepannya. Gadis itu berpikir orang kaya mana yang mau berkunjung ketempat seperti ini. Terlalu aneh jika mengingat kawasan tempat tinggalnya hanyalah tempat berkumpul sekumpulan orang-orang yang berada ditingkat kesejahteraan biasa—atau lebih tepatnya didominasi oleh sekumpulan manusia dengan tingkat kesejahteraan yang menyedihkan—dan Na-Eun adalah salah satunya.

           Ia mendongakkan kepalanya sedikit penasaran. Matanya membulat sempurna mendapati pemandangan wajah yang berada lebih tinggi darinya itu. Beberapa kali gadis itu mengerjap-ngerjapkan matanya—mungkin saja Ia masih terpengaruh bunga mimpinya—sehingga ia bisa menemukan pria yang pernah dikenalnya itu berdiri didepan pintu rumahnya. Namun nihil—bayangan wajah itu tetap sama ditambah dengan seringai yang bahkan masih Ia ingat dengan jelas.

         “Selamat pagi,” suara lembut yang membuat Na-Eun terbuai.

           Na-Eun tergagap merasakan suara lembut itu membelai indra pendengarannya. “Bagaimana bisa? K-kau? C-choi sajangnim..” gadis itu menggumamkan kalimat dengan tersendat-sendat—memandang pria itu kaget tak percaya.

           Ia tak pernah lupa pemilik wajah itu—bahkan suara lembutnya masih terus terngiang ditelinganya. Jangan bilang Ia lupa siapa itu Choi Min-Ho, pria kaya, tampan dan berkuasa. Baginya teramat mudah menemukan keberadaan Na-Eun dengan segala kemudahan akses yang dimilikinya. Pria itu tinggal memerintahkan bawahannya untuk melacak keberadaan Na-Eun dan sangat mudah baginya untuk melakukan hal itu.

           “Apa yang kau lakukan disini? Tak mungkin kau sedang melakukan kunjungan kerja disini, kan?” suaranya terdengar ketus menutupi kekagetannya.

           Min-Ho masih berdiri dengan tenangnya tak terpengaruh sambutan tak suka Na-Eun padanya. Baginya—bisa menemukan Han Na-Eun dalam pandangan matanya merupakan kebahagian yang Ia telah nantikan. Tak rugi Ia memerintahkan salah satu bawahan terbaiknya untuk mencari keberadaan Na-Eun yang menghilang begitu saja setelah tak lagi bekerja ditempatnya.

           “Aku ingin menemuimu.” Hanya beberapa kalimat namun sanggup membuat Na-Eun hamper terjengkang dari tempatnya berdiri. Tidak mengejutkan bukan—jika seorang Choi Min-Ho selalu berlaku sesukanya dimanapun Ia berada. Karena sikap seperti itulah yang kerap Tuhan anugerahkan pada manusia-manusia kaya di muka bumi ini, pikir gadis itu

           Na-Eun kembali dibuat kaget oleh kelakuan pria di depannya ini. Menemuiku? Halah, tak ada alasan yang mengharuskannya menemuiku, bukan? —Na-Eun mencela jengkel dalam hati.

           “Pulanglah ini bukan tempat yang layak untukmu,” Na-Eun berusaha untuk tak mengindahkan mantan atasannya itu.

           Kening Min-Ho mengkerut tak terima dengan pengusiran gadis didepannya. “Aku hanya ingin menemuimu dan aku tidak mempermasalahkan tempat kau tinggal ataupun lingkungan sekitarmu yang kau anggap sangat tidak cocok untukku.” Sanggahnya.

           Suaranya terdengar pelan—namun tajam menyiratkan ketidakpeduliannya akan hal lain selain bertemu dengan gadis tersebut. Pandangannya lurus, mengunci pada seorang Han Na-Eun—seolah mengikat sang gadis dalam ketajaman matanya, membuat gadis itu tenggelam dalam pandangannya.

           “Tuan Choi Min-Ho yang terhormat, aku sudah tidak ada urusan lagi denganmu. Jadi, menjauhlah dari pintu rumahku. Sekarang!” gadis itu memperingatkan dengan nada kasar—Na-Eun mulai kehabisan kesabarannya menghadapi pria itu.

           Min-Ho tersenyum miring, tidak mudah memang menaklukkan gadis keras kepala seperti Han Na-Eun. “Kau masih ada urusan denganku, Han Na-Eun!”

           “Oh ya. Seingatku, aku sudah berhenti bekerja diperusahaanmu dengan aturan yang sesuai bagi seorang pekerja yang merugikan tempatnya bekerja.”

        Yeah, itulah yang Na-Eun pikirkan ketika mengetahui dirinya diberhentikan dari pekerjaannya—yang membuatnya kembali menyandang status sebagai pengangguran. Mungkin saja Ia telah berbuat kesalahan sehingga membuat perusahaan tempatnya bekerja kehilangan tender besar dan merugi—mungkin saja—karena sebenarnya Ia juga tak begitu mengerti. Yang Ia tahu ia sudah tak bisa bekerja ditempat itu lagi. Sedikit banyak ia bersyukur karena tak lagi bekerja dengan seorang atasan super angkuh dan menyebalkan itu—namun rasa sedih dan menyesal masih mendominasinya perasaan gadis itu jika mengingat Ia yang kembali menjadi pengangguran menyedihkan.

           “Kau mencuri sesuatu dari tempatku.” Ucap Min-Ho singkat, kembali membuat gadis didepannya kaget.

           “Kau menuduhku mencuri surat-surat pentingmu?” Na-Eun mengepalkan tangannya menahan arahnya. “Kau keterlaluan! Kau pikir aku seorang pencuri! Kau geledah saja rumahku dan cari apa aku menyimpan apa yang kau curi darimu!” geramnya dengan nafas yang memburu.

           “Kau bahkan mencuri sesuatu yang lebih penting dari surat-surat berhargaku, Han Na-Eun.” Min-Ho mengabaikan kemarahan yang terpatri jelas diwajah gadis itu.

           “Kalau begitu kau borgol saja tanganku dan giring aku kekantor polisi jika aku benar-benar mencuri darimu!”

           “Ya. Kau benar. Harusnya aku memborgol tanganmu dan tidak membiarkanmu kabur dariku,”

           “Kau… Brengsek!! Apa maumu sebenarnya, huh?”

           “Kau sudah pasti tahu kan,” jawabnya disertai senyuman.

           Sungguh aneh. Masih bisa memasang wajah manisnya yang tersenyum didepan gadis yang kini mulai gelisah. Gadis itu beranggapan jika mantan atasannya itu mengalami gangguan jiwa sekarang. Menuduhnya mencuri—namun tetap tersenyum manis padanya. Bukankah harusnya ia memasang wajah segarang mungkin? Na-Eun berpikir jika terus berurusan dengan mantan atasan tidak warasnya ini—entah bagaimana nasibnya nanti.

           Dengan susah payah Na-Eun meneguk ludahnya yang bahkan mulai terasa sulit. Bersiap-siap untuk menutup pintu lalu menguncinya dengan rapat. Kemudian lari kekamarnya mengambil beberapa barang yang penting dan melarikan diri dari pintu belakang. Atau berlari kedapur mengambil sebuah pisau dan menancapkannya keperutnya sendiri. Bunuh diri. Itu bahkan lebih gila lagi. Ok, itulah rencana singkat yang sempat terpikir dikepalanya kini—sebelum sebuah tangan mencekalnya dengan kuat.

            “Tidak akan kulepaskan. Seenaknya saja kau mencuri hatiku dan dengan mudahnya kabur dariku. Kau pikir aku akan melepaskanmu?” Min-Ho mencekal pergelangan tangan Na-Eun membuat pergerakan gadis itu terhanti.

           “Susah sekali bicara denganmu. Aku ingin kau menjadi kekasihku!”

           Na-Eun membeku ditempatnya dengan mulut yang menganga. Jangan katakan seorang Choi Min-Ho mengalani benturan dikepalanya hingga menyebabkan ketidakberesan diotaknya atau pria itu mengalami tekanan berat selama bekerja dan terjadilah yang namanya depresi. Tapi kenapa harus Na-Eun yang menjadi pelampiasannya.

           “Aku serius. Jadilah kekasihku dan seorang Choi Min-Ho tak menerima penolakan.”

           Hey, itu terdengar memaksa. Sungguh tipikal seorang Choi Min-Ho.

           “K-kau…sakit jiwa!!”

.

.

.

END

.

.

.

Wkwkwkwk….Singkat, kecepatan dan gak jelas emang sudah biasa buat saya 😛

Advertisements

2 thoughts on “Baby~ Catch Me

  1. annyeong saya reader baru disini 😀 #gak_nannya
    agak kecepetan sih eon 😦 tapi aku suka sama karakter minho disini diam2 menghanyutkan

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s